Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa
Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama.
Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda.
Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan.
Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan mengkritik.
Petugas SPPG tentu penting. Tapi ketika mereka diprioritaskan naik status negara, sementara guru senior tetap dipanggil “pahlawan tanpa tanda jasa”, muncul pertanyaan sederhana: apakah negara sedang membangun manusia, atau sekadar antrean makan?
Guru membentuk cara berpikir. Petugas makan mengatur jam makan. Yang satu menentukan masa depan bangsa, yang lain menentukan jadwal siang hari. Dan pemerintah tampaknya sudah memutuskan: yang penting hari ini kenyang, besok urusan nanti.
Ironisnya, guru diminta mencetak generasi unggul, berdaya saing global, dan berkarakter Pancasila. Tapi mereka sendiri diperlakukan seperti beban anggaran. Negara ingin hasil pendidikan kelas dunia, dengan kesejahteraan guru kelas darurat.
Mungkin ini strategi besar: rakyat kenyang akan lebih tenang, tidak banyak bertanya, dan mudah diarahkan. Sementara rakyat cerdas terlalu ribet—banyak berpikir, banyak kritik, dan sulit disuruh diam.
Jika suatu hari nanti negeri ini penuh orang yang kenyang tapi mudah dibohongi, rajin ikut upacara tapi malas berpikir, jangan salahkan guru. Salahkan negara yang lebih takut pada otak yang hidup daripada perut yang kosong.
Karena pada akhirnya, pemerintah sudah memilih: isi perut dibiayai negara, isi otak disuruh ikhlas.

Comments