Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2020

Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa

 Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...

Betulkah Pemuda Sebagai Penentu Masa Depan Bangsa..?

Betulkah Pemuda Sebagai Penentu Masa Depan Bangsa..? foto Saat (Pendakian Bukit Asa, Malaysia)   “ P emuda adalah generasi baru dalam sebuah komunitas masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik” Taufik Abdullah, 1974. Jika bertanya siapa pemimpin di suatu masyarakat..? Maka jawabannya adalah pemuda. Jika bertanya siapa penentu masa  depan masyarakat dan Negara..? Maka jawabannya adalah Pemuda. Ketika didalam sebuah tatanan Negara, pemuda bertindak senonoh,  membebas diri dengan ke blablasan tanpa etika. Hal tersebut menjadi peringatan yang menunjukkan sebuah negara diambang kepunahan generasi emas. Ditinjau dalam aspek SDM bahwa yang paling produktif, kreatif dan eksikutif adalah darah pemuda yang mewujudkan masyarakat berkembang atau stagnan dengan masa-masa yang cenderung pasif dalam kehidupan. Pemuda adalah pusat dari segala penjuru dunia, jika pemuda membiarkan dirinya terjerumus dalam pembunuhan, sexs bebas, narkoba dan sejenisnya, bullying, dan men...

Berbahagialah Seolah Tak Pernah Terluka Wahai Sahabat Ku

"Berbahagialah Seolah Tak Pernah Terluka Wahai Sahabat Ku" K au bisa membuat dirimu bahagia meski dalam keadaan terluka, kau bisa membuat dirimu selalu tersenyum walau sebenarnya hatimu sedang tersakiti. Jadilah seseorang yang selalu memperlihatkan kebahagiaan dan selalu menebar senyuman.  Meski senyuman itu tidak merubah keadaan namun senyummu membuktikan bahwa jiwamu kuat. karena tidak semua orang bisa terlihat bahagia ketika dirinya sedang terluka dan tidak semua orang bisa tersenyum ketika tersakiti. Tutupi lukamu dengan tawa kebahagiaan dan keceriaan, dengan seperti itu kau masih bisa melakukan kebaikan walau hanya sebatas dengan tawa bahagiamu. Setidaknya orang lain yang melihtamu bahagia akan merasa bahagia.  Berbeda dengan ketika kamu sedih maka mereka pun yang melihatmu akan merasa sedih dan iba karenamu. Simpanlah lukamu untuk dirimu sendiri karena semua hal tidak perlu diumbar dan tidak perlu semua orang tahu Ada jiwa yang tetap bertahan walau telah begitu banyak i...