Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
Hari Ini, Esok, Apakah akan Berharap Perubahan atau Berubah S emua orang di dunia ini sepakat bahwa perubahan itu bukan hanya perlu tapi penting. Banyak orang teriak untuk perubahan tapi sayang, tidak sedikit orang memandang perubahan hanya jargon, hanya spirit. Padahal, mereka tidak melakukan apapun. Di pikiran mereka, perubahan hanya harapan. Berharap ada perubahan atau berharap berubah. Berharap kotanya berubah jadi kota yang lebih baik. Berharap masyarakatnya makmur. Berharap pemimpinnya si A atau si B. Berharap akan mendapat ini dan itu. Berharap akan mendapat posisi yang uenak nantinya. Berharap dirinya jadi begini, jadi begitu. Berubah, lagi-lagi cuma harapan. Hari ini atau Besok Bisa jadi hanya orang pintar yang paling kencang berteriak pentingnya perubahan. Tapi sungguh, mereka sebenarnya tidak melakukan apapun kecuali rutinitas. Berubah hanya harapan, hanya teriakan. Memang benar. Berapa banyak orang berteriak ingin mengubah segala sesuatu yang...