Skip to main content

Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa

 Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...

Kehidupan "Seperti inikah dirimu.?"

 Kehidupan "Seperti inikah dirimu.?"

Semakin kita beranjak dewasa, melewati masa lalu dan pengalaman berharga yang kita dapatkan, semua itu membuat kita sadar; bahwa “Inilah kehidupan!” Apa yang coba ingin saya sampaikan adalah ada begitu banyak kesempatan, termasuk di masa kecil, yang telah kita tunda. Kita membuat banyak alasan; ketika saya besar… ketika masalah ini selesai… ketika saya lulus sekolah… ketika orang tua membeli rumah… ketika pindah ke lingkungan baru… ketika saya bisa mendapatkan uang sendiri… ketika saya punya waktu sendiri…dan ini merupakan bagian dari yang pernah saya rasakan.

Tapi sebenarnya tidak ada kata akhir untuk semua alasan yang terus-menerus kita katakan sepanjang waktu, karena jelas tidak ada pentingnya untuk menghubungkan alasan dan keluhan yang bisa kita buat. Sebagian besar dari kita telah melalui tahapan yang sama dalam kehidupan dan telah menjustifikasi hari-hari buruk dengan mengatakan bahwa kita akan benar-benar hidup sepenuhnya ketika waktunya tiba.

Tapi siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi besok hari?! Suka atau tidak, sebenarnya setiap detik, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun merupakan bagian dari kehidupan kita dan berpengaruh terhadap hasil keseluruhan pribadi kita, menjadi siapa kita nantinya, dan apa yang akan kita capai dalam hidup… Sebagaimana yang sudah saya katakan, akan tiba masa yang tidak kita duga, dan alasan yang mungkin tidak baik, kita mendapati bahwa “Hei! Inilah kehidupanku! Apa yang saya lakukan terhadapnya?!”

Ketika penemuan menakjubkan dan indah terjadi, pertanyaan-pertanyaan baru muncul di pikiran; “Apakah saya benar-benar menjalani hidup saya?. Apa saya menghabiskan waktu saya?. Mungkin saya merusak semua yang tersedia bagi saya!. Bagaimana saya bisa menikmati hidup?… Apakah saya menikmati hidup sekarang ini?…” Sekali lagi, mungkin tidak pernah ada kata akhir untuk pertanyaan seperti ini. Tapi bagaimana pun juga, ini bukan permasalahannya karena yang terpenting adalah bagaimana kita merespon pertanyaan-pertanyaan itu dalam pribadi masing-masing.

Seperti inilah kehidupan kita, terlepas dari segala kekurangan dan hal-hal yang tidak kita senangi. Ada unsur-unsur tertentu yang dapat kita ubah sesuai dengan keinginan; sementara itu ada hal lain dan faktor-faktor yang tidak dapat kita kendalikan atau bahkan ubah. Ia akan selalu seperti itu apapun alasannya. Ketika kita bergerak maju dalam hidup, entah bagaimana kita mampu lebih menguasai kehidupan pribadi dengan berbagai cara; tetapi ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah dan hanya mengharuskan kita belajar lebih baik, dan menikmati penemuan langkah baru untuk menjalani bersamanya.

Pada akhir di hari tersebut, apa yang ingin kita katakan pada diri sendiri; apakah kita benar-benar menjalani kehidupan apa adanya? Cobalah untuk menjawab pertanyaan sederhana ini untuk sementara waktu dan catatlah jawabannya. 

Comments

Popular posts from this blog

Pariwisata Dompu: 1,8 Miliar!!

 Pariwisata Dompu: 1,8 Miliar Dompu punya rencana. Bagian dari Misi 4: "Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal". Salah satu lokomotifnya: Pariwisata. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang memegang kemudi. Strateginya sudah dirumuskan. Ada promosi. Ada penataan destinasi. Ada pembangunan sarana-prasarana. Juga pemberdayaan masyarakat. Dan pengembangan event. Semua kata-kata standar dalam rencana pariwisata. Sekarang, mari kita lihat harganya. Berapa uang yang disiapkan Dompu di salah satu tahun (2027) untuk "menjual" tampangnya? Total Pagu Indikatif untuk Urusan Pariwisata: Rp 1.827.000.000,00. Satu koma delapan miliar rupiah. Tidak besar. Tidak juga kecil sekali. Uang ini dibagi menjadi tiga program utama. Program pertama, yang paling gemuk: "Peningkatan Daya Tarik Destinasi Pariwisata". Anggarannya: Rp 1.015.000.000. Lebih dari separuh total kue. Tujuannya: "Meningkatnya kunjungan wisata". Indikatornya jelas: "Persentase Per...

Kertas Anggaran pendidikan, kepemudaan dan olahraga Dompu 2026

 Kertas Anggaran Pendidikan dan Olahraga 2026 Mari kita lihat angka. Selalu menarik melihat angka-angka dalam dokumen rencana. Kali ini kita bedah Rancangan Anggaran Dompu untuk tahun 2026. Fokusnya: Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Di atas kertas, angkanya gemuk. Dinas ini mendapat jatah Rp 407 Miliar. Tepatnya Rp 407.067.841.174. Berapa itu dari total kue APBD? Total belanja daerah Dompu tahun 2026 diproyeksikan Rp 1.476.721.048.949. Kalau dihitung-hitung, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menyedot 27,57 persen. Lebih dari seperempat kue APBD. Angka yang besar. Sangat besar. Kesan pertama: Dompu sangat memprioritaskan pendidikan. Sesuai mandat konstitusi. Tapi, mari kita lihat isi di dalam Rp 407 Miliar itu. Anggaran dinas ini dibagi dua urusan besar: Pendidikan, lalu Kepemudaan dan Olahraga. Urusan Pendidikan dapat porsi terbesar. Tapi di dalamnya, ada satu program yang menyedot hampir semuanya. Namanya: "Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah". Besarnya: Rp ...

Berutang Demi Air, Bertaruh pada Cahaya.!!

Berutang Demi Air, Bertaruh pada Cahaya.  Utang..!! Satu kata. Lima huruf. Bagi sebagian orang, ini aib. Bagi Bupati Dompu, ini jalan keluar. Dia memilih jalan ini. Menggadaikan masa depan --dalam hitungan tenor pendek-- demi air yang menetes.  Rencananya sederhana. Meminjam uang. Bukan ke rentenir. Tapi ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Alasannya klise tapi genting: PDAM sedang "Sakit". Lampu jalan mati. Bupati tidak sedang bermain dadu. Dia sedang bertaruh reputas. Ini langkah politik yang berisiko. Bunuh diri? Mungkin. Heroik? Bisa jadi. Tergantung airnya mengalir atau tidak. Mari bicara angka Rp70 Miliar. Itu angka tentatif yang diajukan. Tidak kecil untuk ukuran APBD Dompu yang harus dibagi-bagi. Skemanya pinjaman daerah. Krediturnya PT SMI --BUMN di bawah Kemenkeu yang memang "bank-nya" infrastruktur pemerintah. Realisasinya direncanakan tahun 2026. Kondisi objektifnya memang memprihatinkan. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) punya rapor un...