Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
Kehidupan "Seperti inikah dirimu.?" S emakin kita beranjak dewasa, melewati masa lalu dan pengalaman berharga yang kita dapatkan, semua itu membuat kita sadar; bahwa “Inilah kehidupan!” Apa yang coba ingin saya sampaikan adalah ada begitu banyak kesempatan, termasuk di masa kecil, yang telah kita tunda. Kita membuat banyak alasan; ketika saya besar… ketika masalah ini selesai… ketika saya lulus sekolah… ketika orang tua membeli rumah… ketika pindah ke lingkungan baru… ketika saya bisa mendapatkan uang sendiri… ketika saya punya waktu sendiri…dan ini merupakan bagian dari yang pernah saya rasakan. Tapi sebenarnya tidak ada kata akhir untuk s emua alasan yang terus-menerus kita katakan sepanjang waktu, karena jelas tidak ada pentingnya untuk menghubungkan alasan dan keluhan yang bisa kita buat. Sebagian besar dari kita telah melalui tahapan yang sama dalam kehidupan dan telah menjustifikasi hari-hari buruk dengan mengatakan bahwa kita akan benar-benar hidup sepenuhnya ketika...