Skip to main content

Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa

 Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...

Pariwisata Dompu: 1,8 Miliar!!

 Pariwisata Dompu: 1,8 Miliar

Dompu punya rencana. Bagian dari Misi 4: "Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal". Salah satu lokomotifnya: Pariwisata. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang memegang kemudi.

Strateginya sudah dirumuskan. Ada promosi. Ada penataan destinasi. Ada pembangunan sarana-prasarana. Juga pemberdayaan masyarakat. Dan pengembangan event. Semua kata-kata standar dalam rencana pariwisata.

Sekarang, mari kita lihat harganya. Berapa uang yang disiapkan Dompu di salah satu tahun (2027) untuk "menjual" tampangnya?

Total Pagu Indikatif untuk Urusan Pariwisata: Rp 1.827.000.000,00. Satu koma delapan miliar rupiah. Tidak besar. Tidak juga kecil sekali. Uang ini dibagi menjadi tiga program utama.

Program pertama, yang paling gemuk: "Peningkatan Daya Tarik Destinasi Pariwisata". Anggarannya: Rp 1.015.000.000. Lebih dari separuh total kue. Tujuannya: "Meningkatnya kunjungan wisata".

Indikatornya jelas: "Persentase Pertumbuhan Kunjungan Wisatawan lebih dari sehari". Mereka tidak mau wisatawan yang hanya lewat. Harus menginap. Targetnya di 2027: tumbuh 30,00%. Naik dari baseline 20,00%.

Program kedua: "Pemasaran Pariwisata". Anggarannya: Rp 507.500.000,00. Sekitar setengah miliar. Tujuannya: "Meningkatnya jangkauan pemasaran". Targetnya: 15,00% "Peningkatan Media Pemasaran Pariwisata".

Program ketiga: "Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif". Ini urusan manusianya. Anggarannya: Rp 304.500.000,00. Indikatornya: "Persentase Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang Aktif dan Tervalidasi". Targetnya di 2027: 100%.

Tapi tunggu dulu. Baseline di tahun 2024: 100%. Anda tidak salah baca. Target 100%. Baseline 100%. Artinya, Rp 304,5 Juta itu dianggarkan untuk menjaga agar target tetap 100%. Tidak ada kenaikan. Hanya mempertahankan.

Itu rincian programnya. Sekarang kita lihat target makronya. Target Kinerja Daerah. Apa yang Dompu harapkan dari uang Rp 1,8 Miliar itu?

Pertumbuhan Wisatawan Mancanegara: ditargetkan tumbuh 5%. Peningkatan Wisatawan Nusantara: ditargetkan meningkat 10%.

Ini target yang paling menarik: "Tingkat Hunian Akomodasi (Hotel): Ditargetkan mencapai 15%." Lima belas persen. Itu artinya, dari 100 kamar yang tersedia di Dompu, targetnya adalah 15 kamar terisi. 85 kamar dibiarkan kosong. Target yang sangat... rendah.

Lalu, target yang sesungguhnya. Ujung-ujungnya: uang. Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap PDRB: ditargetkan 3,9%. Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap PAD: ditargetkan 3,85%.

Uang Rp 1,8 Miliar digelontorkan. Dengan target 15% kamar hotel terisi. Dan harapan PAD naik 3,85%. Begitulah hitung-hitungan di atas kertas.

Comments

Popular posts from this blog

Kertas Anggaran pendidikan, kepemudaan dan olahraga Dompu 2026

 Kertas Anggaran Pendidikan dan Olahraga 2026 Mari kita lihat angka. Selalu menarik melihat angka-angka dalam dokumen rencana. Kali ini kita bedah Rancangan Anggaran Dompu untuk tahun 2026. Fokusnya: Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Di atas kertas, angkanya gemuk. Dinas ini mendapat jatah Rp 407 Miliar. Tepatnya Rp 407.067.841.174. Berapa itu dari total kue APBD? Total belanja daerah Dompu tahun 2026 diproyeksikan Rp 1.476.721.048.949. Kalau dihitung-hitung, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menyedot 27,57 persen. Lebih dari seperempat kue APBD. Angka yang besar. Sangat besar. Kesan pertama: Dompu sangat memprioritaskan pendidikan. Sesuai mandat konstitusi. Tapi, mari kita lihat isi di dalam Rp 407 Miliar itu. Anggaran dinas ini dibagi dua urusan besar: Pendidikan, lalu Kepemudaan dan Olahraga. Urusan Pendidikan dapat porsi terbesar. Tapi di dalamnya, ada satu program yang menyedot hampir semuanya. Namanya: "Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah". Besarnya: Rp ...

Berutang Demi Air, Bertaruh pada Cahaya.!!

Berutang Demi Air, Bertaruh pada Cahaya.  Utang..!! Satu kata. Lima huruf. Bagi sebagian orang, ini aib. Bagi Bupati Dompu, ini jalan keluar. Dia memilih jalan ini. Menggadaikan masa depan --dalam hitungan tenor pendek-- demi air yang menetes.  Rencananya sederhana. Meminjam uang. Bukan ke rentenir. Tapi ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Alasannya klise tapi genting: PDAM sedang "Sakit". Lampu jalan mati. Bupati tidak sedang bermain dadu. Dia sedang bertaruh reputas. Ini langkah politik yang berisiko. Bunuh diri? Mungkin. Heroik? Bisa jadi. Tergantung airnya mengalir atau tidak. Mari bicara angka Rp70 Miliar. Itu angka tentatif yang diajukan. Tidak kecil untuk ukuran APBD Dompu yang harus dibagi-bagi. Skemanya pinjaman daerah. Krediturnya PT SMI --BUMN di bawah Kemenkeu yang memang "bank-nya" infrastruktur pemerintah. Realisasinya direncanakan tahun 2026. Kondisi objektifnya memang memprihatinkan. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) punya rapor un...