Skip to main content

Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa

 Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...

HITAM PUTIH DOMPU TERCINTA


HITAM PUTIH DOMPU TERCINTA
"Bachrizal Bakhtiar D. S. Pd"

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesabaran sertakekuatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Buku tentang Hitam Putih Dompu Tercinta.Buku ini adalah buku cetakan kedua dari Buku Arah Gerakan Mahasiswa Ideal. Buku Hitam Putih Dompu Tercintaterinspirasi dari kegalauan  penulis akan referensi yang berbentuk buku mengenai Kabupaten Dompu, selain dari pada itu penulis menulis buku ini untuk membuktikan kepada seluruh lapisan masyarakat Dompu bahwasanya anak seorang kuli bangunan yang jalan keluyuran setiap malam mampu memberikan sedikit manfaat mengenai ilmu sejarah khususnya sejarah Dompu untuk masyarakat dompu.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan Buku ini tidak terlepas dari peran, dorongan, dukungan,dan saran dari berbagai pihak.Dengan ketulusan dan kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak lebih-lebih kepada ayahanda Abdul Rajak M. Nor dan Ibunda Faridah H. Husen yang senantiasa mengarahkan penulis dan mampumenyelesaiakanbuku ini.Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada rekan-rekan mahasiswa yang tergabung (PMII) dan (KUMPA).
Dompu 12 Juni 2016
Bachrizal Bakhtiar D., S. Pd

KATA PERSEMBAHAN PENULIS
Ass..........wr.......wb......
Dengan memohon rahmat dan hidayah kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan hidayah dan karunianya kepada kita semua, lebih-lebih kepada penulis, sehingga penulis mampu menyelesaikan buku tentang cerita-cerita sejarah Dompu yang berjudul Hitam Putih Dompu Tercinta. Dalam buku ini penulis lebih menceritakan beberapa fenomena-fenomena sejarah yang ada di Dompu yang penulis ketahui secara ringkas.
Buku Hitam Putih Dompu Tercinta ini penulis persembahkan untuk orang-orang yang berjasa dalam memberikan saran, masukan, dukungan serta dorongan untuk penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini yang mungkin dapat memberikan manfaat tambahan referensi untuk generasi penerus Dompu. Buku ini penulis persembahkan untuk:
a.       Ayahanda Abdul Rajak M. Nor dan Ibunda Faridah H. Husen yang selama ini telah mendidik serta membesarkan penulis sampai saat ini.
b.      Adik-adik tercinta Rian Armizal, Nafisa Eka Puspita, Nabila Segita Ramadhani, Linda Cahyani Anugrah dan Winda.
c.       Para senior dari Pergerekan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Dompu, yang diantaranya Supriadin, SE, Abdullah, S. Pd., Dodo Kurniawan, SE. ME., Enung Nurhasanah, M. Si., Arman, SE., Syarifuddin, S. Pd., dll.
d.      Para sahabat tercinta di Kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam (KUMPA) diantaranya Sri Sulastri, Faidil, Alan Junaidin, Ardiansyah, M. Yusuf, Abdul Fadil, Muhaimin, Heriansyah, Radinal, Khairul Gamal, Ruslan Efendi dan para Anggota Muda yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwasanya dalam buku ini masih banyak kekurangan dan patut untuk diperbaiki, untuk penyempurnaan penulis mengaharapkan saran dan masukan untuk kesempurnaan penyusunan buku selanjutnya.
Dalam Berdoa aku berserah
Untuk Dompu aku Pantang Menyerah



Dompu 12 Juni 2016


Bachrizal Bakhtiar D., S. Pd


DAFTAR ISI
Kata Pengantar--------------------------------------------------------- 1
Kata Persembahan Penulis------------------------------------------ 2
Daftar Isi----------------------------------------------------------------- 4
Pembahasan :
Perjuangan Terbentuknya Kabupaten Dompu------------------ 5
Kondisi Tanah Kelahiran Ku “Dompu Tercinta”-------------- 12
HITAM PUTIH DOMPU KU--------------------------------------- 19
Sejarah Bergabungnya Dompu Dengan NKRI--------------- 27
Permintaan Terakhir Sang Sultan-------------------------------- 36
Perjuangan Masyarakat Kempo dalam Mengusir
Kolonial Belanda Pada Tahun 1946.----------------------------- 42
Kondisi Bekas Istana Raja Dompu------------------------------- 53
Perlawanan Masyarakat Manggelewa Pada Tahun 1942 (Perang Manggelewa)          62
SEJARAH MASJID `SYEKH ABDUL GANI--------------- 68

Karomah Ruma Sehe Dompu-------------------------------------- 74

HARTA KARUN DOMPU YANG TERPENDAM
SEKTOR PARIWISATA DI KAB. DOMPU----------------- 90
Daftar Rujukan-------------------------------------------------------- 98
Riwayat Penulis--------------------------------------------------------- 99

Perjuangan Terbentuknya Kabupaten Dompu
Perjuangan terbentuknya Kabupaten Dompu berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama, mulai dari sistem pemerintahan kerajaan/kesultanan, swapraja, hingga daerah swatantra tingkat II. Saat ini, Kabupaten Dompu yang bermotto Nggahi Rawi Pahu.
Kabupaten Dompu, sebelumnya merupakan Daerah Swapraja tingkat II dari bagian provinsi sunda kecil. Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dan mengalami beberapa kali proses perubahan sistem ketatanegaraan pasca diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia, barulah terbentuk daerah swatantra tingkat II Dompu. Kemudian, secara resmi mendapat status sebagai daerah swapraja sejak tanggal 12 september 1947 dan selanjutnya diangkat sultan Dompu terakhir yaitu sultan muhammad tajul arifin siradjuddin sebagai kepala daerah swaparaja Dompu. Tahun 1958 daerah swapraja Dompu berubah status menjadi daerah swatantra tingkat ii Dompu dengan Bupati kepala daerah sultan Dompu muhammad tajul arifin siradjuddin (1958 – 1960). Selanjutnya pada tahun 1960 hingga 1966, Dompu berubah status menjadi Daerah Tingkat II Dompu dengan Bupati H. Abdurrahman Mahmud. Pada tahun 1967 (dalam kurun waktu kurang dari satu tahun) jabatan Bupati kepala Daerah Tingkat II Dompu dijabat oleh pelaksana tugas (PJS) yaitu I Gusti Ngurah.
Tahun 1967 hingga 1979, selama dua periode, Kabupaten Dompu dipimpin oleh seorang perwira menengah TNI angkatan darat yakni Letkol TNI. H. Suwarno atmojo. Selanjutnya pada tahun 1979 hingga 1984, Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu kembali dipimpin oleh perwira menengah tni angkatan darat yakni Letkol TNI. H. Heru Sugiyo.
Sejak tahun 1984, Kabupaten Daerah Tingkat IIDompu kembali dipimpin oleh seorang putra terbaik daerah yakni Drs. H. Moh. Yakub, Mt (1984-1989). Tahun 1989 hingga 1994, Drs. H. Umar yusuf memimpin Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu, selanjutnya pada tahun 1994 hingga 1999, kepemimpinan di Bumi Nggahi Rawi Pahu Dompu dilanjutkan oleh Drs. H. Hidayat Ali.
Pada tahun 1999, seperti daerah-daerah lain di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, seiring dengan era reformasi, Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu berubah status menjadi daerah otonom hingga sekarang ini. Sejak ditinggalkan Drs. H. Hidayat Ali sebagai Bupati kepala Daerah Tingkat II Dompu, jabatan Bupati Dompu saat itu lowong dan diisi oleh pejabat sementara selama satu tahun yakni Drs. H. Lalu Djafar suryadi (1999-2000). Pejabat sementara Bupati mengemban tugas penting, salah satunya yakni menghantarkan masyarakat Dompu untuk kembali memilih Bupati definitif melalui pemilihan para wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif DPRD Kab. Daerah Tingkat II Dompu saat itu.
Bulan februari tahun 2000, hasil pemilihan kepala Daerah Tingkat II Dompu melalui lembaga legislatif, akhirnya ditetapkan H. Abubakar Ahmad, SH sebagai Bupati Kabupaten Dompu untuk periode tahun 2000 hingga 2005. Waktu terus berjalan seiring perkembangan kehidupan masyarakat di dana Dompu, tanggal 23 bulan maret tahun 2005, jabatan H. Abubakar Ahmad, SH sebagai Bupati Kabupaten Dompu berakhir. Selanjutnya, sambil menunggu pemilihan langsung Bupati dan wakil Bupati Dompu, jabatan Bupati Dompu saat itu di jabat sementara oleh kepala dinas peternakan provinsi NTB Drs. H. Abdul Mutholib. Kurang dari 6 bulan, H. Abdul Mutholib mengendalikan roda pemerintahan di Kabupaten Dompu sekaligus menghantarkan masyarakat Dompu melaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung untuk yang pertama kalinya.
Tanggal 9 agustus 2005, H. Abubakar Ahmad, SH kembali memimpin Kabupaten Dompu untuk periode ke- dua berpasangan dengan H. Syaifurrahman Salman, SE. H. Abubakar Ahmad, SH dan H. Syaifurrahman Salman, merupakan pasangan Bupati dan wakil Bupati Dompu pertama yang dipilih secara langsung oleh masyarakat Bumi Nggahi Rawi Pahu. Waktu terus berjalan, lembaran demi lembaran sejarah terus menoreh seiring perjalanan kehidupan masyarakat Kabupaten Dompu. Bulan juli tahun 2007, Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH meletakkan jabatannya sebagai Bupati Dompu, selanjutnya pada tanggal 31 juli tahun 2007, Wakil Bupati Dompu H. Syaifurrahman Salman, SE dilantik sebagai Bupati Dompu menggantikan H. Abubakar Ahmad, SH, hingga masa akhir jabatannya pada bulan Agustus Tahun 2010. Dalam menghadapi pemilukada langsung yang ke-II, Kabupaten Dompu dipimpin oleh H. Nasibun sebagai penjabat sementara yaitu tanggal 9 Agustus 2010 sampai dengan pengambilan sumpah jabatan Drs. H. Bambang M.Yasin dan Ir. H. Syamsuddin.MM, sebagai Bupati Dompu dan wakil Bupati Dompu untuk periode 2010 – 2015 pada tanggal 18 oktober 2010.
Pemilukada serentak pada Rabu, 9 Desember 2015 Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati H. Bambang M. Yasin dan Arifuddin SH meraih suara terbanyak, dan pada 17 Februari 2016 dilantik secara resmi oleh Gubernur Provinsi NTB sebagai Bupati dan Wakil Bupati Dompu Periode 2016 – 2021.
Pada masa pemerintahan Bupati Dompu Drs. H. Umar yusuf, pembahasan mengenai penetapan hari jadi Dompu mulai digulirkan. Pada masa pemerintahan Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH (periode pertama), penelusuran tentang hari jadi Dompu kembali dibahas oleh tim dan DPRD Kabupaten Dompu. Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang serta bantuan dari salah seorang pakar sejarah nasional kelahiran Dompu yakni Prof. Dr. Helyus Syamsuddin, Phd guru besar sejarah pada IKIP Bandung, akhirnya hari jadi Dompu dapat disepakati dan ditetapkan melalui keputusan DPRD Kabupaten Dompu yang selanjutnya dituangkan melalui peraturan daerah (perda) Kabupaten Dompu nomor : 18 tanggal 19 bulan Juni Tahun 2004 menetapkan hari jadi Dompu jatuh pada hari selasa tanggal 11 april tahun 1815 atau bertepatan dengan tahun islam 1 Jumadil awal tahun 1230 H.
Penetapan hari jadi Dompu yang jatuh pada tanggal 11 april 1815, dilatar belakangi oleh fenomena alam yakni peristiwa meletusnya gunung tertinggi di pulau Sumbawa yaitu gunung Tambora pada tahun 1815. Sejarah mencatat, ketika gunung Tambora meletus dengan dahsyatnya pada tanggal 11 april 1815, 3 (tiga) kerajaan di sekitar gunung tambora yakni kerajaan pekat, sanggar dan tambora musnah akibat letusan gunung tambora. Setelah sekian tahun berlalu, bekas kerajaan pekat dan tambora akhirnya bergabung menjadi satu dengan kesultanan Dompu, sementara kerajaan sanggar bergabung dengan wilayah kesultanan Bima.
Sejak ditetapkannya tanggal 11 april sebagai hari jadi Dompu, maka selanjutnya setiap tanggal 11 april, pemerintah dan seluruh masyarakat bumi Nggahi Rawi Pahu melaksanakan upacara peringatan hari jadi Dompu.

Kondisi Tanah Kelahiran Ku “Dompu Tercinta”
Kerajaan Dompu telah dikenal sejak Kerajaan Sriwijaya sampai dengan masa keemasan Kerajaan Majapahit. Pada masa-masa ini, khususnya pada masa keemasan Kerajaan Majapahit, Karajaan Dompu merupakan salah satu wilayah incaran Majapahit. Dengan demikian wilayah Dompu merupakan wilayah yang mapan dan mempunyai sumber daya alam bagus yang didukung dengan keberadaan wilayah vulkanis Gunung Tambora dan wilayah perairan yang cukup luas (Hayyat, 2007).
Kabupaten Dompu merupakan salah satu kabupaten di daratan Pulau Sumbawa selain Kabupaten Sumbawa dibagian barat  dan Kabupaten Bima di sebelah timur. Wilayah Kabupaten Dompu terbentang dari Teluk Saleh di sebelah barat, Teluk Cempi di Selatan, Teluk Sanggar dan Perbukitan Doroboha di sebelah utara. Seluruh wilayah ini membentuk Kabupaten Dompu dengan luas wilayah sekitar 2.324,55 kilometer persegi. Dibandingkan dengan dua kabupaten lainnya yang terdapat di Pulau Sumbawa, wilayah Kabupaten Dompu ini relatif  lebih kecil.
Walaupun memiliki wilayah yang relatif  kecil dibandingkan dua kabupaten lain di Pulau Sumbawa, namun keberadaan Kabupaten Dompu sebagai suatu wilayah tidak dapat dipandang sebelah mata, karena keberadaannya telah tercatat oleh bukti-bukti sejarah sejak berabad-abad lampau.
Secara administratif bekas Istana Raja Dombu terletak di wilayah Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan secara astronomis terletak pada koordinat 50 L 0660343 UTM 9055729 dengan ketinggian mencapai 344 meter diatas permukaan laut dengan luas wilayah 223,27 km2.
Ketinggian tanah wilayah Kabupaten Dompu dikelompokan atas ketinggian 0–100 (diatas permukaan laut) yang mencapai 31,28% dari luas wilayah Kabupaten Dompu atau 72.705 Ha, ketinggian 100–5000 m.dpl dengan luas tortal sekitar 107.815 Ha atau mencapai 46,38 % Ketinggian 500 – 1000 m.dpl terdapat sekitar 34.150 Ha dan ketinggian diatas 1000 m.dpl terdapat disekitar Kecamatan Pekat, Kempo dan Kilo serta Gunung Tambora. Ketinggian tanah diatas 1000 diatas permukaan laut memiliki luas total sekitar 17.785 Ha.
Sedangkan untuk Kecamatan Dompu dimana Bekas Istana Raja Dompu berada wilayah yang memiliki ketinggian 0-100 meter di atas permukaan laut seluas 4824.00 Ha, wilayah yang memiliki ketinggian 100-500 meter di atas permukaan laut seluas 14982.00 Ha, wilayah yang memiliki ketinggian 500-1000 meter di atas permukaan laut seluas 4965 Ha dan wilayah yang memiliki ketinggian lebih dari  1000 meter di atas permukaan laut seluas 13 Ha.
Kemiringan tanah di Kabupaten Dompu diklasifikasikan menjadi 4 (empat) klasifikasi yaitu 0-2% seluas 42.167 Ha, 2-15% dengan total luas sekitar 71.229 Ha, kelerengan     15-40% memliki luas mencapai 87.796 Ha dan kemiringan di atas lebih dari 40% dengan luas total 31.262 ha. Wilayah Kecamatan Dompu sendiri memiliki  kemiringan dikisaran 0-2% seluas 4710 Ha, kemiringan dikisaran 2-15% seluas 3222 Ha, kemiringan dikisaran 15-40% seluas 9913 dan kemiringan wilayah yang melebihi 40% seluas 6939.
Secara umum jenis tanah yang ada di Kabupaten Dompu sebagian besar merupakan litosol kompleks, mediteran coklat, kompleks renzina dan litosol seluas 63.194 Ha atau sekitar 27,1% dari luas wilayah Kabupaten Dompu. Sedangkan jenis tanah yang memiliki luas paling sedikit adalah jenis tanah Regosol coklat dengan luas total sekitar 1.175 Ha atau sekitar 0,5 % dari luas wilayah Kabupaten Dompu.
Geologi merupakan kondisi suatu batuan yang menyusun suatu wilayah yang terbentuk pada masa lalu. Berdasarkan peta Geologi Indonesia kondisi geologi yang terdapat di Kabupaten Dompu terdiri atas beberapa jenis batuan, yang antara lain jenis batuan gunung api tua, batuan gunung api muda, batuan terobosan, batuan alluvium serta endapan, batuan gamping berlapis dan batuan tufa dasitan.
Keadaan iklim suatu wilayah dapat dilihat dari keadaan curah hujan, hari hujan, temperatur, kelembaban relatif, kecepatan angin, dan intensitas penyinaranmatahari. Sedangkan untuk menggambarkan kondisi iklim di suatu kawasantertentu yang areanya lebih sempit dapat dilihat dari keadaan curah hujan dan harihujan yang terjadi di kawasan tersebut. Sebagaimana daerah tropis lainnya, Kabupaten Dompu hanya mengenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan rata–rata mulai Oktober sampai April.
Pada bulan Oktober bersampai Maret angin bertiup dari barat daya ke timur laut dengan membawa hujan. Pada musím kemarau suhu udara relatif rendah yaitu  20-30°C pada siang hari dan 20°C pada malam hari.Kabupaten Dompu memiliki iklim yang bertipe D, E dan F. Kondisi suhu udara rata–rata bervariasi antara 22,5° – 31,4° C dengan suhu maksimum rata–rata 32,2° C dan minimum 21,2° C. Suhu udara maksimum terjadi pada jam 13.00 dan minimum pada jam 05.00 Wita. Kondisi lembab nisbi rata–rata selama periode survey pada siang hari dan malam hari berkisar antara 60% dan 95%. Kondisi tekanan udara rata–rata harian memiliki fluktuasi tekanan dua kali maksimum yaitu sekitar jam 09.00 dan 23.00, serta dua kali minimum yaitu sekitar jam 17.00 dan jam 04.00 waktu setempat.
Tekanan udara rata–rata  antara 1009,4 mb – 1013,1 mb. Keadaan curah hujan, hari hujan di wilayah Kabupaten Dompu sangat erat kaitannya dengan fenomena El–Nino dan La-Nina. Keadaan curah hujan di Kabupaten Dompu menunjukan bahwa rata-rata curah hujan untuk Kecamatan Hu’u adalah 64 mm/bulan, Kecamatan Dompu 110 mm/bulan, Kecamatan Kempo 60 mm/bulan, Kecamatan Woja    85 mm/bulan Kecamatan Pekat 70 mm/bulan dan Kecamatan Kilo  64 mm/bulan.
Kabupaten Dompu tergolong daerah yang banyak dialiri sungai yaitu 124 sungai dan pada umumnya dimanfaatkan untuk pengairan lahan pertanian. Sebaran sungai di Kabupaten Dompu terdapat di Kecamatan Hu’u yang dialiri 8 sungai, Kecamatan Pajo yang dialiri 3 sungai, Kecamatan Dompu dialiri 1 sungai, Kecamatan Kempo dialiri 8 sungai, Kecamatan Manggelewa dialiri 3  sungai, Kecamatan Kilo dialiri 10 sungai dan Kecamatan Pekat  dialiri 85 sungai.
Akibat kondisi iklim yang kurang menguntungkan maka musim hujan debit air cukup besar, tetapi pada musim kering menurun hingga 25 % atau sebagian besar    sungai–sungai kering (tidak berair). Disamping itu Kabupaten Dompu memiliki potensi sumber mata air sebanyak 37 buah yang tersebar di Kecamatan Hu’u 6 buah mata air, di Kecamatan Dompu 6 buah, di Kecamatan Kempo 17 dan Kecamatan Kilo 8 buah selain itu juga terdapat 21 buah bendungan irigasi/waduk yang perlu dijaga kelestarian serta keberadaannya untuk pemanfaatan air bersih maupun pertanian.

HITAM PUTIH DOMPU KU
Dompu, sebuah Kota Kabupaten di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat. Dulunya berawal dari wilayah sebuah Kerajaan,kemudian berubah menjadi Kesultanan.  Statusnya menjadi sebuah Kota  Kabupaten justru diperoleh karena nilai historisnya sebagai sebuah Kerajaan yang telah lama berdiri dan berdaulat.
Kerajaan Dompo (sebutannya di jaman dulu), ma Dompo-na (yang memotong) wilayah Bima dan Sumbawa. Sebagaian berpendapat inilah asal dari nama  Dompo. Sebelum menjadi sebuah Kerajaan, di wilayah Dompu tersebar beberapa kelompok masyarakat yang mendiami lahan-lahan pertanian (Nggaro) dan di daerah-daerah pantai. Setiap kelompok masyarakat ini dikepalai oleh seorang Kepala Suku yang disebut  Ncuhi.
Ncuhi-Ncuhi menyebar di seluruh wilayah Dompu antara lain Ncuhi Tonda, Ncuhi Soro Bawa, Ncuhi Hu'u (Ncuhi Iro Aro), Ncuhi Daha, Ncuhi Puma, Ncuhi Teri, Ncuhi Rumu (Ncuhi Tahira) dan Ncuhi Temba. Dari sinilah bermula Kerajaan Dompu berdiri, atas kesepakatan seluruh Ncuhi dari bagian pedalaman sampai daerah pesisir pantai dibentuklah Kerajaan Dompu dan sebagai Raja pertama (Sangaji) Dompu adalah Dewa Sang Kula.  
Tidak ada catatan tertulis baik dalam bentuk dokumen atau batu tulis (prasasti) yang bisa mengungkapkan kapan mulai terbentuknya Kerajaan Dompu.   Namun beberapa catatan sejarah yang menunjukkan keterkaitannya dengan keberadaan Kerajaan Dompu yang berdiri sejak lama adalah sebagai berikut :

a.       Dalam Atlas Sejarah dunia karangan Profesor Muhammad Yamin yang termuat di dalam Sejarah kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra sebagai Kerajaan pertama di   Indonesia sekitar tahun 600-an -1100, nama Dompo tercantum di dalam atlas
b.      Terdapat juga keterkaitannya dengan sejarah Kerajaan Majapahit (1293-1527). Keterkaitan yang dimaksud terdapat dalam bunyi Sumpah Palapa yang diucapkan oleh patih Gajah Mada, termuat dalam teks Jawa Pertengahan Pararaton:
 " Jika saya telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang,Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya(baru akan) melepaskan puasa"
Begitulah bunyi Sumpah Palapa yang menunjukkan keterkaitan Dompu sebagai salah  satu Kerajaan yang ingin ditaklukkan patih Gajah MadaItu berarti, bahwa telah ada kerajaan kuat di bagian Timur Nusantara yang diperhitungkan oleh Gajah Mada untuk ditaklukkan, yaitu Kerajaan Dompo. Rupanya Gajah Mada tidak main-main dengan Sumpahnya. Pada tahun 1340,  saat Kerajaan Dompu di bawah kepemimpinan Dewa Ma Wa aTaho, dikirimlah pasukan yang dipimpin oleh Senapati Nala dan dibantu oleh pasukan dari Bali yang dipimpin oleh Panglima  Pasung gerigis. Pada penyerangan yang pertama ini pasukan Majapahit gagal mengalahkan pasukan Kerajaan Dompu. Pada tahun 1357, kembali Majapahit mengirim pasukan.
Kali ini dipimpin oleh Panglima Soko dan dibantu juga oleh pasukan dari Bali yang dipimpin oleh Panglima Dadalanata. Untuk menghindari jatuhnya korban banyak seperti pada perang yang pertama, maka diputuskanlah untuk dilakukan duel antara Panglima Kerajaan Dompu dengan Panglima Kerajaan Majapahit. Duel ini ternyata dimenangkan oleh Panglima dari Kerajaan Majapahit, sehingga Kerajaan Dompu takluk di bawah kekuasaan Majapahit. Kemudian Panglima dari Bali Dadalanata diangkat menjadi Raja Dompu yang ke-8
Seiring dengan melemahnya Kerajaan Majapahit oleh konflik berkepanjangan perebutan kekuasaan di antara pewarisnya, pengawasan terhadap Kerajaan-Kerajaan bawahannya pun menjadi lemah.  Satu persatu Kerajaan-Kerajaan Kecil mulai melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit, termasuk Kerajaan Dompu.  Lepasnya dari kekuasaan Majapahit ditandai dengan dinobatkannya (12 September 1545) putra  Dewa Ma wa a Taho sebagai Raja Dompu yang ke 9atau sebagai Raja Dompu I yang mendapat sebutan Sultan. Hal ini menjadiawal dimulainya era Kerajaan Islam sehingga disebut Kesultanan.  Sultan Syamsuddin yang bergelar  Ma Wa a Tunggu telah terlebih dahulu memeluk agama Islam sebelum diangkat sebagai Sultan. Mendirikan istana Bata (Bata Ntoi) yang menyimpan cerita mistery. Beliau juga mendirikan masjid pertama di Dompu, tepatnya di Kampung Sigi, Karijawa. 
Di masa penjajahan Belanda, Kerajaan Dompu tidak luput dari incaran pemerintah Belanda untuk dikuasai. Namun perlawanan Sultan dan Rakyatnya sangat berdarah darah, demi untuk tidak tunduk dibawah kekuasaan Belanda. Tercatat rakyat sampai harus memburu Sultannya sendiri bila ketahuan tanda-tanda adanya niat melakukan negosiasi dengan pemerintah Belanda.Perlawanan pun berakhir akibat dari takluknya Sultan Hasanuddin (Makassar) dengan dilakukannya perjanjian Bongaya (1667), yang berarti takluknya juga Kerajaan-Kerajaan di Pulau Sumbawa. Sebuah perjanjian damai, lebih tepatnya  Surat tanda takluk, karena isinya lebih dominan menguntungkan pihak Belanda.
Perlawanan Sultan dan rakyat Dompu tidak berhenti hanya dengan adanya surat perjanjian. Letup-letup kecil perlawanan masih sering muncul terutama pada saat Sultan Muhammad Sirajuddin memerintah. Keengganan Sultan untuk menempatkan personil Belanda dalam struktur pemerintahannya, menjadi alasan kuat bagi Belanda untuk menyingkirkan Sultan, karena dianggap telah melanggar perjanjian. Oleh sebab itulah Sultan Muhammad Sirajuddin dibuang ke Kupang beserta kedua putranya, putra Abdullah dan putra Abdul Wahab.Kedua putranya ini ikut dibuang karna Belanda khawatir akan timbul kekacauan di masa mendatang akibat dari adanya perebutan kekuasaan.
Untuk mengisi kekosongan  kepemimpinan di Kesultanan  Dompu, diangkatlahseorang pejabat selfbestuur Commisi Lalu Muhammad Saleh, yang sebenarnya berasal dari turunan Raja Dompu juga. Ketika masa kependudukan Belanda berakhir, digantikan oleh kependudukan Jepang. Saat itu terjadi kefakuman kepemimpinan di Kesultanan Dompu karna Sultannya dibuang ke Kupang. 
Maka oleh pemerintah Jepang Kesultanan Dompu digabung menjadi satu dengan Kesultanan Bima Tidak lama setelah penggabungan itu, Jepang kalah dan meninggalkan Indonesia, disusul dengan  diproklamirkannya  Kemerdekaan Indonesia Situasi ini pun tidak disia-siakan oleh rakyat Dompu untuk menuntut kembali berdirinya  Kesultanan  Dompu. Maka  dengan SK. Resident Timur No.1 tanggal 12 September 1947 Kesultanan Dompu  dinyatakan  berdiri  kembali dan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin II,  cucu dari Sultan Muhammad Sirajuddin dinobatkan menjadi Sultan Dompu ke-29 (Sultan terakhir).
Masa pemerintahan Sultan Muhammad Tajul Arifin II berakhir begitu dikeluarkannya peraturan  Undang-Undang No. 1 tahun 1957 tentang pokok-pokok pembentukan Pemerintah Daerah Swatantra Tk II. ini juga menandai masa berakhirnya era Kesultanan di Dompu. Kemudian berdasarkan Undang Undang No. 69 tahun 1956 menjadi Daerah Tk II Kabupaten sampai sekarang.Demikian sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan Dompu yang terakhir, diangkatlah Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin II menjadi Bupati I Dompupada tanggal 1 Desember 1958 sampai dengan 30 April 1960. 

Sejarah Bergabungnya Dompu Dengan NKRI
1905 adalah kontrak terakhir antara pemerintah kolonial Belanda dengan Kesultanan Dompu. Kesultanan Dompu diikat dengan kontrak panjang. Meski pada awalnya Sultan Muhammad Sirajuddin sempat tidak mau menandatangani perjanjian sebanyak 32 pasal itu. Ketika ditetapkan oleh pemerintah Kolonial Belanda bahwa pajak dari wilayah Kesultanan Dompu untuk Belanda harus disetor ke Bima, Sultan Muhammad Sirajuddin kembali menolak. Karena ini akan semakin mengerdilkan Kesultanan Dompu seolah hanyalah sebuah Negara kecil yang harus digabung dengan Bima. Sikap dingin dan membangkang Sultan terus berlanjut.
Singkat cerita, ketika usia sultan telah tua yakni sekitar 90 tahun, ia harus menentukan siapa di antara kedua anaknya yang akan menggantikannya. Menurut aturan yang berlaku, maka yang berhak menggantikan beliau adalah anaknya yang paling tua yakni Ama ka’u (Pangeran) Abdul Wahab bin Sirajuddin. Akhirnya, diangkatlah Abdul Wahab Sirajuddin sebagai Ruma to’I (Raja Muda) oleh Majelis Adat Kesultanan Dompu. Sultan kemudian menulis surat kepada Gubernur Celebes agar menetapkan Abdul Wahab Sirajuddin sebagai Raja Muda untuk menggantikan dirinya kelak. Surat ini ditulis pada tanggal 12 Maret 1908.
Rupanya pengangkatan Abdul Wahab sebagai Raja Muda yang akan menggantikan ayahnya ditentang oleh adiknya, Abdullah bin Sirajuddin. Abdullah Sirajuddin rupanya juga menginginkan kekuasaan itu. Iapun menggalang dukungan untuk melawan kakaknya. Suasana memanas dan perseteruan pun tak dapat dihindari. Konflik internal di Kesultanan Dompu ini didengar oleh Residen Kupang, Bupati Belanda untuk wilayah Nusa Tenggara. Ia kemudian memanggil Sultan Muhammad Sirajuddin ke Kupang. Sultan diminta untuk mengatasi konflik yang terjadi di Dompu. Lebih lanjut Residen Kupang menuding bahwa Sultan Muhammad Sirajuddin-lah yang telah sengaja mengatur konflik itu untuk memanaskan suasana dan membuat kekacauan. Lebih lanjut, pemerintah Kolonial Belanda bahkan menduga bahwa Sultan dan kedua putranya tengah menyusun rencana pemberontakan. Namun sekembalinya ke Dompu Sultan Muhammad Sirajuddin ternyata tidak berhasil meredam konflik di antara kedua puteranya.
Akhirnya pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan keputusan mengasingkan Sultan Muhammad Sirajuddin dan kedua puteranya ke Kota Kupang pada tahun 1934. Kepergian mereka diantar oleh para Pejabat dan rakyat Kesultanan Dompu sampai di Pelabuhan Sape. Selain kedua puteranya Abdul Wahab dan Abdullah, ikut serta pula Abdurrahman Habe pelayannya yang setia. Sultan Muhammad Sirajuddin meninggal pada 1937, tiga tahun setelah pembuangannya. Sejak saat itu, Kesultanan Dompu tidak lagi memiliki seorang Sultan. Secara administratif pemerintahannya pun digabungkan dengan Kesultanan Bima yang pada waktu itu dibawah pemerintahan Sultan paling kharismatik di Bima yakni Sultan Muhammad Salahuddin (1915-1951 M).
Karena telah digabung dengan Kesultanan Bima, maka sejarah Dompu dari tahun 1934-1947 adalah sejarah tanah Bima. Karena saat itu wilayah kekuasaan Dompu telah diakuasai oleh Kesultanan Bima. Pada masa inilah Dompu bergabung dengan Negara Indonesia, di masa akuisisi Bima di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Salahuddin.
Sejak awal tercetusnya proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sultan M. Salahuddin telah menyatakan dukungannya terhadap NKRI. Ini karena akibat lobi politik Soekarno sebelumnya. Tahun 1934, sebelum kemerdekaan NKRI, Soekarno pernah dibuang ke Ende – Nusa Tenggara Timur dan mampir ke Bima. Ia dijamu oleh Sultan M. Salahuddin dan menginap di Istana Bima (Asi Mbojo). Selama mampir itulah Soekarno banyak berbincang dengan sultan mengenai penjajahan dan kemerdekaan.
Pada tanggal 22 November 1945, Sultan Muhammad Salahuddin mencetuskan pernyataan mewakili seluruh lapisan masyarakat Bima dan Dompu. Pernyataan mendukung NKRI itu dikenal dengan nama “Maklumat 22 November 1945” yang isinya adalah sebagai berikut :
1.      Pemerintah Kerajaan Bima, adalah suatu daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia dan berdiri di belakang pemerintahan Negara Republik Indonesia.
2.      Kami menyatakan, bahwa pada dasarnya segala kekuasaan dalam pemerintahan Kerajaan Bima terletak di tangan  kami, oleh karena itu sehubungan dengan suasana dewasa ini, maka kekuasaan – kekuasaaan yang sampai sekarang ini tidak di tangan kami, maka dengan sendirinya kembali ke tangan kami.
3.      Kami menyatakan dengan sepenuhnya, bahwa perhubungan dengan pemerintahan dalam lingkungan kerajaan Bima bersifat langsung dengan pusat Negara Republik Indonesia.
4.      Kami memerintahkan dan percaya kepada sekalian penduduk dalam seluruh kerajaan Bima, mereka akan bersifat sesuai dengan sabda kami yang ternyata di atas.
Poin ke empat adalah poin krusial bagi masyarakat bekas Kesultanan Dompu, karena raja mereka telah bersabda maka mereka harus mematuhinya dengan sepenuh jiwa. Apalagi saat itu rakyat Dompu memang merindukan pembebasan dari kekuasaan penjajah yang selama ini mengangkangi harga diri mereka, memperkosa hak-hak mereka, mengusir sultan mereka dan membongkar istana mereka. Bergabungnya Bima dan Dompu ke dalam NKRI diterima oleh rakyat sebagai sebuah kesyukuran. Betapa polosnya mereka waktu itu.
Maklumat 22 November 1945, akhirnya semakin mempersulit posisi Jepang. Padahal menurut isi perjanjian Jepang dengan sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, semua masalah di daerah bekas jajahan Jepang akan diambil alih oleh sekutu. Hal ini sudah berkali –kali diperingatkan oleh Jepang melalui Mayor Jenderal Tanaka, namun Sultan bersama KNI, TKR dan API tidak pernah mengindahkannya.
Lebih jauh lagi, pada tanggal 17 Desember 1945 dilangsungkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia di halaman depan Istana Bima. Pernyataan hari kemerdekaan Republik Indonesia, idealnya harus berlangsung pada tiap tanggal 17 Agustus. Namun untuk menunjukan kesetiaan terhadap NKRI, Upacara dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 1945. Setelah upacara, diadakan pawai keliling kota.
Akibat dari sikap Kerajaan Bima dan Dompu yang berdiri di belakang NKRI, Pemerintah Jepang menekan Sultan Salahuddin untuk merubah sikapnya. Menurut Pemerintah Jepang nasib Bangsa Indonesia tergantung dari hasil keputusan sekutu, karena berdasarkan isi perjanjian antara Jepang dan Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, segala masalah yang berhubungan dengan masalah jajahan Jepang akan ditangani oleh sekutu. Tetapi tekanan dari Jepang ini tidak digubris oleh sultan Muhammad Salahuddin. Atas dukungan rakyat dan para pejuang, perlawanan terhadap penjajah terus dilakukan sampai Indonesia merdeka.
Tahun 1946, Belanda berhasil mengambil kesempatan untuk kembali ke Indonesia dan berhasil mendirikan negara-negara boneka. Salah satunya adalah Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Ibu kota Singaraja, Bali. Kesultanan Bima-Dompu termasuk ke dalam bagian dari NIT ini, yakni daerah otonom (Pulau) Sumbawa.
Di bawah pimpinan cucu dari Sultan Muhammad Siradjuddin, yakni Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin, rakyat Dompu menuntut pengembalian Kesultanan Dompu. Tuntutan tersebut direspon oleh ketua Parlemen NIT yang juga adalah Sultan Sumbawa, Muhammad Kaharuddin. Setelah parlemen NIT mengadakan rapat berkali-kali dicapailah kesepakatan pengembalian Kesultanan Dompu pada tanggal 12 September 1947 dengan status sebagai daerah Swapraja. Lalu diangkatlah Muhammad Tadjul Arifin Sirajuddin menjadi Sultan Dompu yang ke-21 sekaligus menjadi Kepala Daerah Swapraja Dompu.
Tahun 1950, NIT dibubarkan dan kerajaan-kerajaan di bekas wilayah NIT bergabung dengan NKRI. Secara resmi Daerah Swapraja Dompu mendapat status Kabupaten sejak tahun 1958, atau sejak dikeluarkannya Undang-undang nomor 64 tahun 1958 dan Undang-undang nomor 69 tahun 1958. Sebelumnya, Dompu berstatus sebagai daerah atau wilayah Kesultanan yaitu Kesultanan Dompu dengan Sultan terakhir yakni M.Tajul Arifin Siradjuddin. Kesultanan Dompu berubah status menjadi Daerah Swatantra Tingkat II Dompu melalui keputusan Menteri Dalam Negeri dengan surat keputusan tanggal 29 Oktober 1958 nomor Up.7/14/34.
Lalu diangkatlah Pejabat Sementara (PS) Kepala Daerah Dompu M.T. Arifin Siradjuddin sebagai Bupati pertama di Dompu hingga tahun 1960. Saat itu wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) masih berstatus sebagai wilayah propinsi Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara). Selanjutnya pada tahun 1960 hingga 1966, Dompu berubah status menjadi Daerah Tingkat II Dompu dengan Bupati H. Abdurrahman Mahmud. 
Permintaan Terakhir Sang Sultan
Ketika Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan keputusan mengasingkan Sultan Muhammad Sirajuddin dan kedua puteranya ke Kota Kupang pada tahun 1934. Kepergian mereka diantar oleh para Pejabat dan rakyat Kesultanan Dompu sampai di Pelabuhan Sape. Selain kedua puteranya Abdul Wahab Sirajuddin (Ruma To’i) dan Abdullah Sirajuddin (Ruma Goa), ikut serta pula pelayannya yang setia bernama Abdurrahman Habe, Ina Laru – salah satu selir Sultan Sirajuddin, dan La Ria – seorang dayang istana.
Kedatangan “Kapal Putih” milik Belanda yang mengangkut rombongan Sultan Dompu pun tiba di Pelabuhan Kerajaan Kupang. Mereka disambut langsung oleh Raja Kupang Nicolas Nicynoi. Serah terima berlangsung secara resmi melalui sebuah upacara serah terima tawanan kepada Raja Kupang. Sultan Sirajuddin dititipkan kepada Raja Kupang dan beliau diperlakukan secara baik dan terhormat.
Setelah selama dua atau tiga bulan tinggal di kompleks istana Kupang, akhirnya Sultan Sirajuddin dan anak-anaknya dipindahkan ke sebuah rumah sewaan di Kampung Air Mata, Kupang. Rumah itu milik seorang warga muslim keturunan Arab. Setelah dua tahun menetap di rumah tersebut, beliau dipindahkan lagi ke sebuah rumah sewaan milik seorang Tionghoa berjarak 100 m dari rumah sebelumnya. Di sinilah Sang Sultan Yang terbuang menghabiskan sisa umurnya dengan mendekatkan diri pada Allah. Setiap hari beliau melaksanakan shalat berjamaah dengan warga sekitar di Masjid Baitul Qadim dekat tempat tinggalnya.
Setelah hampir tiga tahun dibuang di Kerajaan Kupang oleh Belanda, Sultan yang telah tua akhirnya sakit-sakitan. Selama sakitnya, selir, anak-anaknya dan dua pelayannya sangat setia menemani dan merawat beliau. Hingga suatu hari beliau menginginkan hidangan yang dahulu sering beliau santap sewaktu masih menjadi Raja di Dompu. Beliau ingin sekali makan ‘‘Doco dumu loa’ yang dicampur ikan teri.
Mungkin bagi anda yang membaca, akan mengerutkan dahi mendengar nama makanan ini. Namun bagi lidah orang Dompu dahulu, ‘doco dumu loa adalah makanan istimewa yang menggugah selera makan. Wajar jika di akhir hayatnya, Sultan Sirajuddin sangat menginginkanya. Sebagai pelipur hati yang pilu karena jauh dari sanak saudara dan kampung halaman. Sebagai pengobat rindu akan alam tempatnya lahir, tumbuh dan besar. Di sana ibu-bapaknya dimakamkan, ia tak bisa berziarah pada mereka. Di sana ia pernah jadi orang nomor satu yang dihormati dengan segala penghormatan.
Namun memenuhi keinginan terakhir Sultan Sirajuddin ini tidaklah mudah. Entah karena memang tidak ada atau karena tidak tahu tempat mencarinya, anak-anak dan para pelayannya tidak dapat menemukan bahan-bahan untuk membuat makanan yang dimaksud. Karena begitu sulitnya mendapatkan makanan semacam itu di tanah orang, akhirnya terpaksa dikirim kabar kepada keluarga Sultan di Dompu agar mengirimkan makanan yang dimaksud. Setelah mendapat kabar tersebut, keluarga beliau di Dompu pun dengan segera mencari dan mengirimkan makanan yang diminta oleh sang sultan.
Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sultan Sirajuddin pun wafat tanpa sempat menyaksikan lagi makanan yang diidamkannya itu, ‘Doco dumu loa. Pada tanggal 14 Februari 1937, beliau menghembuskan nafas yang terakhir di Kampung Air Mata, Kerajaan Kupang, pada usia 89 tahun. Oleh sebab itu rakyat Kerajaan Dompu menggelarinya Sangaji Manuru Kupa, Raja yang mangkat di Kupang.
Hidup di tangan Allah, manusia bisa mati kapan saja. Yang tua bisa mati, yang muda juga bisa mati. Maka jangan lalai oleh usia mudamu. Bisa jadi esok atau lusa engkau binasa. Maka beribadahlah kepada-Nya, sembahlah Ia. Mohon ampunlah atas dosa-dosamu yang lalu dan berbuat baiklah di sisa umurmu itu. Karena engkau tak tahu kapan engkau akan dikembalikan pada-Nya. Engkau milik-Nya dan akan Ia ambil kembali juga. Sehebat apapun manusia, tetaplah ia lemah di banding kekuasaan Tuhannya, Allah subhanahu wa ta’aala yang Maha Esa.
Konemu dese ra ntasa dei mori kai di ade dunia, mumbalimpa di dana mak kaja’e sampu. Malanta la’ba di dula la’bo. Rawi taho di masandaka ndaita, rawi iha dimarundu tau dei anaraka. Aina sombo ba na’e ra ntoru londo ra mai, di tandona Ruma sama riu rata. Tiwara Ruma tiwara ada, tiwara sangaji tiwara ela. Madese ro ntasa ededu dou ma taqwa. Makalampana samenana Sare’at Islam.
Setelah Sultan Muhammad Sirajuddin meninggal pada 1937, tiga tahun setelah pembuangannya, kedua anaknya behasil kembali ke Dompu setelah sebelumnya melalui Makassar. Abdul Wahab Sirajuddin kembali ke Dompu dan meninggal di sana. Keluarga Kesultanan Dompu akhirnya menuntut dikembalikannya kedaulatan dan kekuasaan Kesultanan Dompu yang terenggut sejak dibuangnya Sultan Sirajuddin. Akhirnya tahun 1947 usaha tersebut berhasil dan putera Abdul Wahab diangkat sebagai Sultan Dompu yang baru. Beliau adalah Sultan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin, Raja Dompu yang terakhir.
Sedangkan Abdullah Sirajuddin memilih menghindar ke Sumbawa bersama keluarganya.Pelayan yang setia, Abdurrahman La Habe, memilih sehidup semati bersama Rajanya. Ia ingin mati di Bumi mana rajanya mati. Itulah inti dari kesetiaan yang ia miliki. Ia tak pernah kembali ke kampungnya meskipun ia punya banyak waktu untuk pulang. Ia bertekad menemani Sultan Sirajuddin sampai mati. Ia kemudian menikah dengan seorang keturunan bangsawan bugis bernama Gamyniko Thalib. Di kalangan keluarganya di Dompu, wanita ini dipanggil “Mama Kupang.” La Habe dan Mama Kupang dikaruniai lima orang anak.
Adapun Ina Laru dan La Ria, mereka memilih kembali ke Dompu setelah wafatnya Sultan Sirajuddin. Ina Laru, sang selir itu, di masa tuanya tinggal sebatang kara di Kampung Rato, di tepi Sungai Sori Na’E. Orang mengenalnya sebagai Wa’i Laru. Ia terus hidup hingga batas usia yang ditentukan Allah. 

Perjuangan Masyarakat Kempo dalam Mengusir Kolonial Belanda Pada Tahun 1946.


Pada Tahun 1596, Belanda datang ke Indonesia, dipimpin oleh Cornelis de Houtman, dan mendarat di kepulauan Banten, Jawa Barat. Mereka ingin menguasai perdagangan di Indonesia. Kemudian Belanda mendirikan perkumpulan dagang yang disebut VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) atau Perserikatan Dagang Hindia Timur.Dari Banten, Belanda terus berusaha untuk meluaskan kekuasaannya sehingga berhasil menguasai Nusantara. Dengan cara menghasut dan memfitnah, sehingga bangsa Belanda dengan mudah berhasil mewujudkan keinginannya untuk menguasai perdagangan Indonesia.
Bukan hanya sekedar menguasai perdangangan Indonesia dengan mendirikan perkumpulan dagang yang disebut VOC, melainkan banyak sistem lain yang didirikan yang membuat masyarakat Indonesia merasa resah, yang diantaranya sistim kerja paksa (Rodi), serta sistem tanam paksa (Cultuur Stelsel). Sistem Cultuur Stelsel dilaksanakan untuk mengeruk kekayaan bumi Indonesia tanpa mau memperhatikan rakyat Indonesia dibawah pimpinan Van Den Bosch. Secara teoritis, peraturan yang ditetapkan dalam sistem tanam paksatidak memberatkan. Akan tetapi dalam prakteknya, banyak sekali penyimpangan yang dilakukan dalam sistem yang diterapkan oleh pihak Belanda (Djoened, 1993).
Pelaksanaan sistim tanam paksabanyak menyimpang dari ketentuan pokok dan cenderung mengadakan eksploitasi agraris yang semaksimal mungkin. Oleh karena itu, sistim tanam paksa mengakibatkan penderitaan bagi rakyat pedesaan di Indonesia. Adapun penderitaan bangsa Indonesia akibat pelaksanaan sistim Tanam Paksa diantaranya:
a.       Rakyat makin miskin karena sebagian tanah dan tenaganya harus disumbangkan secara cuma-cuma kepada Belanda.
b.      Sawah dan ladang menjadi terlantar karena kewajiban kerja paksa yang berkepanjangan mengakibatkan penghasilan menurun.
c.       Beban rakyat makin berat karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil panen, membayar pajak, mengikuti kerja rodi, serta menanggung risiko apabila panen gagal.
d.      Akibat bermacam-macam beban, menimbulkan tekanan fisik dan mental yang berkepanjangan (Robert,2003).
Penerapan penjajahan tidak sebatas berlaku di kota-kota besar di indoensia, bahkan sampai ke pelosok nusantara termaksud Kabupaten Dompu. Belanda masuk ke Dompu berawal dari Dompu ditaklukan oleh kerajaan kembar Goa – Tallo (Makassar) pada sekitar tahun 1618 atau pada saat masa pemerintahan raja Goa ke-14 yakni Sultan Alauddin. Selanjutnya sekitar abad ke-16 atau pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (Raja/Sultan Goa) yang menandatangani perjanjian bungaya pada tanggal 18 November 1667 dengan belanda, maka Dompu yang saat itu menjadi bagian dari kekuasaan wilayah Kerajaan Goa secara otomatis masuk dalam wilayah jajahan pemerintah Kolonial Belanda (Soeryanto, 2013).
Waktu terus berjalan, pada tahun 1669 diadakan perjanjian antara Dompu dengan pihak Belanda, yang dalam perjanjian itu berbunyi “bahwa kerajaan Dompu harus menjadi wilayah jajahan Belanda “Belanda terus melancarkan strategi untuk tetap berkuasa di Dompu, bahkan pajak yang seharusnya di setorkan ke Kerajaan/Kesultanan, maka disetorkan pula ke pihak Belanda.
Bukan hanya itu bahkan setiap pergantian Raja/Sultan di seluruh wilayah kerajaan-kerajaan yang ada di pulau Sumbawa dan juga Makasar Belanda selalu melakukan intervensi.Tidak hanya itu saja, belanda bahkan mulai mengadu domba antara rakyat dengan Raja/Sultan, begitu juga antara kerajaan yang satu dengan kerajaan lainya.Pada Tahun 1771, Belanda mulai terang-terangan mengadu domba antara kerajaan Dompu dengan Kerajaan Bima, kemudian sekitar tahun 1779, belanda mengadu domba antara kerajaan Dompu dengan Tambora (Soeryanto, 2013).
Melihat kondisi seperti beberapa hal yang dikemukakan diatas, sehingga menggugah kesadaran masyarakat Dompu untuk melakukan perlawanan, walaupun dalam bentuk perlawanan yang dilakukan tidak sebesar perang diponogoro atau perang di kota-kota besar lainya.Namun dalam catatan sejarah perjuangan masyarakat Dompu pernah terjadi perlawanan besar-besaran yang dilakukan masyarakat Dompu termaksud masyarakat Kempo yang terjadi pada tahun 1946. Namun sebelum itu, pernah terjadi perang/perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Manggelewa di Kabupaten Dompu, perlawanan itu terjadi berawal dari tingkah dua orang Belanda yang melakukan propaganda dengan mengeruk semua uang-uang pajak dari kas kerajaan Bima-Dompu untuk dibawa pulang ke Belanda, ini disebabkan oleh Belandatakut pada Jepang yang mulai masuk ke Dompu pada tahun 1942 . Mendengar hal itu akhirnya masyarakat Manggelewa melakukan perlawanan terhadap Belanda yang sejak saat itu ingin melakukan penyerangan besar-besaran terhadap masyarakat Dompu (Tamin dalam Soeryanto, 2013)
Ketika itu pasukan Bima-Dompu dipimpin oleh anak dari Sultan Salahuddin yaitu Abdul Kahir (Sudanso), Abdul Kahir berhasil mengerahkan pasukannya untuk mengusir mundur pasukan Belanda, dengan berbagai strategi yang telah diatur sebelumnya, yang pada akhirnya pasukan Bima-Dompu mampu melawan dan mengusir penjajah pada tahun 1942.Sehingga pada tahun 1942 kolonial Belanda mampu dikalahkan dalam perlawanan yang terjadi di Soriutu (Manggelewa)
kehadiran kembali belanda menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi masyarakat Kempo, belanda kembali masuk kembali ke Bima-Dompu pada tanggal 12 Januari 1946 yang dipimpin oleh Jenderal Dr. Van Mook, yang pada waktu itu Dompu sedang mengalami Vacuum Of Power. Akibat kekosongan kepemimpinan, maka menjadi peluang tersendiri bagi belanda. Namun disisi lain masyarakat Kempo khususnya tidak mengetahui kalau pada tahun 1945 Indonesia sudah merdeka. Masyarakat kempo mengetahui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1946 lewat para nelayan.
Bersamaan dengan kedatangan belanda, masyarakat kempo melakukan berbagai perlawanan, menurutAgustina,(2003), Mengemukakan bahwa perlawanan merupakan bentuk dari pernyataan sikap yang dilakukan oleh masyarakat. Penyikapan masyarakat tersebut dalam bentuk perlawanan terhadap kelompok atau pihak yang dianggap mengancam eksistensi mereka.
Perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat kempo dikarenakan keresahan serta kesengsaraan yang dialami oleh masyarakat kempo, akibat dari rasa keresahan itu akhirnya masyarakat kempo melakukan berbagai perlawanan yang diantaranya pembuatan surat dukungan proklamasi yang ditandatangani dengan darah serta melakukan penyerangan tempat para belanda dan juga mata-mata dari pihak belanda tersebut. Proses pembuatan surat dukungan proklamasi dipolopori oleh 10 pemuda Kempo yang dibantu oleh pemuda dari Jakarta.
Ada beberapa lokasi yang menjadi tempat atau lokasi dari pembuatan surat dukungan proklamasi itu yang diantaranya (Kawinda Ompu Biko, Kawinda Kalo, Ndano Nae Kesi, Roju Konte). Yang ditandatangani oleh 100 orang.
Namun sebelum proses pembuatan surat dukungan proklamasi serta penyerangan tempat dari pihak belanda, pernah terjadi usaha untuk perlawanan sebelum itu, yaitu usaha pengibaran benderah merah putih sebagai bentuk perlawanan masyarakat kempo terhadap kehadiran kembali belanda di Dompu.
Dalam proses perlawanan tidak terlalu banyak masyarakat kempo ikut terlibat, melainkan hanya beberapa, yang bisa diperkirakan dibawah seratus orang, yang menjadi pelopor dalam perlawanan itu yang diantaranya Saleh Jakariah, Saleh Arifin, M. Taher, M.M.Ai dan Alaidin.
Dengan kehadiran kembali Belanda di Indonesia terjadi banyak perlawanan diberbagai daerah seperti di Surabaya pada (25 Oktober 1945), Semarang pada (15 Oktober 1945), ambarawa terjadi pada (20 Oktober 1945), serta masih banyak perlawanan-perlawanan yang terjadi di Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia.Rakyat Indonesia menggunakan senjata rampasan dari Jepang dan senjata tradisional yang ada dalam melawan Pihak Belanda. (Asvi, 2009).
Menurut Sudharmono (dalam Asvi warman, 2007), mengungkapkan ada beberapa faktor yang melatarbelakangi lahirnya perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada saat Belanda kembali lagi di Indonesia setelah kemerdekaan. Yang dimana masyarakat Indonesia tidak terima akan tindakan Belanda pada tahun 1942, sebab tampa rasa tanggungjawab Belanda dengan mudah menyerahkan Indonesia di pangkuan Jepang yang lebih sadis lagi dalam penjajahanya, serta masyarakat Indonesia sudah lelah akan proses penjajahan yang cukup sekian lama yang ingin terulang kembali setelah kemerdekaan telah diraih.
Bentuk dari perlawanan masyarakat kempo terhadap pihak belanda salah satunya adalah dengan membuat surat dukungan proklamasi kemerdekaan Indonesia, setelah proses pembuatan surat dukungan dibuat namun digagalkan maka muncul berbagai perlawanan lainya dengan strategi penyerangan Gerilya (mengepung) tempat-tempat dari pihak belanda.
Perang gerilya adalah teknik mengepung dengan cara tak terkesan invisible (tidak kelihatan).Perang gerilya adalah bentuk perang yang tak berbelit dengan cara resmi pada ketentuan perang. Perang gerilya bangsa Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Menghindari perang terbuka
2.      Menghantam musuh dengan cara tiba-tiba
3.      Menghilang ditengah lebatnya hutan alias kegelapan malam, Menyamar sebagai rakyat biasa.(Alamsyah, 1986)
bukan hanya belanda yang dilawan oleh masyarakat Kempo, melainkan masyarakat Kempo lainya yang dianggap sebagai serdadu atau mata-mata dari pihak belanda itu sendiri diusir dari daerah Kempo. Senjata yang digunakan masyarakat Kempo dalam melakukan perlawanan yang diantaranya bamboo runcing, keris serta benda tajam lainya.
Salah satu perlawanan yang dilakukan diantaranya pembuatan surat berdarah, adapun poin-poin surat dukungan proklamasi antaranya:
VAN MOCK “KAMI TIDAK TAKUT SAMA MOMOK”
VAN DER PLAST “KAMI TIDAK MAU LAGI DIPERAS”
KAMI SUDAH MERDEKA
BEBAS DARI NICA

Perlawanan tidak serta merta tampa sebuah hasil, hasil yang didapatkan terkadang sebuah kemenangan yang terbebas dari praktek penjajahan, bahkan setelah dilakukan sebuah perlawanan yang terjadi diberbagai daerah, Belanda tidak langsung mengundurkan diri. Dwi Nugroho, (2011) menyatakan bahwasanya Belanda mengakhiri praktek kekuasaan di Indonesia pada 1950.
Namun berbeda yang dialami oleh masyarakat Kempo, belanda mampu diusir oleh masyarakat Kempo pada tahun 1946, dengan keluarnya belanda di Kempo bukan berarti belanda keluar di Dompu pada umumnya, keluarnya belanda di Kempo lantaran tidak mampu menahan berbagai perlawanan yang diluncurkan oleh masyarakat.
  
Kondisi Bekas Istana Raja Dompu

Bekas Istana Raja Dompu  merupakan salah satu salah satu peninggalan purbakala  (bangunan cagar budaya) yang terdapat di  Kabupaten Dompu.  Bangunan bekas Istana Raja Dompu ini terletak di pinggir jalan raya (Jalan Ir. Soekarno) tepatnya di Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu. Bekas Istana Raja Dompu adalah rumah kediaman keluarga Sultan Dompu setelah pindah dari tempatnya yang terdahulu, yaitu dari lokasi Masjid Baiturahman sekarang. Disamping sebagai rumah kediaman keluarga Sultan, bangunan bekas Istana Raja Dompu dahulunya  juga difungsikan sebagai tempat penerimaan tamu, baik dari keluarga Sultan maupun tamu-tamu lain yang berkunjung untuk dapat melihat koleksi peninggalan Kesultanan Dompu.
Bangunan bekas Istana Raja Dompu ini merupakan bangunan yang keseluruhan strukturnya terbuat dari bahan kayu dan berbentuk rumah panggung. Bangunan ini direncanakan sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai tempat kediaman Sultan Dompu dan tempat peneriamaan tamu-tamu Kesultanan Dompu dan juga untuk penerimaan tamu-tamu yang berkunjung untuk melihat-lihat koleksi peninggalan Kesultanan Dompu. Berdasarkan atas asas pemikiran di atas maka bekas Istana Raja Dompu dalam penataan ruangnya di bagi menjadi enam ruangan dan satu ruangan loteng di bagian atas. Uraian tentang pembagian ruang pada bangunan bekas Istana Raja Dompu akan diuraikan sebagai berikut:
a.       Ruang Tamu
Menurut ketengan dari pihak keluarga Kesultanan Dompu, pada awalnya tangga masuk/naik menuju ke ruangan atas bangunan bekas Istana Raja Dompu terletak di sisi timur. Namun pada perkembangannya dan dikarenakan satu dan lain hal anak tangga tersebut dipindahkan di sisi utara bangunan. Hal ini menyebabkan ruangan tamu yang ada di sisi utara ini mengalami pemotongan/dihilangkan. Dari data foto dokumentasi yang berhasil didapatkan menunjukkan bahwasannya keterangan tentang     ruang tamu ini yang telah dihilangkan berhasil didapatkan.
b.      Ruang Keluarga
Ruang keluarga ini terletak di sisi timur ruangan bangunan bekas Istana Raja Dompu, memanjang arah utara-selatan dengan pintu masuk terletak di sisi utara. Menurut keterangan dari pihak keluarga Kesultanan Dompu menyebutkan bahwa ruangan ini dahulunya difungsikan sebagai tempat untuk berkumpul seluruh kelurga Kesultanan Dompu dan juga untuk menempatkan barang-barang peninggalan Kesultanan Dompu. Namun untuk saat ini ruangan kelurga ini sudah tidak difungsikan lagi.
c.       Ruang Tidur
Ruang tidur yang terdapat di bangunan bekas Istana Raja Dompu berjumlah tiga buah, dengan dipisahkan dengan sekat-sekat papan kayu. Ketiga ruang tidur ini terletak di sisi sebelah barat, memanjang arah utara-selatan dengan pintu masuk ke ruangan tidur ini berada di sisi timur. Menurut keterangan dari pemilik bangunan ini ketiga ruangan tidur ini memiliki ukuran yang kurang lebih sama antara satu dengan lainnya.
d.      Dapur
Ruangan yang difungsikan sebagai dapur ini sebenarnya sudah mengalami pemotongan dan sekarang ini tidak ada lagi. Pemotongan terhadap dapur yang terletak paling selatan dari bagunan bekas Istana Raja Dompu ini dilakukan karena pihak keluarga Kesultanan Dompu membuat rumah tinggal permanen di sisi selatan bangunan bekas Istana Raja Dompu. Walaupun keberadaannya sudah tidak ada lagi saat ini, tetapi data-data tentang keberadaan dapur ini masih bisa kita dapatkan dari keterangan-keterangan pihak keluarga kesultanan.
e.       Loteng
Loteng ini merupakan ruangan paling atas dari bangunan bekas Istana Raja Dompu, ruangan ini memiliki ukuran cukup besar dan tanpa memiliki sekat yang membaginya menjadi ruangan-ruangan dengan ukuran yang lebih kecil. Keterangan yang diperoleh di lapangan dapat diketahui bahwa ruangan loteng ini dahulunya dipergunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang berharga milik Kesultanan Dompu. Dalam perkembangannya sekarang ruangan ini tidak dimanfaatkan lagi dan dibiarkan kosong begitu saja.
Data arkeologi adalah data tentang nilai penting bangunan cagar budaya terhadap sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan serta kebudayaan dan memiliki  tingkat keaslian yang meliputi bahan, bentuk, tata letak dan tehnik pengerjaan, untuk menetapkan layak dan tidaknya bangunan dipugar berdasarkan data yang ada.
Bangunan bekas Istana Raja Dompu yang menjadi sasaran dalam kegiatan Studi Teknis Arkeologi, merupakan bangunan yang dipindahkan dari tempatnya terdahulu, awalnya bangunan Istana Raja Dompu ini terletak di tempat Masjid Baiturahman sekarang ini. Pada masa pendudukan Jepang di Dompu bangunan istana ini dijadikan tempat untuk tentara Jepang, sebelum akhirnya dihancurkan oleh Jepang sendiri.
Kemudian pihak keluarga Kesultanan Dompu memindahkan bangunan istananya ke tempat yang sekarang, yaitu berlokasi di Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu.Data arkeologi yang berhasil dikumpulkan pada saat pelaksanaan kegiatan Studi Kelayakan di bekas Istana Raja Dompu adalah sebuah bangunan cagar budaya yang berupa sebuah rumah panggung dengan struktur keseluruhannya terbuat dari bahan kayu. Bangunan istana ini adalah tempat Sultan Dompu dan kerabatnya tinggal pada masa lalu.  Lebih jelasnya mengenai bangunan cagar budaya ini  akan diuraikan.
Bekas Istana Raja Dompu ini merupakan bangunan yang memiliki arsitektur rumah panggung dengan keseluruhan strukturnya terbuat dari bahan kayu (perpaduan antara kayu jati dan kelapa). Memiliki sembilan tiang sebagai tiang utama yang menunjang struktur bagian atasnya. Menurut keterangan dari pihak keluarga Kesultanan Dompu dan juga dari data foto dokumentasi yang berhasil ditemukan dapat diketahui bahwa bangunan istana ini telah mengalami perubahan bentuk. Dimana pada awalnya bangunan istana ini menghadap ke arah timur dengan anak tangga berada di sisi timur. Tetapi saat ini anak tangga untuk naik ke atas istana berada di sisi utara, dan sebagian ruangan yang ada di sisi utara dan sisi selatan bangunan istana ini telah dipotong. Dimana pada awalnya pada sisi utara bangunan bekas Istana Dompu ini merupakan ruangan tamu dan ruangan yang mengalami pemotongan di sisi selatan awalnya adalah dapur.
Seperti telah disebutkan di atas bahwa anak tangga istana ini sekarang terletak di sisi utara bangunan istana, mencapai bagian atas ruangan istana ini kita akan menemui ruangan yang cukup lapang dengan dinding dan lantai yang terbuat dari kayu. Pada awalnya ruangan ini memiliki sekat-sekat pemisah yang membentuk ruangan-ruangan kecil dan berfungsi sebagai ruang tidur keluarga Kesultanan Dompu.
Selain ruangan yang disebutkan di atas, masih ada satu ruangan lagi yang berfungsi sebagai loteng tempat menyimpan barang-barang milik keluarga Kesultanan Dompu. Loteng ini terbentuk dari atap bangunan istana yang bertingkat dua. Atap bangunan istana ini memiliki bentuk atap pelana dengan atap yang terbuat dari genting. Secara keseluruhan kondisi fisik bangunan bekas Istana Raja Dompu ini telah banyak mengalami gejala kerusakan dan pelapukan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor umur yang sudah sangat tua, kondisi lingkungan yang selalu mengalami fluktuasi dan juga karena faktor adanya bencana alam yang pernah melanda wilayah Dompu.

Perlawanan Masyarakat Manggelewa Pada Tahun 1942 (Perang Manggelewa)

Setelah Belanda membuang Sultan Muhammad Sirajuddin bersama kedua anaknya ke Kupang pada tahun 1934, praktis kesultanan Dompu tak lagi memiliki seorang kepala negara. Sebuah komite yang terdiri atas Jeneli. Dompu dan Jeneli Kempo dibentuk untuk menjalankan pemerintahan. Posisi Dompu semakin meredup, secara administratif wilayah Kesultanan Dompu digabungkan dengan Kesultanan Bima. Penggabungan wilayah Kesultanan Dompu menjadi bagian dari Kesultanan Bima baru terwujud secara sempurna pada tahun 1942, pada masa pendudukan Jepang.
Di akhir-akhir masa penjajahannya, Pemerintah Hindia Belanda mengalami serangkaian kekalahan atas Jepang dalam Perang Dunia ke-2. Di Bima, Jepang menjatuhkan bom yang menghancurkan pangkalan bahan bakar Belanda di Pulau Kambing, sebuah pulau kecil di tengah teluk Bima. Serdadu KNIL kalang kabut, rakyat Bima pun sama terkejutnya. Terdengarlah kabar bahwa Jepang telah menguasai Makassar dan penyerahan tanpa syarat oleh Letnan Jenderal H. Ter Poorten – Panglima Angkatan Perang Hindia – Belanda kepada Jenderal Imamura tanggal 4 Maret 1942.
Peristiwa ini menginspirasi para pemuda aktivis perjuangan di Bima, mereka kemudian menyusun sebuah rencana kudeta terhadap kekuasaan Belanda di Bima. Dibentuklah KAPB (Komite Aksi Penangkapan Belanda) pada Maret 1942 yang diketuai oleh M. Qasymir. KAPB terdiri atas para pemuda yang tergabung dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan (HW) Muhammadiyah dan Pemuda Anshor NU serta didukung oleh 14 serdadu KNIL yang membelot. 14 orang serdadu KNIL yang dipimpin oleh Aritonang ini membelot karena kurang suka dengan gaya kepemimpinan Keeper – Kepala Kepolisian Hindia Belanda di Bima – dan akibat mereka telah beberapa bulan tak digaji. Mereka kemudian menyusun strategi penangkapan terhadap seluruh pejabat dan tentara Belanda di Bima secara senyap dan menentukan target-target serangan secara terukur
Pada hari Minggu tanggal 5 April 1942,bergeraklah laskar pejuang menuju titik-titik yang dijadikan target serangan. Aritonang, mantan tentara KNIL Belanda yang memiliki pengalaman militer itu ditugaskan memimpin serangan atas pos-pos serdadu KNIL dan rumah para pejabat Belanda di Kota Raba. Sedangkan M. Qasymir, memimpin sebagian pejuang lainnya untuk melumpuhkan pusat-pusat telekomunikasi Belanda untuk mencegah dikirimkannya informasi pada markas KNIL di luar Bima. Rencana berjalan mulus, semua orang Belanda dan serdadu KNIL ditangkap dan dikumpulkan di asrama Polisi Hindia Belanda di Bima. M. Qasymir lalu menghadap Sultan M. Salahuddin untuk mengabarkan berita gembira ini.
Walaupun rencana sudah disusun rapi dan pos-pos penjagaan telah dibuat untuk mencegah lolosnya orang-orang Belanda, namun ternyata ada 3 pejabat Belanda yang berhasil meloloskan diri. Mereka adalah H.E. Haak (Asisten Residen Sumbawa-Sumba), Pons (direktur algeemene volks credit bank) dan J.W. Ros (Bosh Architect Bima) yang di kalangan orang Bima dijuluki Tuan Komba. Mereka melarikan diri ke Sumbawa Besar. Sultan M. Salahuddin meminta para pejuang untuk menyiapkan diri terhadap rencana balasan dari H.E. Haak. Komite lalu mengirim Hasan Hantabi dan Suwondo ke Sumbawa untuk mengumpulkan informasi tentang rencana Belanda.
Rupanya H.E. Haak berusaha menghasut Sultan Kaharuddin III, penguasa Kesultanan Sumbawa yang juga merupakan menantu dari Sultan M. Salahuddin. Ia menyebarkan berita palsu bahwa para pemberontak telah menangkap dan memenjarakan Sultan M. Salahuddin -mertuanya- dan para pejabat Belanda. Namun sayangnya Sultan Kaharuddin tak terpengaruh.Akhirnya H.E. Haak meminta bantuan pasukan Belanda di Lombok Timur. Pada 12 April 1942,bergeraklah pasukan Belanda menuju Bima. Pasukan ini terdiri atas Polisi Hindia Belanda Sumbawa dan serdadu KNIL serta Polisi Hindia Belanda Lombok Timur.
Jeneli Kempo, Amin Dae Emo, mengabarkan tentang pergerakan Belanda ini kepada rakyatnya. Mereka diperintahkan untuk membantu laskar pejuang dari Bima. Rakyat Dompu kemudian bergabung dengan para pejuang yang datang dari Bima dengan mengendarai 3 buah truk. Rombongan ini tiba di Jembatan Kampaja, Sungai Sori Utu, menjelang larut malam. Para pejuang berencana menyergap pasukan Belanda di tempat itu.
Menjelang subuh, konvoi pasukan musuh terlihat di kejauhan memasuki Desa Banggo. Mereka berhenti di cabang banggo. Begitu mobil pertama musuh memasuki ujung jembatan kampaja Sori Utu, para pejuang langsung menghujani mereka dengan tembakan. Tamin H. Adamdan A. Rasul H. Adam, dari Kempo ditugaskan memimpin pasukannya menyergap Belanda dari arah belakang. Pasukan Belanda terkejut, namun mereka membalas serangan itu dan mampu bertahan hingga siang.
Para pejuang tidak menyerah, mereka terus menyerang dengan menjadikan pohon-pohon asam raksasa yang tumbuh di lembah itu sebagai tempat berlindung. Akhirnya pasukan Belanda menyerah dan mundur, mereka melarikan diri ke arah Sumbawa. Belanda pun dapat diusir untuk selamanya dari tanah Bima dan Dompu. Perang Sori Utudimenangkan oleh para pejuang Bima-Dompu.
H.E. Haak akhirnya bertahan di Lombok Timur dan terus berusaha agar Belanda dapat kembali menduduki Bima dan Dompu walaupun usahanya itu sia-sia. Tahun 1947 Dompu kembali memperoleh statusnya sebagai kesultanan dengan pemerintahan otonomi lewat diplomasi gigih M.T. Arifin Sirajuddin, cucu dari Sultan Muhammad Sirajuddin Manuru Kupa.

SEJARAH MASJID `SYEKH ABDUL GANI
Selain barang-barang peninggalan masa prasejarah ternyata di Dompu banyak terdapat pula beberapa peninggalan atau bangunan kuno lainya meskipun saat ini hanya tinggal sisa-sisa kenangan dan hanya sebatas cerita nostalgia. Namun demikian hal itu membuktikan bahwa Dompu pernah berjaya bahkan sempat mencapai puncak jaman keemasan di masa lampau.
Hampir 99 porsen masyarakat Dompu saat ini memeluk Agama Islam dan sisanya beragama Non Muslim.
Sejarah juga mencatat bahwa Dompu ternyata sangat besar andilnya khususnya dalam upaya masuknya agama Islam di Nusantara khususnya diwilayah pulau Sumbawa lebih-lebih di daerah Dompu itu sendiri. Bahkan bukti-bukti penyebaran Islam di dompu banyak terdapat di daerah ini seperti adanya makam para ulama yang dulu pernah membawa dan menyebarkan ajaran Islam di wilayah Dompu seperti misalnya,adanya makam “Waru Kali” yang terdapat di kelurahan kandai I Kecamatan Dompu. Oleh masyarakat setempat kuburan kuno tersebut di yakini sebagai makam atau kuburan seorang ulama besar yang berasal dari pulau Sumatera yakni Syekh Hasanuddin.
Kemudian ada juga Makam mubalig atau ulama besar lainya yakni makam Syekh Abdul Salam yang berada di Raba Laju Kelurahan Potu Dompu. Selain dua ulama itu di Dompu konon juga dating beberapa ulama dan mubalig besar yang berjasa menyebarkan Islam di Dompu seperti Syekh Umar, Syekh Bantam dari Madiun Jawa Timur, dan juga Syekh Abdullah dari Makasar.
Sejarah juga mencatat bahwa, pengaruh Islam masuk di Dompu sekitar tahun 1628 bahkan pengaruh Islam secara kecil-kecilan sudah mulai masuk di Dompu sekitar tahun 1528, artinya Islam mulai masuk di Dompu sekitar abad ke-16.
Selain bangunan makam atau kuburan ulama,di Dompu ternyata juga ada peninggalan bangunan kuno berupa Masjid. Masjid yang paling terkenal dulu bernama Masjid “Syekh Abdul Gani”. Menurut salah seorang tokoh masyarakat yang juga sebagai pemerhati budaya di Dompu H.Muhammad Yahya kepada penulis di kediamannya di Kelurahan Potu Dompu menuturkan, Masjid Syekh Abdul gani tersebut sebenarnya sudah ada sejak jamannya Sultan Abdullah (1871-1882) ayah kandung dari Sultan Dompu yang ke-20 yakni Sultan Muhammad Siradjuddin (Manuru Kupa). Konon masjid tersebut berada atau terletak di dekat bangunan komplek Istana kesultanan Dompu yang saat itu berada di lokasi Masjid Agung Baiturahman (Masjid Raya Dompu). Sayang masjid Syekh Abdul Gani yang juga dikenal dengan nama Masjid Istana tersebut kini lokasinya sudah berdiri bangunan Kantor pemerintah kelurahan Karijawa Kecamatan dompu.
Menurut H.Muhammad Yahya, masjid peninggalan kesultanan tersebut konon ada kaitanya dengan nama besar seorang ulama dan mubalig kondang yakni Syekh Abdul Gani. Bagi masyarakat Dompu nama Syekh Abdul Gani merupakan seorang ulama besar yang sangat berjasa menyebarkan Islam di daerah ini bahkan di pulau Lombok dan Sumbawa serta Bima,Syekh Abdul Gani dikenal sebagai ulama besar yang berjasa membawa Islam di wilayah NTB bahkan di Nusantara. Syekh Abdul Gani konon pernah bersama dengan tokoh pendiri NU (Nahdlatul Ulama) sama-sama menimba ilmu agama Islama di tanah suci Makkah Al-Mukarrohmah,bahkan syekh Abdul Gani merupakan salah seorang Imam masjid di Masjidil Harram di Makkah.
H.Muhammad Yahya juga menuturkan, bangunan Masjid Syekh Abdul Gani di bongkar sekitar tahun 1950-an. Sedangkan bangunan Istana Kesultanan Dompu di bongkar pada saat Jepang masuk di Dompu sekitar tahun 1941. Lokasi atau tempat bangunan Istana Kesultanan Dompu kini sudah berdiri sebuah masjid yakni Masjid Agung Baiturahman Dompu (Masjid Raya Dompu).
Meskipun Masjid Syekh Abdul Gani kini hanya tinggal nama,tetapi di Dompu juga masih ada peninggalan sisa jaman keemasan Islam di daerah ini, bangunan tersebut yakni Masjid Al-Mansyur (Syekh Mansyur).
Masjid tersebut terletak di kampung Magenda Kelurahan Potu Kecamatan Dompu. Menurut H.Muhammad Yahya, masjid tersebut dulu hanya sebuah bangunan Mushola dan di bangun oleh Syekh Mansyur. Siapakah sosok ulama besar bernama Syekh Mansyur tersebut.
Almarhum Syekh Mansyur dikenal sebagai seorang ulama dan mubalig yang cukup kharismatik sama persis almarhum ayahandanya yakni Syekh Abdul Gani. Di kampung Magenda inilah konon Syekh Mansyur melakukan pusat berdakwah sekaligus menjadikan kampung Magenda sebagai pusat kegiatan Islam di dompu. Setelah syekh mansyur wafat,sebenarnya almarhum hendak dimakamkan di wilayah “SO JA`DO” sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Bali I Dompu.
Namun karena banyak pertimbangan oleh para tokoh-tokoh masyarakat saat itu,akhirnya almarhum di kuburkan berdekatan dengan masjid yang didirikannya itu (Masjid Al-Mansyur/Masjid Syekh Mansyur).Masjid yang sudah mengalami perombakan selama empat kali itu,kini kondisinya cukup bagus dan merupakan bangunan permanen.
  

Karomah Ruma Sehe Dompu

Sebagai seorang ulama yang sangat dekat dengan Allah, seorang Ruma Sehe pasti memiliki banyak kisah karomah. Sebagaimana Ulama-ulama Islam lainnya, Ruma Sehe pastilah diberikan kelebihan berupa karomah oleh Allah yang tidak diberikan kepada orang biasa.
Sebut saja Syekh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi, begitu banyak kisah tentang karomah yang dimiliki oleh kakek dari Syekh Mahdali atau Sehe ‘Boe – ulama kharismatik di Dompu hingga Bima – ini. Di Dompu, pengaruh Ruma Sehe sangat besar bahkan melebihi pengaruh Sangaji (Raja Dompu). Pengaruh itu bahkan bukan hanya sebatas di Dompu, bahkan masyarakat Bima sebagai suku yang serumpun dengan Dompu pun menghormati dan memuliakan seorang Ruma Sehe dan keturunannya. Sebab dahulu, salah seorang Ruma Sehe, yakni Syekh Subuh pernah menjadi hakim agung dalam struktur Kerajaan Islam Bima.
Penghormatan dan pengagungan masyarakat Dompu dan juga Bima terhadap Ruma Sehe sebagai Ulama dapat terlihat hingga kini. Ketika disebut namanya, masyarakat pasti akan berbondong-bondong mengirimkan bacaan Surah Al-Fatihah. Semua itu tidak lain karena penghormatan mereka pada ulama, orang yang dianggap sebagai yang paling taqwa kepada Allah. Hingga kokok ayam pertama menjelang subuh oleh orang Bima dan Dompu dikatakan: koko janga Ruma Sehe (Kokok ayam Tuan Syaikh). Hal ini berasal dari anggapan bahwa Ruma Sehe begitu awal bangun bahkan mungkin mereka tidak tidur sepanjang malam karena sibuk beribadah mendekatkan diri pada Allah. Kokok ayamnya saja sebagai pertanda telah masuk waktu subuh, lebih dini dari ayam lain.
Misalnya saja, menurut kisah, karomah Syekh Abdul Ghani kakek dari Syekh Mahdali (Sehe ‘Boe), secara ajaib pernah menyebabkan Ka’bah miring hanya karena kopiah beliau terpasang miring. Ceritanya, dalam satu majelis di Masjidil Haram beliau sedang berada dengan sejumlah ulama. Seorang di antara mereka merasakan keanehan, melihat Ka’bah miring. Ia pun menyampaikan hal itu kepada pimpinan majelis. Semula para ulama, teman-teman Syekh Abdul Ghani bingung. Tapi pimpinan majelis melihat ke Syekh Abdul Ghani seraya berkata,”Ada orang amat saleh di antara kita.” Dia lalu meminta Syekh Abdul Ghani meluruskan kopiahnya. Setelah kopiah Syekh Abdul Ghani ke posisinya, Ka’bah pun tegak seperti semula.
Dalam kisah lain disebutkan, suatu waktu Syekh Abdul Ghani sedang duduk dalam satu majelis di Masjidil Haram. Pemimpin majelis tiba-tiba mengajukan pertanyaannyeleneh kepada Syekh Abdul Ghani tentang Allah. “Syekh Abdul Ghani, menurut tuan Allah sedang melakukan apa sekarang?” bertanya pimpinan majelis. Syekh Abdul Ghani tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Sejurus beliau diam, lalu berkata, “Tuan, boleh kita bertukar tempat?” kata Syekh Abdul Ghani seraya meminta ketua majelis turun dari mimbar, untuk kemudian Syekh Abdul Ghani duduk di tempat tersebut. Setelah di mimbar, Syekh Abdul Ghani berkata, “adapun yang dilakukan Allah adalah baru saja menggeser posisi duduk saya dengan tuan.” Pimpinan majelis menyatakan puas dan kagum pada Syekh Abdul Ghani.
Kemampuan Syekh Abdul Ghani mengetahui sesuatu sebelum ditunjukkan atau mengerti tanpa belajar dikatakan memiliki ilmu laduni. hanya ulama-ulama yang sudah benar-benar hubullah atau cinta Allah yang bisa memiliki ilmu tersebut. Dalam satu perjalanan ibadah haji dari Mekah ke Madinah, Syekh Abdul Ghani pernah mendapat keajaiban. Beliau berjalan dengan beberapa orang dalam rombongan.
Di tengah perjalanan, rombongan itu menemukan sesosok mayat yang membusuk. Teman-teman Syekh Abdul Ghani menjauhi mayat itu karena bau. Sebaliknya Syekh Abdul Ghani mengurus mayat tersebut dan menguburkannya. Ketika Syekh Abdul Ghani hendak menutup lubang kubur, mayat itu tiba-tiba berbicara dan memberitahukan sejumlah rahasia kepada Syekh Abdul Ghani. Mayat itu ternyata jelmaan malaikat. Salah satu rahasia tersebut adalah jawaban dari sayembara unik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Khilafah Utsmaniyyahyang akan digelar di Mekah.
Saat itu, Negara Islam Khilafah Utsmaniyyah memerintah wilayah dari Maroko sampai Kesultanan-kesultanan di Nusantara. Hijaz (Jazirah Arab) adalah salah satu Provinsi Khilafah Utsmaniyyah. Sekembalinya ke Mekah, Syekh Abdul Ghani mengikuti sayembara itu dan di luar dugaan ternyata mampu menebak isi bungkusan yang disodorkan kepadanya. Yakni berupa tulisan Surat Al-Ikhlas. Atas kemampuannya, Syekh Abdul Ghani memperoleh tanah wakaf dari Syarif Mekah, gubernur (Arab: wali) Khilafah Utsmaniyyah untuk wilayah Hijaz.

Rahasia Karomah Para Ruma Sehe
Rahasia karomah seorang ulama sejatinya adalah karena kedekatan mereka pada Allah. Dan kedekatan ini hanya dapat dibangun dengan bertaqwa pada-Nya. Yakni mematuhi Syariah Islam yang telah diturunkan oleh Allah SWT. Mematuhi Syariah artinya menjauhi seluruh larangan Allah dan melaksanakan seluruh perintah Allah. Zaman dahulu, tidaklah mengherankan kita banyak menemukan ulama dengan karomah dari Allah. Mengapa? Sebab dahulu Syariah Islam masih tegak secara sempurna seluruhnya oleh institusi pelaksananya.
Sebagaimana Imam Al-Ghazali menulis di dalam kitabnya Iqthishad fi al i’tiqadbahwa institusi penjaga (yakni pelaksana) Syariah Islam adalah Ash sulthan (baca: Kekuasaan, Negara). Negara itu menurut hadis Rasul, berbentuk Sistem Khilafah yang berbeda dengan sistem demokrasi kapitalis maupun demokrasi sosialis. Negara Khilafah ini pernah berdiri selama 13 abad lamanya dan tidak pernah hilang dari muka Bumi keculai setelah Inggris menghancurkannya dan secara resmi menghapuskannya pada 3 Maret 1924. Keberhasilan Inggris ini adalah hasil dari usaha keas kaum Yahudi dan Kristen selama hampir sepuluh Abad lamanya. Dan baru berhasil dilaksanakan lewat agen mereka, Mustafa Kemal Attaturk.
Adapun di Dompu, Syariah Islam telah diterapkan oleh Kerajaan Islam Dompo atau Kesultanan Dompo. Wajar jika manusia bisa bertaqwa, bisa dekat dengan Allah. Karena manusia dapat dengan mudah melaksanakan perintah Allah dan dipaksa oleh negara untuk meninggalkan seluruh larangan-Nya. Para Ruma Sehe bahkan merupakan individu yang menjadi tumpuan pengawalan dalam penerapan Syariah Islam di Dompu dan juga Bima. Jasa mereka sangat besar bagi Dou Sapaju Dana Dompudalam penerapan Syariah Islam oleh negara.
Ketika penguasa keliru dalam kebijakannya, para Ruma Sehe-lah orang pertama yang akan mengoreksi mereka agar penguasa itu kembali mematuhi Syariah Islam. Wajar jika Allah sangat mencintai Ruma Sehe dan memberikan keistimewaan untuk mereka berupa karomah. Kecintaan Allah pada mereka mengakibatkan manusia juga mencintai mereka. Barangsiapa dicintai oleh penduduk langit pasti akan dicintai pula oleh penduduk Bumi.
Kedekatan para Ruma Sehe dengan Allah inilah rahasia karomahnya. Ketika seorang manusia dekat dengan Allah, maka Allah akan selalu hadir menjaganya, Allah akan mengabulkan doanya dan menolongnya ketika manusia itu memohon pertolongan. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman:
“Barangsiapa menghinakan kekasih-Ku (wali-Ku), ia telah terang-terangan memusushi-Ku. Wahai anak adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang terus menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunnah, maka Aku pasti akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya, Aku akan menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya, Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta kepada-Ku, maka pasti aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku maka pasti Aku akan menolongnya.” (Hadis riwayat Imam Ath Thabrani dalam Kitab Al-Kabiyr).
Karomah Sehe ‘Boe
Banyak cerita masyarakat mengenai karomah para ruma sehe. Ada cerita yang mengatakan bahwa mereka dapat hadir shalat di Masjidil Haram, dapat berpindah tempat dari Dompu ke Makkah secara ghaib, dll. Namun semua cerita itu menurut MADA semuanya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Semuanya hanya klenik yang berbahaya bagi aqidah seorang muslim. Namun saya menemukan satu karomah luar biasa yang dimiliki oleh Para Ruma Sehe, termasuk Ruma Sehe Mahdali. Yakni ketundukan manusia kepadanya.
Tahukah anda bahwa ketundukan dan kepatuhan orang lain kepada seorang Ulama adalah termasuk karomah? Karena tidak semua orang yang berbicara agama akan diikuti perintah atau ucapannya. Orang biasa yang berbicara, sangat berbeda hasilnya dengan ucapan dari ulama. Meskipun topik yang dibahas sama dan dalil yang diucapkannya tak beda.
Ketaqwaan, kedekatan dengan Allah azza wa jalla, dan juga kecintaannya pada Allah itulah yang membuat seorang manusia karomah dalam ucapannya. Meskipun retorikanya tidak lincah, meskipun teknik penyampaiaannya biasa saja. Dalam hal ini, Ruma Sehe Mahdali rahimahullah memiliki semuanya. Sehingga beliau begitu dihormati, ucapannya diikuti, perintahnya ditaati, teladannya dicontohi. Begitu kita menyebut namanya maka ribuan orang akan langsung membacakan Al-Fatihah untuknya. Itulah karomah beliau. Jadi, tak perlu mencari-cri cerita klenik atas karomah beliau.
Kita Bisa ‘Menciptakan’ Orang Dengan karomah Seperti Syekh Mahdali

Patut kita bertanya, sistem apakah yang kemudian menghasilkan kualitas orang seperti Ruma Sehe dengan keluasan ilmunya, juga dengan ketaqwaan dan kecintaannya pada Allah?Ingat, bahwa mereka hidup di zaman di mana Negara Khilafah Islam masih tegak, Syariah Islam masih diterapkan dan dikawal oleh Negara. Sistem pendidikan Islam yang menjadi kunci terbentuknya pribadi-pribadi shalih. Sistem pendidikan Islam menjadikan aqidah Islam sebagai azas dalam pendidikan. Sehingga aqidah Islam akan menjadi pelajaran pertama dalam kurikulum dan adab menjadi bidang studi selanjutnya. Baru kemudian diberikan pelajaran lain seperti fiqh, bahasa Arab dan sains. Pendidikan Islam akan disterilkan dari teori-teori sesat seperti teori evolusi charles Darwin.
Selain itu, Negara Islam juga akan mengkondisikan masyarakat untuk bertaqwa. Segala perilaku menyimpang dan maksiat yang akan merusak aqidah dan moral masyarakat akan diberantas. Pelaku kejahatan dihukum berat. Suasana ketaqwaan begitu kental terasa, sangat cocok untuk belajar dan menghasilkan generasi emas. Tidak ada ceritanya hafalan ayat terlupa akibat aurat yang dipertontonkan secara massal. Sebab rimpu sebagai kerudung (khimar) lokal sudah mentradisi.
Dan semua itu hanya terjadi ketika ummat Islam hidup dalam sistem Islamiy. Yakni di dalam Daulah Islam, Khilafah Islamiyyah dan Kerajaan Islam-kerajaan Islam yang menjadi bawahannya. Khilafah Utsmaniyyah dan Kerajaan Islam-kerajaan Islam yang menjadi bawahannya di Nusantara menjadi penjaga Syariah Islam. Mereka menerapkan Syariah Islam.
Jadi, kualitas orang seperti Ruma Sehe hanya dapat kita temukan dalam sistem Islam. Di dalam Khilafah Islam yang menerapkan Syariah Islam.Maka jika anda menginginkan diri anda atau anak anda memiliki karomah seperti ruma Sehe, anda butuh Syariah dan Khilafah. Insya Allah, Khilaafah inilah yang akan segera tegak.

Mitos di Balik Situs Doro Bata
Doro Bata adalah sebuah Situs Sejarah yang dilindungi. Bukit yang letaknya di bagian Selatan Kota Dompu atau tepatnya di Kelurahan Kandai I itu,  sepintas tampak tidak berbeda dengan bukit-bukit lainnya. Namun Mitos di balik tampilanya yang biasa-biasa itulah yang membuatnya menarik untuk dilirik, bahkan seorang Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia Prof. GJ. Held bersama  asistennya Koentjaraningrat tertarik untuk melakukan penelitian di Doro Bata pada tahun 1954.
Kemudian di tahun 1968, Dari hasil pengamatan Penulis, bisa terlihat adanya susunan bata-bata yang teratur rapi mirip bangunan berbentuk segiempat. Jadi Penulis menyimpulkan, Doro Bata yang berukuran kurang lebih 20 x 30 m adalah tanah yang menimbun sebuah bangunan.
Kemudian pada tahun 1973, dilakukan survey resmi oleh team Kepurbakalaan Depdikbud Jakarta. Dari hasil  survey tersebut dapat diungkap  beberapa hal di bawah ini :
a.       Doro dalam bahasa daerah Dompu berarti Bukit/Gunung.Lokasinya berada di bagian Selatan Kota dompu. Tepatnya di Kelurahan Kandai I. Situs ini telah lama dikenal masyarakat dari cerita yang diwariskan secara turun temurun, bahkan bata-bata yang diperoleh dengan cara menggali di Doro Bata telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan oleh warga. terdapat susunan bata-bata merah. Pada bagian atas dari Doro Bata dierdapat sebuah sumur dari Batu sedalam 65 cm.
b.      Setelah ditemukannya benda-benda bernilai Sejarah di sekitar Doro Bata, maka oleh Pemerintah sejak tahun 1968 melarang warga untuk melakukan penggalian liar lagi.
c.       Doro Bata juga  menjadi sebuah tempat peristirahatan bagi keluaga Sultan. Terdapat sungai yang mengalir di bawah bukit bernama Sori(Sungai) Lio. Lio artinya Naga, lambang dari Kerajaan Dompu. Sungai itu dulunya menjadi tempat mandinya putri-putri Raja.
d.      Seorang tukang kebun yang sebelumnya pernah mengalami mimpi aneh menemukan beberapa keramik berupa, guci, Cupu (Tempat Perhiasan), cangkir, piring, saat sedang menggarap kebunnya di Dorongao, tidak jauh dari Doro Bata. Barang-barang temuan tersebut selanjutnya diamankan di Polres Dompu.
Tidak puas dengan informasi-informasi tersebut, Penulis mencoba mengorek cerita dari Sumber Lisan yang bisa dipercaya, antara lain Bapak  H. M. Ali M. Kamaluddin (Kandai II), seseorang yang juga ditemui oleh Professor GJ. Held untuk diwawancara. Ringkasan cerita beliau tentang Doro Bata adalah sebagai berikut : 
1.      Doro Bata merupakan Istana yang ditimbun. Dibangun oleh Sultan Syamsuddin dan dulunya merupakan Ibu Kota Kerajaan sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi Masjid Agung Baiturrahman oleh Sultan Abdurrasul II.
2.      Tempat bersemayamnya atau dikuburnya  Sultan Abdurrasul II (Manuru Bata). MANURU dapat diartikan sebagai tempat bersemayamnya atau bisa juga diartikan sebagai tempat dikuburkannya seorang Sultan.
3.      Sumur sedalam 65 cm yang letaknya di atas Doro Bata memiliki cerita mistis tersendiri. Konon sumur ini bisa memancarkan air bertuah yang dipergunakan oleh masyarakat untuk mengobati beberapa penyakit. Setelah melakukan ritual Toho Ra Dore untuk menggugah Parafu yang menjaga sumur tersebut, maka jika beruntung atau mendapat simpati dari Parafu penunggu Sumur, dari dalam sumur akan memancar keluar air yang dipinta oleh pemohon. Jika salah melengkapi Sesajian yang menjadi persyaratan ritual, maka keinginan pemohon bisa-bisa tidak dikabulkan. Air yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit itu dipergunakan untuk memandikan si sakit.
Setelah beberapa informasi yang disajikan, masih ada pertanyaan ? Seperti halnya Penulis, tanda tanya besar yang masih menggantung adalah : Siapa dan Mengapa Istana Bata ditimbun ? Apakah Sultan Abdurrasul II sebelum akhirnya memindahkan pusat Pemerintahan ke lokasi Masjid Agung Baiturrahman ?  Cerita yang beredar, bahwa Istana Bata ditimbun karena Sultan Dompu saat itu Abdurrasul II tidak sudi menyerahkan Istana Bata untuk dikuasai Belanda.  
Misteri ini hanya bisa diungkap dengan melakukan penggalian terhadap Situs Doro Bata. Namun hal ini pastinya membutuhkan biaya, tenaga, dan pikiran yang tidak sedikit.
Apalagi, konon penggalian ini akan berhadapan dengan KUTUKAN WASIAT dari Sang Penimbun, bahwa   AKAN ADA MALAPETAKA BESAR BAGI WARGA SEKITAR, JIKA BUKIT DORO BATA DIBONGKAR. Benar atau tidaknya KUTUKAN itu hanya bisa dibuktikan dengan melakukan penggalian. 

HARTA KARUN DOMPU YANG TERPENDAM
SEKTOR PARIWISATA DI KAB. DOMPU


Potensi wisata di Kabupaten Dompu :
1.      Pantai Lakey
Pantai Lakey Kecamatan Hu’u adalah salah satu lokasi berselancar terbaik dunia. Karena kehebatan dan konsistensi ombaknya, setiap tahunnya pantai Lakey secara reguler dijadikan sebagai tuan rumah dari kompetisi selancar tingkat dunia. Pantai Lakey – Hu’u terletak kira-kira 5 jam dari kota Sumbawa Besar dan dari kota Dompu kira-kira memakan waktu 1 jam 45 menit ke arah selatan. Pantai Lakey-Hu’u mempunyai kehebatan 4 jenis ombak yaitu : Lakey Peak, Cobble Stones, Lakey Pipe dan Periscop. Dan beberapa kilometer di dekat pantai Lakey anda akan menemukan Spot lain yang tak kalah hebatnya yang dikenal dengan Periscop, bagian yang paling konsisten dan hebat dalam berselancar di Lakey yaitu Lakey Peak.
2.      Pulau Satonda
Pulau Satonda terletak di daerah utara pulau Sumbawa dikenal juga dengan nama Gunung Satonda, memiliki ketinggian 289 Km diatas permukaan laut dengan luas wilayah seluas 4,8 Km. Gunung ini memiliki kawah danau air asin dengan diameter 0,8 Km yang letaknya di tengah-tengah pulau. Ikan yang hidup di Danau Satonda hanya mencapai ukuran 5 cm dan sampai saat ini masih misterius kenapa ikan yang ada di dalam Danau Satonda tidak dapat berkembang dengan bagus.
Pulau Satonda dikelilingi oleh batu karang dan memiliki ragam ikan hias yang sama jenisnya dengan yang ada di Indonesia. Inilah keunikan dan keajaiban Pulau Satonda, Pulau Satonda merupakan tempat yang tersembunyi dengan lautnya yang biru dan gunung berapi yang menjulang tinggi. Pulau Satonda merupakan tempat yang paling sempurna untuk berenang dan menyelam sembari menikmati air danau yang tenang. Untuk dapat mencapai Pulau Satonda anda dapat melalui jalan darat dengan lama perjalanan dari Sumbawa Besar kira-kira 8 jam dan dari Dompu kira-kira 5 jam dan juga dapat melalui laut.
3.      Lepadi (Arena Pacuan Kuda Tradisional).
Lepadi terletak 5 Km di bagian selatan kota Dompu dan terkenal dengan pacuan kuda tradisionalnya, pacuan kuda dilaksanakan setiap tahunnya. Uniknya, joki yang menunggang kuda-kuda pacuan ini masih sangat muda, usia mereka tidak melebihi 8 tahun, tetapi keahlian mereka dalam mengendalikan dan memacu kudanya tidak perlu diragukan lagi.
4.      Calabai
Merupakan kota kecil penghasil kayu yang terletak diujung utara semenanjung Gunung Tambora. Gunung Tambora seperti yang telah diketahui merupakan pusat dari letusan terdahsat yang pernah ada dalam sejarah, gunung Tambora mendominasi semenanjung utara Pulau Sumbawa, dengan ketinggian 2.851 meter diatas permukaan laut, berwarna coklat dan diselimuti oleh hutan lindung yang lebat, suatu perbedaan yang kontras dengan alam sekitarnya. Untuk mendaki Gunung Tambora yang besar dapat dimulai dari Desa Pancasila yang terletak di kaki Gunung Tambora.
Pendakian ke Gunung Tambora diperlukan 3 hari 2 malam melalui hutan lindung. Untuk mengurangi resiko selama pendakian, disarankan untuk menyiapkan diri selama pendakian oleh karena banyaknya lintah di dalam hutan lindung.
Kawah Gunung Tambora merupakan salah satu kawah dengan panorama yang spetakuler yang ada di Indonesia. Perjalanan menuju Calabai dapat ditempuh dalam waktu 8 jam dari Sumbawa Besar, 5 Jam dari Dompu dan 6 jam dari Bima.
5.      Situs Nangasia
Terletak di Kawasan Wisata Lakey. Diperkirakan 4.500 SM Nenek Moyang masyarakat Dompu sudah mempunyai peradaban dan menguasai teknologi yang cukup tinggi, yang ditandai dengan ditemukannya berbagai peninggalan dimasa lampau berupa, manik-manik dan keramik. Di Kawasan Situs ini juga ditemukan Batu Kursi (Wadu Kadera) yaitu batu berupa kursi tempat penobatan para Ncuhi (Pemimpin), bekas Telapak Kaki Ncuhi dan Kubur Duduk. Situs ini ditemukan oleh tim Arkeologi Pusat Jakarta dan Denpasar-Bali.
6.      Nanga Tumpu
Nanga Tumpu terletak di jalur Jalan Raya Sumbawa – Dompu dengan jarak dari ibukota Kabupaten Dompu 30 Km dengan waktu tempuh 25 menit. Kawasan ini memiliki berbagai gugusan Pulau-pulau kecil seperti: Nisa Pu’du, Nisa Rate, Nisa Maja, Nisa Ko’do dengan hamparan pasir putih yang sangat indah. Kawasan Nanga Tumpu dan sekitarnya sangat cocok untuk kegiatan berenang, memancing dan menyelam.
Pada saat musim angin selatan dan barat (sekitar bulan Januari, Pebruari, Maret, Juli dan Agustus) sangat cocok untuk kegiatan olah raga Wind Surfing, Kite Surfing dan Lomba perahu layar tradisional. Di tempat ini tersedia fasilitas rumah makan.

7.      Nanga Doro
Nanga Doro adalah daerah resort pegunungan tradisional di dekat Hu’u yang terkenal dengan sumber mata air panasnya dimana suhunya mencapai 80 derajat Celsius. Tempat ini benar-benar merupakan tempat yang paling sesuai untuk beristirahat dan melemaskan otot-otot yang sakit setelah sehari penuh berselancar.
8.      Mada Prama
Terletak hanya sekitar 4 Km dari kota Dompu, wilayah hutan lindung ini merupakan rumah para marga satwa dan flora lainnya. Mada prama juga memiliki kolam renang dengan pemandangan yang indah.
9.      Pantai Ria
Terletak di wilayah pantai sebelah Barat Teluk Cempi yang indah. Pantai Ria yang alami dengan pasir putihnya yang lembut merupakan salah satu wilayah terpencil di Sumbawa Tengah dengan keindahannya yang agung, tempat dimana anda bisa melarikan diri dari rutinitas yang melelahkan dan bersantai bersama keluarga.
DAFTAR RUJUKAN
Soeryanto, Agoes H.R.M. 2013, Sejarah Kabupaten Dompu.
Kabupaten Dompu.Smart Writing.

Van Niel, Robert. 2003. Sistem Tanam Paksa Di Jawa. LP3ES

Djoened Marwati dan Nugroho Notosusanto.1993. Sejarah
NasionalIndonesia IV. Jakarta : Balai Pustaka

AdamWarman Asvi. 2009. Pelurusan Sejarah Indonesia (edisi
2009). Jogyakarta:Ombak

Kusuma dan Agustina. 2003.Perlawanan merupakan bentuk dari
pernyataan  sikap yangdilakukan oleh masyarakat.Jakarta:
GramediaPustaka.

Nugroho Dwi Midi. 2011. Konflik Indonesia Belanda Dan
perjuangan bersenjata Mempertahankan kemerdekaan.
Jakarta: KencanaPrenada MediaGroup.

M. El. Hayyat Ong. 2007. Dompu Yang Kecil Mungil. Dompu;
            Perc. Studi Budaya.
           
Badan Pusat Statistik. 2014. Letak Geografis Kabupaten Dompu.
            Dompu; BPS Dompu

Muslimin Hamzah, 2008. Laksana Awan, Kisah Perjuangan M.
Salahuddin. Bima: Pemkab Bima.

Fahrurizki, Drama penculikan para pejabat belanda di Raba,
mbojoklopedia. Com

Anonim, Perang Manggelewa, ompuworo.blogspot. com
Riwayat Penulis
Bachrizal Bakhtiar D., S. Pd.dilahirkan di Ling. Renda, Kelurahan Simpasai, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Provinsi NTB pada tahun 1990, anak pertama dari 6 bersaudara dari pasangan AbdulRajak bin. M. Nor dan Ibu Faridah bin. H. Husen. SetamatSDN No. 2 Woja (2001) masuk SMP hingga tamat tahun 2006, kemudian melanjutkan ke SMA dan tamat tahun 2010. Semuanya diikuti di
kabupaten Dompu NTB.
Sejak tahun 2010 mulai mendaftarkan diri di salah satu Perguruan Tinggi di Kabupaten Dompu, yaitu STKIP Yapis Dompu dengan prodi pendidikan sejarah dan mendapatkan gelar sarjana pada tahun 2016. pada masa kuliah penulis aktif diberbagai organisasi Kemahasiswaan diantaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Forum Komunikasi Unit Sejarah (FOKUS), Lembaga Pers Mahasiswa Al-amin (LEPMA Al-amin), Kumpulan mahasiswa Pecinta Alam (KUMPA) serta KNPI PK.Woja
Dalam organisasi pernah menjabat sebagai Sekertaris Umum PC.PMII masa khidmat 2014-2015, Ketua Umum FOKUS 2011-2013, Wartawan Lembaga Pers Al-Amin, Pelopor Kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam serta mengikuti berbagai pelatihan, diantaranya Pelatihan Kader Dasar (Dompu), Pelatihan Kader Lanjut (Lombok Tengah), Training Publik Speaking (Al-Amin), dan lain sebagainya.
Buku Hitam Putih Dompu Tercinta merupakan buka cetakan kedua dari Arah Gerakan Mahasiswa Yang Ideal yang dibuat pada tahun 2015.



Comments

Popular posts from this blog

Pariwisata Dompu: 1,8 Miliar!!

 Pariwisata Dompu: 1,8 Miliar Dompu punya rencana. Bagian dari Misi 4: "Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal". Salah satu lokomotifnya: Pariwisata. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang memegang kemudi. Strateginya sudah dirumuskan. Ada promosi. Ada penataan destinasi. Ada pembangunan sarana-prasarana. Juga pemberdayaan masyarakat. Dan pengembangan event. Semua kata-kata standar dalam rencana pariwisata. Sekarang, mari kita lihat harganya. Berapa uang yang disiapkan Dompu di salah satu tahun (2027) untuk "menjual" tampangnya? Total Pagu Indikatif untuk Urusan Pariwisata: Rp 1.827.000.000,00. Satu koma delapan miliar rupiah. Tidak besar. Tidak juga kecil sekali. Uang ini dibagi menjadi tiga program utama. Program pertama, yang paling gemuk: "Peningkatan Daya Tarik Destinasi Pariwisata". Anggarannya: Rp 1.015.000.000. Lebih dari separuh total kue. Tujuannya: "Meningkatnya kunjungan wisata". Indikatornya jelas: "Persentase Per...

Kertas Anggaran pendidikan, kepemudaan dan olahraga Dompu 2026

 Kertas Anggaran Pendidikan dan Olahraga 2026 Mari kita lihat angka. Selalu menarik melihat angka-angka dalam dokumen rencana. Kali ini kita bedah Rancangan Anggaran Dompu untuk tahun 2026. Fokusnya: Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Di atas kertas, angkanya gemuk. Dinas ini mendapat jatah Rp 407 Miliar. Tepatnya Rp 407.067.841.174. Berapa itu dari total kue APBD? Total belanja daerah Dompu tahun 2026 diproyeksikan Rp 1.476.721.048.949. Kalau dihitung-hitung, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menyedot 27,57 persen. Lebih dari seperempat kue APBD. Angka yang besar. Sangat besar. Kesan pertama: Dompu sangat memprioritaskan pendidikan. Sesuai mandat konstitusi. Tapi, mari kita lihat isi di dalam Rp 407 Miliar itu. Anggaran dinas ini dibagi dua urusan besar: Pendidikan, lalu Kepemudaan dan Olahraga. Urusan Pendidikan dapat porsi terbesar. Tapi di dalamnya, ada satu program yang menyedot hampir semuanya. Namanya: "Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah". Besarnya: Rp ...

Berutang Demi Air, Bertaruh pada Cahaya.!!

Berutang Demi Air, Bertaruh pada Cahaya.  Utang..!! Satu kata. Lima huruf. Bagi sebagian orang, ini aib. Bagi Bupati Dompu, ini jalan keluar. Dia memilih jalan ini. Menggadaikan masa depan --dalam hitungan tenor pendek-- demi air yang menetes.  Rencananya sederhana. Meminjam uang. Bukan ke rentenir. Tapi ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Alasannya klise tapi genting: PDAM sedang "Sakit". Lampu jalan mati. Bupati tidak sedang bermain dadu. Dia sedang bertaruh reputas. Ini langkah politik yang berisiko. Bunuh diri? Mungkin. Heroik? Bisa jadi. Tergantung airnya mengalir atau tidak. Mari bicara angka Rp70 Miliar. Itu angka tentatif yang diajukan. Tidak kecil untuk ukuran APBD Dompu yang harus dibagi-bagi. Skemanya pinjaman daerah. Krediturnya PT SMI --BUMN di bawah Kemenkeu yang memang "bank-nya" infrastruktur pemerintah. Realisasinya direncanakan tahun 2026. Kondisi objektifnya memang memprihatinkan. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) punya rapor un...