Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
Benarkah Setiap Ucapan Adalah DO'A.? (Bachrizal Bakhtiar) Islam mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk senantiasa berperangai baik dan mulia. Karena yang demikian adalah cerminan diri kita sebagai seorang muslim dengan keimanan dan ketaqwaan yang sesungguhnya. Baik dalam urusan berfikir, berperilaku, maupun bertutur kata. Yang ingin saya tulis di sini yaitu tentang satu poin penting yang terasa ringan namun sering kali kita lakukan, yaitu bertutur kata. Sebab ada suatu keterangan yang mengatakan,“Setiap kata yang terucapkan, merupakan doa yang terlantunkan.” Keterangan seperti ini, sangat bisa diasumsikan mengapa timbul kekhawatiran akan terucapnya suatu perkataan yang sesungguhnya kita sendiri pun tidak menginginkannya. Ada kalanya di suatu masa tanpa kita sadari, setiap ucapan yang pern...