Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
Tak Ada Totalitas tanpa Loyalitas
Pernahkah merasakan di suatu saat, Anda memberikan seluruh kemampuan Anda dalam menyelesaikan pekerjaan Anda tetapi yang didapatkan oleh Anda adalah dikucilkan, dibiarkan bahkan tidak dipedulikan walaupun hanya ucapan terima sekali padahal jika tidak dilakukan oleh Anda maka akan "kacau balau" semuanya. Saya rasa, hampir semua orang pernah merasakan hal tersebut. Hanya mungkin kadar dan frekuensinya berbeda - beda. Ada yang hanya sekali, ada yang kadang - kadang dan ada juga yang sangat sering mendapatkan hal tersebut.
Sebelum lebih jauh membahas terkait totalitas dan loyalitas, totalitas merupakan suatu tuntutan dalam hal apa saja, totalitas dalam berpikir, berbicara dan juga totalitas dalam berbuat. Ketika seseorang sedang berpikir maka yang dibutuhkan adalah totalitas dalam berpikir, begitu juga dalam berbicara dan bertindak. Bekerja tidak luput dari tuntutan totalitas dalam melakukan suatu pekerjaan.
Lalu, apa itu totalitas?
Menurut saya, totalitas adalah sikap bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Jika dikaitkan dalam lingkungan organisasi dengan sikap totalitas seseorang organisator akan berusaha menyelesaikan pekerjaan atau tugas yang telah diberikan dengan sebaik dan semaksimal mungkin.
Totalitas dapat diwujudkan dengan cara berikut:
Cinta adalah totalitas dalam pekerjaan yang ditunjukkan dengan seberapa besar ketertarikan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Dengan kata lain, bekerja dengan penuh cinta bukan terpaksa itu mungkin salah satu totalitas dalam hal ini. Jika dikaji ulang totalitas itu bukan hal mudah untuk diwujudkan, membutuhkan usaha lebih untuk mewujudkannya.
Kontinuitas adalah rasa cinta terhadap suatu hal yang akan membuat kita untuk terus melakukannya. Ketertarikan terhadap suatu hal bukan hanya dilakukan untuk jangka waktu tertentu tanpa ada kelanjutannya. Akhirnya terbentuklah suatu kebiasaan yang dilakukan berulang kali atau yang disebut dengan kontinuitas. Kontinuitas sangat dibutuhkan untuk mencapai totalitas dalam suatu hal. Tentunya untuk melakukan suatu pekerjaan, akan sangat menyenangkan jika melakukan hal yang kita senangi. Satu hal yang diinginkan manusia dalam hidup adalah kesenangan. Kecenderungan inilah yang akan menjadikan seseorang untuk terus melakukan sesuatu sesuai dengan kesenangannya.
Lalu apa itu loyalitas?
Loyalitas berasal dari kata loyal yang artinya adalah setia. Kata loyalitas ini sering ditemui dalam lingkungan organisasi. Loyalitas merupakan suatu hal penting untuk dimiliki seorang organisator, dan bahkan untuk setiap orang. Jika loyalitas sudah diimplementasikan oleh seorang organisator maka keberlangsungan dari organisasinya akan bisa dijamin. Loyalitas adalah ketika dua hal diatas dapat dipadukan dengan baik akan lahir loyalitas sebagai jalan untuk menuju totalitas. Tidak akan ada totalitas tanpa loyalitas. Besarnya rasa cinta dan kontuinitas yang ditunjukkan akan menunjukkan tingkat loyalitas seseorang terhadap suatu hal.
Dalam realita ternyata banyak sekali totalitas dan loyalitas yang telah dilakukan mempunyai ending yang tidak mengenakkan (walaupun ada juga yang endingnya menyenangkan). Banyak yang memandang sebelah mata dan meremehkan. Jangankan reward, sekedar ucapan terima kasih saja kadang tidak terucap. Akhirnya, karena mendapatkan perlakuan dan sikap seperti itu, pada pekerjaan berikutnya kadang - kadang muncul perasaan untuk mengerjakan pekerjaannya seperlunya saja. Hasilnya, pekerjaan pun tidak maksimal dan tidak seperti yang diharapkan.
Comments