Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
RAKYAT MUAK, RAKYAT MELAWAN. Oleh : Bachrizal Bakhtiar D. Indonesia seolah sedang dipaksa masuk ke dalam babak baru yang penuh ironi. Negeri yang dibangun atas darah dan keringat rakyat kecil, kini justru dikuasai oleh segelintir elit yang sibuk memperkaya diri. Rakyat setiap hari bekerja keras mencari nafkah, namun hasil jerih payahnya dirampas lewat pajak, aturan, dan kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan politik serta keuntungan kelompok tertentu. Kemarahan rakyat bukan tanpa alasan. Di satu sisi, pemerintah menuntut rakyat untuk patuh, membayar pajak, menerima kenaikan harga kebutuhan pokok, dan menanggung beban krisis ekonomi. Namun di sisi lain, elit politik dan pejabat negara tak segan-segan menaikkan gaji, tunjangan, serta mengobral fasilitas mewah atas nama jabatan. Ironi semakin nyata: rakyat disuruh berhemat, sementara para elit berpesta pora, bahkan berjoget ria ditengah penderitaan rakyat. Fenomena ini melahirkan jurang ketidakadilan yang kian menganga. Rakyat mer...