Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...

HITAM PUTIH DOMPU TERCINTA
"Bachrizal Bakhtiar D. S. Pd"
"Bachrizal Bakhtiar D. S. Pd"
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesabaran sertakekuatan
kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Buku tentang Hitam Putih
Dompu Tercinta.Buku ini adalah buku cetakan kedua
dari Buku Arah Gerakan Mahasiswa Ideal. Buku
Hitam Putih Dompu Tercintaterinspirasi
dari kegalauan penulis akan referensi
yang berbentuk buku mengenai Kabupaten Dompu, selain dari pada itu penulis
menulis buku ini untuk membuktikan kepada seluruh lapisan masyarakat Dompu
bahwasanya anak seorang kuli bangunan yang jalan keluyuran setiap malam mampu
memberikan sedikit manfaat mengenai ilmu sejarah khususnya sejarah Dompu untuk
masyarakat dompu.
Penulis menyadari bahwa dalam proses
penulisan Buku ini tidak terlepas dari peran, dorongan,
dukungan,dan saran dari berbagai pihak.Dengan ketulusan dan kerendahan hati
penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak lebih-lebih kepada ayahanda Abdul Rajak M. Nor dan Ibunda Faridah
H. Husen yang senantiasa mengarahkan penulis dan mampumenyelesaiakanbuku
ini.Ucapan terima kasih penulis ucapkan
kepada rekan-rekan mahasiswa yang tergabung (PMII) dan (KUMPA).
Dompu 12 Juni 2016
Bachrizal Bakhtiar D., S. Pd
KATA PERSEMBAHAN PENULIS
Ass..........wr.......wb......
Dengan memohon rahmat dan hidayah kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan hidayah dan karunianya kepada kita semua, lebih-lebih kepada
penulis, sehingga penulis mampu menyelesaikan buku tentang cerita-cerita
sejarah Dompu yang berjudul Hitam Putih
Dompu Tercinta. Dalam buku ini penulis lebih menceritakan beberapa
fenomena-fenomena sejarah yang ada di Dompu yang penulis ketahui secara
ringkas.
Buku Hitam Putih Dompu
Tercinta ini penulis persembahkan untuk orang-orang yang berjasa dalam memberikan
saran, masukan, dukungan serta dorongan untuk penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan tulisan ini yang mungkin dapat memberikan manfaat tambahan
referensi untuk generasi penerus Dompu. Buku ini penulis persembahkan untuk:
a.
Ayahanda
Abdul Rajak M. Nor dan Ibunda Faridah H. Husen yang selama ini telah mendidik
serta membesarkan penulis sampai saat ini.
b.
Adik-adik
tercinta Rian Armizal, Nafisa Eka Puspita, Nabila Segita Ramadhani, Linda
Cahyani Anugrah dan Winda.
c.
Para senior
dari Pergerekan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Dompu, yang diantaranya
Supriadin, SE, Abdullah, S. Pd., Dodo Kurniawan, SE. ME., Enung Nurhasanah, M.
Si., Arman, SE., Syarifuddin, S. Pd., dll.
d.
Para
sahabat tercinta di Kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam (KUMPA) diantaranya Sri
Sulastri, Faidil, Alan Junaidin, Ardiansyah, M. Yusuf, Abdul Fadil, Muhaimin,
Heriansyah, Radinal, Khairul Gamal, Ruslan Efendi dan para Anggota Muda yang
tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwasanya dalam buku ini masih banyak
kekurangan dan patut untuk diperbaiki, untuk penyempurnaan penulis
mengaharapkan saran dan masukan untuk kesempurnaan penyusunan buku selanjutnya.
Dalam Berdoa aku berserah
Untuk Dompu aku Pantang
Menyerah
Dompu 12 Juni 2016
Bachrizal Bakhtiar D., S. Pd
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar--------------------------------------------------------- 1
Kata
Persembahan Penulis------------------------------------------ 2
Daftar Isi----------------------------------------------------------------- 4
Pembahasan
:
Perjuangan
Terbentuknya Kabupaten Dompu------------------ 5
Kondisi
Tanah Kelahiran Ku “Dompu Tercinta”-------------- 12
HITAM
PUTIH DOMPU KU--------------------------------------- 19
Sejarah
Bergabungnya Dompu Dengan NKRI--------------- 27
Permintaan
Terakhir Sang Sultan-------------------------------- 36
Perjuangan Masyarakat
Kempo dalam Mengusir
Kolonial Belanda Pada
Tahun 1946.----------------------------- 42
Kondisi Bekas Istana Raja Dompu------------------------------- 53
Perlawanan Masyarakat Manggelewa Pada Tahun
1942 (Perang Manggelewa) 62
SEJARAH
MASJID `SYEKH ABDUL GANI--------------- 68
Karomah Ruma Sehe Dompu-------------------------------------- 74
HARTA
KARUN DOMPU YANG TERPENDAM
SEKTOR
PARIWISATA DI KAB. DOMPU----------------- 90
Daftar Rujukan-------------------------------------------------------- 98
Riwayat Penulis--------------------------------------------------------- 99
Perjuangan
Terbentuknya Kabupaten Dompu
Perjuangan
terbentuknya Kabupaten Dompu berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama,
mulai dari sistem pemerintahan kerajaan/kesultanan, swapraja, hingga daerah
swatantra tingkat II. Saat ini, Kabupaten Dompu yang bermotto Nggahi Rawi Pahu.
Kabupaten
Dompu, sebelumnya merupakan Daerah Swapraja tingkat II dari bagian provinsi
sunda kecil. Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dan mengalami
beberapa kali proses perubahan sistem ketatanegaraan pasca diproklamasikannya
kemerdekaan Republik Indonesia, barulah terbentuk daerah swatantra tingkat II
Dompu. Kemudian, secara resmi mendapat status sebagai daerah swapraja sejak tanggal
12 september 1947 dan selanjutnya diangkat sultan Dompu terakhir yaitu sultan
muhammad tajul arifin siradjuddin sebagai kepala daerah swaparaja Dompu. Tahun
1958 daerah swapraja Dompu berubah status menjadi daerah swatantra tingkat ii
Dompu dengan Bupati kepala daerah sultan Dompu muhammad tajul arifin siradjuddin
(1958 – 1960). Selanjutnya pada tahun 1960 hingga 1966, Dompu berubah status
menjadi Daerah Tingkat II Dompu dengan Bupati H. Abdurrahman Mahmud. Pada tahun
1967 (dalam kurun waktu kurang dari satu tahun) jabatan Bupati kepala Daerah
Tingkat II Dompu dijabat oleh pelaksana tugas (PJS) yaitu I Gusti Ngurah.
Tahun 1967
hingga 1979, selama dua periode, Kabupaten Dompu dipimpin oleh seorang perwira
menengah TNI angkatan darat yakni Letkol TNI. H. Suwarno atmojo. Selanjutnya
pada tahun 1979 hingga 1984, Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu kembali dipimpin
oleh perwira menengah tni angkatan darat yakni Letkol TNI. H. Heru Sugiyo.
Sejak
tahun 1984, Kabupaten Daerah Tingkat IIDompu kembali dipimpin oleh seorang
putra terbaik daerah yakni Drs. H. Moh. Yakub, Mt (1984-1989). Tahun 1989
hingga 1994, Drs. H. Umar yusuf memimpin Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu,
selanjutnya pada tahun 1994 hingga 1999, kepemimpinan di Bumi Nggahi Rawi Pahu Dompu dilanjutkan oleh
Drs. H. Hidayat Ali.
Pada tahun 1999, seperti daerah-daerah lain di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, seiring dengan era reformasi, Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu berubah status menjadi daerah otonom hingga sekarang ini. Sejak ditinggalkan Drs. H. Hidayat Ali sebagai Bupati kepala Daerah Tingkat II Dompu, jabatan Bupati Dompu saat itu lowong dan diisi oleh pejabat sementara selama satu tahun yakni Drs. H. Lalu Djafar suryadi (1999-2000). Pejabat sementara Bupati mengemban tugas penting, salah satunya yakni menghantarkan masyarakat Dompu untuk kembali memilih Bupati definitif melalui pemilihan para wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif DPRD Kab. Daerah Tingkat II Dompu saat itu.
Pada tahun 1999, seperti daerah-daerah lain di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, seiring dengan era reformasi, Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu berubah status menjadi daerah otonom hingga sekarang ini. Sejak ditinggalkan Drs. H. Hidayat Ali sebagai Bupati kepala Daerah Tingkat II Dompu, jabatan Bupati Dompu saat itu lowong dan diisi oleh pejabat sementara selama satu tahun yakni Drs. H. Lalu Djafar suryadi (1999-2000). Pejabat sementara Bupati mengemban tugas penting, salah satunya yakni menghantarkan masyarakat Dompu untuk kembali memilih Bupati definitif melalui pemilihan para wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif DPRD Kab. Daerah Tingkat II Dompu saat itu.
Bulan
februari tahun 2000, hasil pemilihan kepala Daerah Tingkat II Dompu melalui
lembaga legislatif, akhirnya ditetapkan H. Abubakar Ahmad, SH sebagai Bupati
Kabupaten Dompu untuk periode tahun 2000 hingga 2005. Waktu terus berjalan
seiring perkembangan kehidupan masyarakat di dana Dompu, tanggal 23 bulan maret
tahun 2005, jabatan H. Abubakar Ahmad, SH sebagai Bupati Kabupaten Dompu
berakhir. Selanjutnya, sambil menunggu pemilihan langsung Bupati dan wakil
Bupati Dompu, jabatan Bupati Dompu saat itu di jabat sementara oleh kepala dinas
peternakan provinsi NTB Drs. H. Abdul Mutholib. Kurang dari 6 bulan, H. Abdul
Mutholib mengendalikan roda pemerintahan di Kabupaten Dompu sekaligus
menghantarkan masyarakat Dompu melaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada)
secara langsung untuk yang pertama kalinya.
Tanggal 9
agustus 2005, H. Abubakar Ahmad, SH kembali memimpin Kabupaten Dompu untuk
periode ke- dua berpasangan dengan H. Syaifurrahman Salman, SE. H. Abubakar
Ahmad, SH dan H. Syaifurrahman Salman, merupakan pasangan Bupati dan wakil
Bupati Dompu pertama yang dipilih secara langsung oleh masyarakat Bumi Nggahi Rawi Pahu. Waktu terus berjalan,
lembaran demi lembaran sejarah terus menoreh seiring perjalanan kehidupan
masyarakat Kabupaten Dompu. Bulan juli tahun 2007, Bupati Dompu H. Abubakar
Ahmad, SH meletakkan jabatannya sebagai Bupati Dompu, selanjutnya pada tanggal
31 juli tahun 2007, Wakil Bupati Dompu H. Syaifurrahman Salman, SE dilantik
sebagai Bupati Dompu menggantikan H. Abubakar Ahmad, SH, hingga masa akhir
jabatannya pada bulan Agustus Tahun 2010. Dalam menghadapi pemilukada langsung
yang ke-II, Kabupaten Dompu dipimpin oleh H. Nasibun sebagai penjabat sementara
yaitu tanggal 9 Agustus 2010 sampai dengan pengambilan sumpah jabatan Drs. H.
Bambang M.Yasin dan Ir. H. Syamsuddin.MM, sebagai Bupati Dompu dan wakil Bupati
Dompu untuk periode 2010 – 2015 pada tanggal 18 oktober 2010.
Pemilukada
serentak pada Rabu, 9 Desember 2015 Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati H.
Bambang M. Yasin dan Arifuddin SH meraih suara terbanyak, dan pada 17 Februari
2016 dilantik secara resmi oleh Gubernur Provinsi NTB sebagai Bupati dan Wakil
Bupati Dompu Periode 2016 – 2021.
Pada masa
pemerintahan Bupati Dompu Drs. H. Umar yusuf, pembahasan mengenai penetapan
hari jadi Dompu mulai digulirkan. Pada masa pemerintahan Bupati Dompu H.
Abubakar Ahmad, SH (periode pertama), penelusuran tentang hari jadi Dompu
kembali dibahas oleh tim dan DPRD Kabupaten Dompu. Setelah melalui perjuangan
yang cukup panjang serta bantuan dari salah seorang pakar sejarah nasional
kelahiran Dompu yakni Prof. Dr. Helyus Syamsuddin, Phd guru besar sejarah pada
IKIP Bandung, akhirnya hari jadi Dompu dapat disepakati dan ditetapkan melalui
keputusan DPRD Kabupaten Dompu yang selanjutnya dituangkan melalui peraturan
daerah (perda) Kabupaten Dompu nomor : 18 tanggal 19 bulan Juni Tahun 2004
menetapkan hari jadi Dompu jatuh pada hari selasa tanggal 11 april tahun 1815
atau bertepatan dengan tahun islam 1 Jumadil awal tahun 1230 H.
Penetapan
hari jadi Dompu yang jatuh pada tanggal 11 april 1815, dilatar belakangi oleh
fenomena alam yakni peristiwa meletusnya gunung tertinggi di pulau Sumbawa
yaitu gunung Tambora pada tahun 1815. Sejarah mencatat, ketika gunung Tambora
meletus dengan dahsyatnya pada tanggal 11 april 1815, 3 (tiga) kerajaan di
sekitar gunung tambora yakni kerajaan pekat, sanggar dan tambora musnah akibat
letusan gunung tambora. Setelah sekian tahun berlalu, bekas kerajaan pekat dan
tambora akhirnya bergabung menjadi satu dengan kesultanan Dompu, sementara
kerajaan sanggar bergabung dengan wilayah kesultanan Bima.
Sejak
ditetapkannya tanggal 11 april sebagai hari jadi Dompu, maka selanjutnya setiap
tanggal 11 april, pemerintah dan seluruh masyarakat bumi Nggahi Rawi Pahu melaksanakan upacara peringatan hari jadi Dompu.
Kondisi Tanah Kelahiran Ku “Dompu Tercinta”
Kerajaan Dompu telah dikenal
sejak Kerajaan Sriwijaya sampai dengan masa keemasan Kerajaan Majapahit. Pada
masa-masa ini, khususnya pada masa keemasan Kerajaan Majapahit, Karajaan Dompu
merupakan salah satu wilayah incaran Majapahit. Dengan demikian wilayah Dompu
merupakan wilayah yang mapan dan mempunyai sumber daya alam bagus yang didukung
dengan keberadaan wilayah vulkanis Gunung Tambora dan wilayah perairan yang
cukup luas (Hayyat, 2007).
Kabupaten Dompu merupakan salah
satu kabupaten di daratan Pulau Sumbawa selain Kabupaten Sumbawa dibagian
barat dan Kabupaten Bima di sebelah timur. Wilayah Kabupaten Dompu
terbentang dari Teluk Saleh di sebelah barat, Teluk Cempi di Selatan, Teluk
Sanggar dan Perbukitan Doroboha di sebelah utara. Seluruh wilayah ini membentuk
Kabupaten Dompu dengan luas wilayah sekitar 2.324,55 kilometer persegi.
Dibandingkan dengan dua kabupaten lainnya yang terdapat di Pulau Sumbawa,
wilayah Kabupaten Dompu ini relatif lebih kecil.
Walaupun memiliki wilayah yang
relatif kecil dibandingkan dua kabupaten lain di Pulau Sumbawa, namun
keberadaan Kabupaten Dompu sebagai suatu wilayah tidak dapat dipandang sebelah
mata, karena keberadaannya telah tercatat oleh bukti-bukti sejarah sejak
berabad-abad lampau.
Secara administratif bekas Istana
Raja Dombu terletak di wilayah Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu, Kabupaten
Dompu, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan secara astronomis terletak pada koordinat
50 L 0660343 UTM 9055729 dengan ketinggian mencapai 344 meter diatas permukaan
laut dengan luas wilayah 223,27 km2.
Ketinggian tanah wilayah
Kabupaten Dompu dikelompokan atas ketinggian 0–100 (diatas permukaan laut) yang
mencapai 31,28% dari luas wilayah Kabupaten Dompu atau 72.705 Ha, ketinggian
100–5000 m.dpl dengan luas tortal sekitar 107.815 Ha atau mencapai 46,38 %
Ketinggian 500 – 1000 m.dpl terdapat sekitar 34.150 Ha dan ketinggian diatas
1000 m.dpl terdapat disekitar Kecamatan Pekat, Kempo dan Kilo serta Gunung
Tambora. Ketinggian tanah diatas 1000 diatas permukaan laut memiliki luas total
sekitar 17.785 Ha.
Sedangkan untuk Kecamatan Dompu
dimana Bekas Istana Raja Dompu berada wilayah yang memiliki ketinggian 0-100
meter di atas permukaan laut seluas 4824.00 Ha, wilayah yang memiliki
ketinggian 100-500 meter di atas permukaan laut seluas 14982.00 Ha, wilayah
yang memiliki ketinggian 500-1000 meter di atas permukaan laut seluas 4965 Ha
dan wilayah yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter di atas
permukaan laut seluas 13 Ha.
Kemiringan tanah di Kabupaten
Dompu diklasifikasikan menjadi 4 (empat) klasifikasi yaitu 0-2% seluas 42.167
Ha, 2-15% dengan total luas sekitar 71.229 Ha, kelerengan
15-40% memliki luas mencapai 87.796 Ha dan kemiringan
di atas lebih dari 40% dengan luas total 31.262 ha. Wilayah Kecamatan Dompu
sendiri memiliki kemiringan dikisaran 0-2% seluas 4710 Ha, kemiringan
dikisaran 2-15% seluas 3222 Ha, kemiringan dikisaran 15-40% seluas 9913 dan
kemiringan wilayah yang melebihi 40% seluas 6939.
Secara umum jenis tanah yang ada
di Kabupaten Dompu sebagian besar merupakan litosol kompleks, mediteran coklat,
kompleks renzina dan litosol seluas 63.194 Ha atau sekitar 27,1% dari luas
wilayah Kabupaten Dompu. Sedangkan jenis tanah yang memiliki luas paling
sedikit adalah jenis tanah Regosol coklat dengan luas total sekitar 1.175 Ha
atau sekitar 0,5 % dari luas wilayah Kabupaten Dompu.
Geologi merupakan kondisi suatu
batuan yang menyusun suatu wilayah yang terbentuk pada masa lalu. Berdasarkan
peta Geologi Indonesia kondisi geologi yang terdapat di Kabupaten Dompu terdiri
atas beberapa jenis batuan, yang antara lain jenis batuan gunung api tua,
batuan gunung api muda, batuan terobosan, batuan alluvium serta endapan, batuan
gamping berlapis dan batuan tufa dasitan.
Keadaan iklim suatu wilayah dapat
dilihat dari keadaan curah hujan, hari hujan, temperatur, kelembaban relatif,
kecepatan angin, dan intensitas penyinaranmatahari. Sedangkan untuk
menggambarkan kondisi iklim di suatu kawasantertentu yang areanya lebih sempit
dapat dilihat dari keadaan curah hujan dan harihujan yang terjadi di kawasan
tersebut. Sebagaimana daerah tropis lainnya, Kabupaten Dompu hanya mengenal dua
musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan rata–rata mulai Oktober
sampai April.
Pada bulan Oktober bersampai
Maret angin bertiup dari barat daya ke timur laut dengan membawa hujan. Pada
musÃm kemarau suhu udara relatif rendah yaitu 20-30°C pada siang hari dan
20°C pada malam hari.Kabupaten Dompu memiliki iklim yang bertipe D, E dan F.
Kondisi suhu udara rata–rata bervariasi antara 22,5° – 31,4° C dengan suhu
maksimum rata–rata 32,2° C dan minimum 21,2° C. Suhu udara maksimum terjadi
pada jam 13.00 dan minimum pada jam 05.00 Wita. Kondisi lembab nisbi rata–rata
selama periode survey pada siang hari dan malam hari berkisar antara 60% dan
95%. Kondisi tekanan udara rata–rata harian memiliki fluktuasi tekanan dua kali
maksimum yaitu sekitar jam 09.00 dan 23.00, serta dua kali minimum yaitu
sekitar jam 17.00 dan jam 04.00 waktu setempat.
Tekanan udara rata–rata
antara 1009,4 mb – 1013,1 mb. Keadaan curah hujan, hari hujan di wilayah
Kabupaten Dompu sangat erat kaitannya dengan fenomena El–Nino dan La-Nina.
Keadaan curah hujan di Kabupaten Dompu menunjukan bahwa rata-rata curah hujan
untuk Kecamatan Hu’u adalah 64 mm/bulan, Kecamatan Dompu 110 mm/bulan,
Kecamatan Kempo 60 mm/bulan, Kecamatan Woja 85 mm/bulan
Kecamatan Pekat 70 mm/bulan dan Kecamatan Kilo 64 mm/bulan.
Kabupaten Dompu tergolong daerah
yang banyak dialiri sungai yaitu 124 sungai dan pada umumnya dimanfaatkan untuk
pengairan lahan pertanian. Sebaran sungai di Kabupaten Dompu terdapat di
Kecamatan Hu’u yang dialiri 8 sungai, Kecamatan Pajo yang dialiri 3 sungai,
Kecamatan Dompu dialiri 1 sungai, Kecamatan Kempo dialiri 8 sungai, Kecamatan
Manggelewa dialiri 3 sungai, Kecamatan Kilo dialiri 10 sungai dan
Kecamatan Pekat dialiri 85 sungai.
Akibat kondisi iklim yang kurang
menguntungkan maka musim hujan debit air cukup besar, tetapi pada musim kering
menurun hingga 25 % atau sebagian besar sungai–sungai kering
(tidak berair). Disamping itu Kabupaten Dompu memiliki potensi sumber mata air
sebanyak 37 buah yang tersebar di Kecamatan Hu’u 6 buah mata air, di Kecamatan
Dompu 6 buah, di Kecamatan Kempo 17 dan Kecamatan Kilo 8 buah selain itu juga
terdapat 21 buah bendungan irigasi/waduk yang perlu dijaga kelestarian serta
keberadaannya untuk pemanfaatan air bersih maupun pertanian.
HITAM
PUTIH DOMPU KU
Dompu, sebuah Kota Kabupaten di wilayah Propinsi Nusa
Tenggara Barat. Dulunya berawal dari wilayah sebuah Kerajaan,kemudian berubah
menjadi Kesultanan. Statusnya menjadi sebuah Kota Kabupaten justru
diperoleh karena nilai historisnya sebagai sebuah Kerajaan yang telah
lama berdiri dan berdaulat.
Kerajaan Dompo (sebutannya di jaman dulu), ma
Dompo-na (yang memotong) wilayah Bima dan Sumbawa. Sebagaian
berpendapat inilah asal dari nama Dompo. Sebelum menjadi
sebuah Kerajaan, di wilayah Dompu tersebar beberapa kelompok
masyarakat yang mendiami lahan-lahan pertanian (Nggaro) dan di
daerah-daerah pantai. Setiap kelompok masyarakat ini dikepalai oleh seorang Kepala Suku yang
disebut Ncuhi.
Ncuhi-Ncuhi menyebar di seluruh wilayah Dompu
antara lain Ncuhi Tonda, Ncuhi Soro Bawa, Ncuhi Hu'u (Ncuhi Iro Aro), Ncuhi
Daha, Ncuhi Puma, Ncuhi Teri, Ncuhi Rumu (Ncuhi Tahira) dan Ncuhi Temba. Dari
sinilah bermula Kerajaan Dompu berdiri, atas kesepakatan seluruh Ncuhi
dari bagian pedalaman sampai daerah pesisir pantai dibentuklah Kerajaan Dompu
dan sebagai Raja pertama (Sangaji) Dompu adalah Dewa
Sang Kula.
Tidak ada catatan tertulis baik dalam bentuk dokumen
atau batu tulis (prasasti) yang bisa mengungkapkan kapan
mulai terbentuknya Kerajaan Dompu. Namun beberapa catatan
sejarah yang menunjukkan keterkaitannya dengan keberadaan Kerajaan
Dompu yang berdiri sejak lama adalah sebagai berikut :
a. Dalam Atlas Sejarah dunia karangan Profesor
Muhammad Yamin yang termuat di dalam Sejarah kejayaan Kerajaan
Sriwijaya di Sumatra sebagai Kerajaan pertama di Indonesia sekitar
tahun 600-an -1100, nama Dompo tercantum di dalam atlas
b. Terdapat juga keterkaitannya dengan sejarah Kerajaan
Majapahit (1293-1527). Keterkaitan yang dimaksud terdapat dalam bunyi Sumpah
Palapa yang diucapkan oleh patih Gajah Mada, termuat dalam teks
Jawa Pertengahan Pararaton:
" Jika saya telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang,Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya(baru akan) melepaskan puasa"
" Jika saya telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang,Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya(baru akan) melepaskan puasa"
Begitulah bunyi Sumpah Palapa yang menunjukkan
keterkaitan Dompu sebagai salah satu Kerajaan yang ingin ditaklukkan
patih Gajah MadaItu berarti, bahwa telah ada kerajaan kuat di bagian Timur
Nusantara yang diperhitungkan oleh Gajah Mada untuk ditaklukkan, yaitu Kerajaan
Dompo. Rupanya Gajah Mada tidak main-main dengan Sumpahnya. Pada tahun
1340, saat Kerajaan Dompu di bawah
kepemimpinan Dewa Ma Wa aTaho, dikirimlah
pasukan yang dipimpin oleh Senapati Nala dan
dibantu oleh pasukan dari Bali yang dipimpin oleh Panglima Pasung
gerigis. Pada penyerangan yang pertama ini pasukan Majapahit gagal
mengalahkan pasukan Kerajaan Dompu. Pada tahun 1357,
kembali Majapahit mengirim pasukan.
Kali ini dipimpin oleh Panglima Soko dan
dibantu juga oleh pasukan dari Bali yang dipimpin oleh Panglima Dadalanata.
Untuk menghindari jatuhnya korban banyak seperti pada perang yang pertama, maka
diputuskanlah untuk dilakukan duel antara Panglima Kerajaan Dompu dengan
Panglima Kerajaan Majapahit. Duel ini ternyata dimenangkan oleh Panglima
dari Kerajaan Majapahit, sehingga Kerajaan Dompu takluk di bawah kekuasaan
Majapahit. Kemudian Panglima dari Bali Dadalanata diangkat menjadi Raja
Dompu yang ke-8
Seiring dengan melemahnya Kerajaan
Majapahit oleh konflik berkepanjangan perebutan kekuasaan di
antara pewarisnya, pengawasan terhadap Kerajaan-Kerajaan bawahannya
pun menjadi lemah. Satu persatu Kerajaan-Kerajaan Kecil mulai
melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit, termasuk Kerajaan Dompu.
Lepasnya dari kekuasaan Majapahit ditandai dengan dinobatkannya (12
September 1545) putra Dewa Ma wa a Taho sebagai Raja Dompu yang
ke 9atau sebagai Raja Dompu I yang mendapat
sebutan Sultan. Hal ini menjadiawal dimulainya era Kerajaan
Islam sehingga disebut Kesultanan. Sultan Syamsuddin yang
bergelar Ma Wa a Tunggu telah terlebih dahulu memeluk
agama Islam sebelum diangkat sebagai Sultan. Mendirikan istana Bata
(Bata Ntoi) yang menyimpan cerita mistery. Beliau juga
mendirikan masjid pertama di Dompu, tepatnya di Kampung Sigi, Karijawa.
Di masa penjajahan Belanda, Kerajaan Dompu tidak luput
dari incaran pemerintah Belanda untuk dikuasai. Namun perlawanan Sultan dan
Rakyatnya sangat berdarah darah, demi untuk tidak tunduk dibawah kekuasaan
Belanda. Tercatat rakyat sampai harus memburu Sultannya sendiri bila
ketahuan tanda-tanda adanya niat melakukan negosiasi
dengan pemerintah Belanda.Perlawanan pun berakhir akibat dari takluknya
Sultan Hasanuddin (Makassar) dengan dilakukannya perjanjian Bongaya (1667),
yang berarti takluknya juga Kerajaan-Kerajaan di Pulau Sumbawa. Sebuah
perjanjian damai, lebih tepatnya Surat tanda takluk,
karena isinya lebih dominan menguntungkan pihak Belanda.
Perlawanan Sultan dan rakyat Dompu tidak berhenti
hanya dengan adanya surat perjanjian. Letup-letup kecil perlawanan masih
sering muncul terutama pada saat Sultan Muhammad Sirajuddin memerintah.
Keengganan Sultan untuk menempatkan personil Belanda dalam struktur
pemerintahannya, menjadi alasan kuat bagi Belanda untuk menyingkirkan Sultan,
karena dianggap telah melanggar perjanjian. Oleh sebab itulah Sultan Muhammad
Sirajuddin dibuang ke Kupang beserta kedua putranya, putra Abdullah dan
putra Abdul Wahab.Kedua putranya ini ikut dibuang karna
Belanda khawatir akan timbul kekacauan di masa mendatang akibat dari adanya
perebutan kekuasaan.
Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan
di Kesultanan Dompu, diangkatlahseorang pejabat selfbestuur
Commisi Lalu Muhammad Saleh, yang sebenarnya berasal
dari turunan Raja Dompu juga. Ketika masa kependudukan Belanda berakhir,
digantikan oleh kependudukan Jepang. Saat itu terjadi kefakuman kepemimpinan di
Kesultanan Dompu karna Sultannya dibuang ke Kupang.
Maka oleh pemerintah Jepang Kesultanan Dompu
digabung menjadi satu dengan Kesultanan Bima Tidak lama setelah penggabungan
itu, Jepang kalah dan meninggalkan Indonesia, disusul dengan
diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia Situasi ini pun tidak
disia-siakan oleh rakyat Dompu untuk menuntut kembali berdirinya
Kesultanan Dompu. Maka dengan SK.
Resident Timur No.1 tanggal 12 September 1947 Kesultanan Dompu
dinyatakan berdiri kembali dan Muhammad Tajul
Arifin Sirajuddin II, cucu dari Sultan Muhammad Sirajuddin
dinobatkan menjadi Sultan Dompu ke-29 (Sultan terakhir).
Masa pemerintahan Sultan Muhammad Tajul
Arifin II berakhir begitu dikeluarkannya
peraturan Undang-Undang No. 1 tahun 1957 tentang pokok-pokok
pembentukan Pemerintah Daerah Swatantra Tk II. ini juga menandai masa
berakhirnya era Kesultanan di Dompu. Kemudian berdasarkan Undang
Undang No. 69 tahun 1956 menjadi Daerah Tk II Kabupaten sampai
sekarang.Demikian sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan Dompu yang
terakhir, diangkatlah Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin II menjadi Bupati
I Dompupada tanggal 1 Desember 1958 sampai dengan 30
April 1960.
Sejarah
Bergabungnya Dompu Dengan NKRI
1905 adalah kontrak terakhir antara
pemerintah kolonial Belanda dengan Kesultanan Dompu. Kesultanan Dompu diikat
dengan kontrak panjang. Meski pada awalnya Sultan Muhammad Sirajuddin sempat
tidak mau menandatangani perjanjian sebanyak 32 pasal itu. Ketika ditetapkan
oleh pemerintah Kolonial Belanda bahwa pajak dari wilayah Kesultanan Dompu
untuk Belanda harus disetor ke Bima, Sultan Muhammad Sirajuddin kembali
menolak. Karena ini akan semakin mengerdilkan Kesultanan Dompu seolah hanyalah
sebuah Negara kecil yang harus digabung dengan Bima. Sikap dingin dan
membangkang Sultan terus berlanjut.
Singkat cerita, ketika usia sultan
telah tua yakni sekitar 90 tahun, ia harus menentukan siapa di antara kedua
anaknya yang akan menggantikannya. Menurut aturan yang berlaku, maka yang
berhak menggantikan beliau adalah anaknya yang paling tua yakni Ama ka’u
(Pangeran) Abdul Wahab bin Sirajuddin. Akhirnya, diangkatlah Abdul Wahab
Sirajuddin sebagai Ruma to’I (Raja Muda) oleh Majelis Adat Kesultanan Dompu.
Sultan kemudian menulis surat kepada Gubernur Celebes agar menetapkan Abdul
Wahab Sirajuddin sebagai Raja Muda untuk menggantikan dirinya kelak. Surat ini
ditulis pada tanggal 12 Maret 1908.
Rupanya pengangkatan Abdul Wahab
sebagai Raja Muda yang akan menggantikan ayahnya ditentang oleh adiknya,
Abdullah bin Sirajuddin. Abdullah Sirajuddin rupanya juga menginginkan
kekuasaan itu. Iapun menggalang dukungan untuk melawan kakaknya. Suasana memanas
dan perseteruan pun tak dapat dihindari. Konflik internal di Kesultanan Dompu
ini didengar oleh Residen Kupang, Bupati Belanda untuk wilayah Nusa Tenggara.
Ia kemudian memanggil Sultan Muhammad Sirajuddin ke Kupang. Sultan diminta
untuk mengatasi konflik yang terjadi di Dompu. Lebih lanjut Residen Kupang
menuding bahwa Sultan Muhammad Sirajuddin-lah yang telah sengaja mengatur
konflik itu untuk memanaskan suasana dan membuat kekacauan. Lebih lanjut,
pemerintah Kolonial Belanda bahkan menduga bahwa Sultan dan kedua putranya
tengah menyusun rencana pemberontakan. Namun sekembalinya ke Dompu Sultan
Muhammad Sirajuddin ternyata tidak berhasil meredam konflik di antara kedua
puteranya.
Akhirnya pemerintah Kolonial Belanda
mengeluarkan keputusan mengasingkan Sultan Muhammad Sirajuddin dan kedua
puteranya ke Kota Kupang pada tahun 1934. Kepergian mereka diantar oleh para
Pejabat dan rakyat Kesultanan Dompu sampai di Pelabuhan Sape. Selain kedua
puteranya Abdul Wahab dan Abdullah, ikut serta pula Abdurrahman Habe pelayannya
yang setia. Sultan Muhammad Sirajuddin meninggal pada 1937, tiga tahun setelah
pembuangannya. Sejak saat itu, Kesultanan Dompu tidak lagi memiliki seorang
Sultan. Secara administratif pemerintahannya pun digabungkan dengan Kesultanan
Bima yang pada waktu itu dibawah pemerintahan Sultan paling kharismatik di Bima
yakni Sultan Muhammad Salahuddin (1915-1951 M).
Karena telah digabung dengan
Kesultanan Bima, maka sejarah Dompu dari tahun 1934-1947 adalah sejarah tanah
Bima. Karena saat itu wilayah kekuasaan Dompu telah diakuasai oleh Kesultanan
Bima. Pada masa inilah Dompu bergabung dengan Negara Indonesia, di masa
akuisisi Bima di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Salahuddin.
Sejak awal tercetusnya proklamasi
kemerdekaan Indonesia, Sultan M. Salahuddin telah menyatakan dukungannya
terhadap NKRI. Ini karena akibat lobi politik Soekarno sebelumnya. Tahun 1934,
sebelum kemerdekaan NKRI, Soekarno pernah dibuang ke Ende – Nusa Tenggara Timur
dan mampir ke Bima. Ia dijamu oleh Sultan M. Salahuddin dan menginap di Istana
Bima (Asi Mbojo). Selama mampir itulah Soekarno banyak berbincang dengan sultan
mengenai penjajahan dan kemerdekaan.
Pada tanggal 22 November 1945, Sultan Muhammad
Salahuddin mencetuskan pernyataan mewakili seluruh lapisan masyarakat Bima dan
Dompu. Pernyataan mendukung NKRI itu dikenal dengan nama “Maklumat 22 November
1945” yang isinya adalah sebagai berikut :
1.
Pemerintah Kerajaan Bima, adalah suatu
daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia dan berdiri di belakang
pemerintahan Negara Republik Indonesia.
2.
Kami menyatakan, bahwa pada dasarnya
segala kekuasaan dalam pemerintahan Kerajaan Bima terletak di tangan
kami, oleh karena itu sehubungan dengan suasana dewasa ini, maka kekuasaan –
kekuasaaan yang sampai sekarang ini tidak di tangan kami, maka dengan
sendirinya kembali ke tangan kami.
3.
Kami menyatakan dengan sepenuhnya, bahwa
perhubungan dengan pemerintahan dalam lingkungan kerajaan Bima bersifat
langsung dengan pusat Negara Republik Indonesia.
4.
Kami memerintahkan dan percaya kepada sekalian
penduduk dalam seluruh kerajaan Bima, mereka akan bersifat sesuai dengan sabda
kami yang ternyata di atas.
Poin ke empat adalah poin krusial
bagi masyarakat bekas Kesultanan Dompu, karena raja mereka telah bersabda maka
mereka harus mematuhinya dengan sepenuh jiwa. Apalagi saat itu rakyat Dompu
memang merindukan pembebasan dari kekuasaan penjajah yang selama ini
mengangkangi harga diri mereka, memperkosa hak-hak mereka, mengusir sultan
mereka dan membongkar istana mereka. Bergabungnya Bima dan Dompu ke dalam NKRI
diterima oleh rakyat sebagai sebuah kesyukuran. Betapa polosnya mereka waktu
itu.
Maklumat 22 November 1945, akhirnya
semakin mempersulit posisi Jepang. Padahal menurut isi perjanjian Jepang dengan
sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, semua masalah di daerah bekas jajahan
Jepang akan diambil alih oleh sekutu. Hal ini sudah berkali –kali diperingatkan
oleh Jepang melalui Mayor Jenderal Tanaka, namun Sultan bersama KNI, TKR dan
API tidak pernah mengindahkannya.
Lebih jauh lagi, pada tanggal 17
Desember 1945 dilangsungkan upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia di
halaman depan Istana Bima. Pernyataan hari kemerdekaan Republik Indonesia,
idealnya harus berlangsung pada tiap tanggal 17 Agustus. Namun untuk menunjukan
kesetiaan terhadap NKRI, Upacara dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 1945.
Setelah upacara, diadakan pawai keliling kota.
Akibat dari sikap Kerajaan Bima dan
Dompu yang berdiri di belakang NKRI, Pemerintah Jepang menekan Sultan
Salahuddin untuk merubah sikapnya. Menurut Pemerintah Jepang nasib Bangsa
Indonesia tergantung dari hasil keputusan sekutu, karena berdasarkan isi
perjanjian antara Jepang dan Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945,
segala masalah yang berhubungan dengan masalah jajahan Jepang akan
ditangani oleh sekutu. Tetapi tekanan dari Jepang ini tidak digubris oleh
sultan Muhammad Salahuddin. Atas dukungan rakyat dan para pejuang, perlawanan
terhadap penjajah terus dilakukan sampai Indonesia merdeka.
Tahun 1946, Belanda berhasil
mengambil kesempatan untuk kembali ke Indonesia dan berhasil mendirikan
negara-negara boneka. Salah satunya adalah Negara Indonesia Timur (NIT) dengan
Ibu kota Singaraja, Bali. Kesultanan Bima-Dompu termasuk ke dalam bagian dari
NIT ini, yakni daerah otonom (Pulau) Sumbawa.
Di bawah pimpinan cucu dari Sultan
Muhammad Siradjuddin, yakni Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin, rakyat Dompu
menuntut pengembalian Kesultanan Dompu. Tuntutan tersebut direspon oleh ketua
Parlemen NIT yang juga adalah Sultan Sumbawa, Muhammad Kaharuddin. Setelah
parlemen NIT mengadakan rapat berkali-kali dicapailah kesepakatan pengembalian
Kesultanan Dompu pada tanggal 12 September 1947 dengan status sebagai daerah
Swapraja. Lalu diangkatlah Muhammad Tadjul Arifin Sirajuddin menjadi Sultan
Dompu yang ke-21 sekaligus menjadi Kepala Daerah Swapraja Dompu.
Tahun 1950, NIT dibubarkan dan
kerajaan-kerajaan di bekas wilayah NIT bergabung dengan NKRI. Secara resmi
Daerah Swapraja Dompu mendapat status Kabupaten sejak tahun 1958, atau sejak
dikeluarkannya Undang-undang nomor 64 tahun 1958 dan Undang-undang nomor 69
tahun 1958. Sebelumnya, Dompu berstatus sebagai daerah atau wilayah Kesultanan
yaitu Kesultanan Dompu dengan Sultan terakhir yakni M.Tajul Arifin Siradjuddin.
Kesultanan Dompu berubah status menjadi Daerah Swatantra Tingkat II Dompu
melalui keputusan Menteri Dalam Negeri dengan surat keputusan tanggal 29
Oktober 1958 nomor Up.7/14/34.
Lalu diangkatlah Pejabat Sementara (PS) Kepala Daerah
Dompu M.T. Arifin Siradjuddin sebagai Bupati pertama di Dompu hingga tahun
1960. Saat itu wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) masih berstatus sebagai
wilayah propinsi Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara). Selanjutnya pada tahun
1960 hingga 1966, Dompu berubah status menjadi Daerah Tingkat II Dompu dengan
Bupati H. Abdurrahman Mahmud.
Permintaan
Terakhir Sang Sultan
Ketika Pemerintah Kolonial Belanda
mengeluarkan keputusan mengasingkan Sultan Muhammad Sirajuddin dan kedua
puteranya ke Kota Kupang pada tahun 1934. Kepergian mereka diantar oleh para
Pejabat dan rakyat Kesultanan Dompu sampai di Pelabuhan Sape. Selain kedua
puteranya Abdul Wahab Sirajuddin (Ruma To’i) dan Abdullah Sirajuddin (Ruma
Goa), ikut serta pula pelayannya yang setia bernama Abdurrahman Habe, Ina Laru
– salah satu selir Sultan Sirajuddin, dan La Ria – seorang dayang istana.
Kedatangan
“Kapal Putih” milik Belanda yang mengangkut rombongan Sultan Dompu pun tiba di
Pelabuhan Kerajaan Kupang. Mereka disambut langsung oleh Raja Kupang Nicolas
Nicynoi. Serah terima berlangsung secara resmi melalui sebuah upacara serah
terima tawanan kepada Raja Kupang. Sultan Sirajuddin dititipkan kepada Raja
Kupang dan beliau diperlakukan secara baik dan terhormat.
Setelah selama dua atau tiga bulan
tinggal di kompleks istana Kupang, akhirnya Sultan Sirajuddin dan anak-anaknya
dipindahkan ke sebuah rumah sewaan di Kampung Air Mata, Kupang. Rumah itu milik
seorang warga muslim keturunan Arab. Setelah dua tahun menetap di rumah
tersebut, beliau dipindahkan lagi ke sebuah rumah sewaan milik seorang Tionghoa
berjarak 100 m dari rumah sebelumnya. Di sinilah Sang Sultan Yang terbuang
menghabiskan sisa umurnya dengan mendekatkan diri pada Allah. Setiap hari
beliau melaksanakan shalat berjamaah dengan warga sekitar di Masjid Baitul
Qadim dekat tempat tinggalnya.
Setelah
hampir tiga tahun dibuang di Kerajaan Kupang oleh Belanda, Sultan yang telah
tua akhirnya sakit-sakitan. Selama sakitnya, selir, anak-anaknya dan dua
pelayannya sangat setia menemani dan merawat beliau. Hingga suatu hari beliau
menginginkan hidangan yang dahulu sering beliau santap sewaktu masih menjadi
Raja di Dompu. Beliau ingin sekali makan ‘‘Doco dumu loa’ yang dicampur ikan teri.
Mungkin bagi anda yang membaca, akan
mengerutkan dahi mendengar nama makanan ini. Namun bagi lidah orang Dompu
dahulu, ‘doco dumu loa adalah
makanan istimewa yang menggugah selera makan. Wajar jika di akhir hayatnya,
Sultan Sirajuddin sangat menginginkanya. Sebagai pelipur hati yang pilu karena
jauh dari sanak saudara dan kampung halaman. Sebagai pengobat rindu akan alam
tempatnya lahir, tumbuh dan besar. Di sana ibu-bapaknya dimakamkan, ia tak bisa
berziarah pada mereka. Di sana ia pernah jadi orang nomor satu yang dihormati
dengan segala penghormatan.
Namun memenuhi keinginan terakhir Sultan
Sirajuddin ini tidaklah mudah. Entah karena memang tidak ada atau karena tidak
tahu tempat mencarinya, anak-anak dan para pelayannya tidak dapat menemukan
bahan-bahan untuk membuat makanan yang dimaksud. Karena begitu sulitnya
mendapatkan makanan semacam itu di tanah orang, akhirnya terpaksa dikirim kabar
kepada keluarga Sultan di Dompu agar mengirimkan makanan yang dimaksud. Setelah
mendapat kabar tersebut, keluarga beliau di Dompu pun dengan segera mencari dan
mengirimkan makanan yang diminta oleh sang sultan.
Namun untung tak dapat diraih, malang
tak dapat ditolak. Sultan Sirajuddin pun wafat tanpa sempat menyaksikan lagi
makanan yang diidamkannya itu, ‘Doco dumu loa. Pada
tanggal 14 Februari 1937, beliau menghembuskan nafas yang terakhir di Kampung
Air Mata, Kerajaan Kupang, pada usia 89 tahun. Oleh sebab itu rakyat Kerajaan
Dompu menggelarinya Sangaji Manuru Kupa, Raja yang mangkat di Kupang.
Hidup
di tangan Allah, manusia bisa mati kapan saja. Yang tua bisa mati, yang muda
juga bisa mati. Maka jangan lalai oleh usia mudamu. Bisa jadi esok atau lusa
engkau binasa. Maka beribadahlah kepada-Nya, sembahlah Ia. Mohon ampunlah atas
dosa-dosamu yang lalu dan berbuat baiklah di sisa umurmu itu. Karena engkau tak
tahu kapan engkau akan dikembalikan pada-Nya. Engkau milik-Nya dan akan Ia
ambil kembali juga. Sehebat apapun manusia, tetaplah ia lemah di banding
kekuasaan Tuhannya, Allah subhanahu wa ta’aala yang Maha Esa.
Konemu
dese ra ntasa dei mori kai di ade dunia, mumbalimpa di dana mak kaja’e sampu.
Malanta la’ba di dula la’bo. Rawi taho di masandaka ndaita, rawi iha dimarundu
tau dei anaraka. Aina sombo ba na’e ra ntoru londo ra mai, di tandona Ruma sama
riu rata. Tiwara Ruma tiwara ada, tiwara sangaji tiwara ela. Madese ro ntasa
ededu dou ma taqwa. Makalampana samenana Sare’at Islam.
Setelah Sultan Muhammad Sirajuddin
meninggal pada 1937, tiga tahun setelah pembuangannya, kedua anaknya behasil
kembali ke Dompu setelah sebelumnya melalui Makassar. Abdul Wahab Sirajuddin
kembali ke Dompu dan meninggal di sana. Keluarga Kesultanan Dompu akhirnya
menuntut dikembalikannya kedaulatan dan kekuasaan Kesultanan Dompu yang
terenggut sejak dibuangnya Sultan Sirajuddin. Akhirnya tahun 1947 usaha
tersebut berhasil dan putera Abdul Wahab diangkat sebagai Sultan Dompu yang
baru. Beliau adalah Sultan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin, Raja Dompu yang
terakhir.
Sedangkan Abdullah Sirajuddin memilih
menghindar ke Sumbawa bersama keluarganya.Pelayan yang setia, Abdurrahman La
Habe, memilih sehidup semati bersama Rajanya. Ia ingin mati di Bumi mana
rajanya mati. Itulah inti dari kesetiaan yang ia miliki. Ia tak pernah kembali
ke kampungnya meskipun ia punya banyak waktu untuk pulang. Ia bertekad menemani
Sultan Sirajuddin sampai mati. Ia kemudian menikah dengan seorang keturunan
bangsawan bugis bernama Gamyniko Thalib. Di kalangan keluarganya di Dompu,
wanita ini dipanggil “Mama Kupang.” La Habe dan Mama Kupang dikaruniai lima
orang anak.
Adapun Ina Laru dan La Ria, mereka
memilih kembali ke Dompu setelah wafatnya Sultan Sirajuddin. Ina Laru, sang
selir itu, di masa tuanya tinggal sebatang kara di Kampung Rato, di tepi Sungai
Sori Na’E. Orang mengenalnya sebagai Wa’i Laru. Ia terus hidup hingga batas
usia yang ditentukan Allah.
Perjuangan Masyarakat
Kempo dalam Mengusir Kolonial
Belanda Pada Tahun 1946.
Pada
Tahun
1596, Belanda datang ke Indonesia, dipimpin oleh Cornelis de Houtman, dan mendarat di kepulauan
Banten, Jawa Barat. Mereka ingin menguasai perdagangan di Indonesia. Kemudian
Belanda mendirikan perkumpulan dagang yang disebut VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) atau Perserikatan Dagang Hindia
Timur.Dari Banten, Belanda terus berusaha untuk meluaskan kekuasaannya sehingga
berhasil menguasai Nusantara. Dengan cara menghasut dan memfitnah, sehingga
bangsa Belanda dengan mudah berhasil mewujudkan keinginannya untuk menguasai perdagangan Indonesia.
Bukan
hanya sekedar menguasai perdangangan Indonesia dengan mendirikan perkumpulan
dagang yang disebut VOC,
melainkan banyak sistem lain yang didirikan yang membuat masyarakat Indonesia
merasa resah, yang diantaranya sistim kerja paksa (Rodi), serta sistem tanam
paksa (Cultuur Stelsel). Sistem Cultuur Stelsel dilaksanakan untuk mengeruk kekayaan bumi Indonesia tanpa mau
memperhatikan rakyat Indonesia dibawah pimpinan Van Den Bosch. Secara teoritis,
peraturan yang ditetapkan dalam sistem tanam paksatidak
memberatkan. Akan tetapi dalam prakteknya, banyak sekali penyimpangan yang
dilakukan dalam sistem yang diterapkan oleh pihak Belanda (Djoened, 1993).
Pelaksanaan sistim tanam paksabanyak menyimpang dari
ketentuan pokok dan cenderung mengadakan eksploitasi agraris yang semaksimal
mungkin. Oleh karena itu, sistim tanam paksa mengakibatkan penderitaan bagi
rakyat pedesaan di Indonesia. Adapun
penderitaan bangsa Indonesia akibat pelaksanaan sistim Tanam Paksa diantaranya:
a. Rakyat makin miskin karena sebagian tanah dan
tenaganya harus disumbangkan secara cuma-cuma kepada Belanda.
b. Sawah dan ladang menjadi terlantar karena kewajiban
kerja paksa yang berkepanjangan mengakibatkan penghasilan menurun.
c. Beban rakyat makin berat karena harus menyerahkan
sebagian tanah dan hasil panen, membayar pajak, mengikuti kerja rodi, serta
menanggung risiko apabila panen gagal.
d. Akibat bermacam-macam beban, menimbulkan tekanan fisik
dan mental yang berkepanjangan (Robert,2003).
Penerapan penjajahan tidak
sebatas berlaku di kota-kota besar di indoensia, bahkan sampai ke pelosok
nusantara termaksud Kabupaten Dompu. Belanda masuk ke Dompu berawal dari Dompu
ditaklukan oleh kerajaan kembar Goa – Tallo (Makassar) pada sekitar tahun 1618 atau pada saat masa pemerintahan
raja Goa ke-14 yakni Sultan Alauddin. Selanjutnya sekitar abad ke-16 atau pada
masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (Raja/Sultan
Goa) yang menandatangani perjanjian bungaya pada tanggal 18 November 1667
dengan belanda, maka Dompu yang saat itu menjadi bagian dari kekuasaan wilayah
Kerajaan Goa secara otomatis masuk dalam wilayah jajahan pemerintah Kolonial
Belanda (Soeryanto, 2013).
Waktu
terus berjalan, pada tahun 1669 diadakan perjanjian antara Dompu dengan pihak
Belanda, yang dalam perjanjian itu berbunyi “bahwa
kerajaan Dompu harus menjadi wilayah jajahan Belanda “Belanda terus
melancarkan strategi untuk tetap berkuasa di Dompu, bahkan pajak yang
seharusnya di setorkan ke Kerajaan/Kesultanan, maka disetorkan pula ke pihak
Belanda.
Bukan
hanya itu bahkan setiap pergantian Raja/Sultan di seluruh wilayah kerajaan-kerajaan
yang ada di pulau Sumbawa dan juga Makasar Belanda selalu melakukan
intervensi.Tidak hanya itu saja, belanda bahkan mulai mengadu domba antara
rakyat dengan Raja/Sultan, begitu juga antara kerajaan yang satu dengan
kerajaan lainya.Pada Tahun 1771, Belanda mulai terang-terangan mengadu domba
antara kerajaan Dompu dengan Kerajaan Bima, kemudian sekitar tahun 1779,
belanda mengadu domba antara kerajaan Dompu dengan Tambora (Soeryanto, 2013).
Melihat kondisi seperti beberapa
hal yang dikemukakan diatas, sehingga menggugah kesadaran masyarakat Dompu
untuk melakukan perlawanan, walaupun dalam bentuk perlawanan yang dilakukan
tidak sebesar perang diponogoro atau perang di kota-kota besar lainya.Namun
dalam catatan sejarah perjuangan masyarakat Dompu pernah terjadi perlawanan
besar-besaran yang dilakukan masyarakat Dompu termaksud masyarakat Kempo yang
terjadi pada tahun 1946. Namun sebelum itu, pernah terjadi perang/perlawanan
yang dilakukan oleh masyarakat Manggelewa di Kabupaten Dompu, perlawanan itu terjadi
berawal dari tingkah dua orang Belanda yang melakukan
propaganda dengan mengeruk
semua uang-uang pajak dari kas kerajaan Bima-Dompu untuk dibawa pulang ke
Belanda, ini disebabkan oleh
Belandatakut pada Jepang yang mulai masuk ke Dompu
pada tahun 1942 . Mendengar hal
itu akhirnya masyarakat Manggelewa melakukan perlawanan terhadap Belanda yang
sejak saat itu ingin melakukan penyerangan besar-besaran terhadap masyarakat
Dompu (Tamin dalam Soeryanto, 2013)
Ketika itu pasukan
Bima-Dompu dipimpin oleh anak dari Sultan Salahuddin yaitu Abdul Kahir
(Sudanso), Abdul Kahir berhasil mengerahkan pasukannya untuk mengusir mundur
pasukan Belanda, dengan berbagai strategi yang telah diatur sebelumnya, yang pada akhirnya pasukan Bima-Dompu mampu
melawan dan mengusir penjajah pada tahun 1942.Sehingga pada tahun 1942 kolonial Belanda mampu
dikalahkan dalam perlawanan yang terjadi di Soriutu (Manggelewa)
kehadiran
kembali belanda menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi masyarakat Kempo,
belanda kembali masuk kembali ke Bima-Dompu pada tanggal 12 Januari 1946 yang dipimpin oleh Jenderal Dr. Van Mook, yang pada
waktu itu Dompu sedang mengalami Vacuum
Of Power. Akibat kekosongan kepemimpinan, maka menjadi peluang tersendiri
bagi belanda. Namun disisi lain masyarakat Kempo khususnya tidak mengetahui
kalau pada tahun 1945 Indonesia sudah merdeka. Masyarakat kempo mengetahui
kemerdekaan Indonesia pada tahun 1946 lewat para nelayan.
Bersamaan
dengan kedatangan belanda, masyarakat kempo melakukan berbagai perlawanan, menurutAgustina,(2003),
Mengemukakan bahwa perlawanan
merupakan bentuk dari pernyataan sikap yang dilakukan oleh masyarakat.
Penyikapan masyarakat tersebut dalam bentuk
perlawanan terhadap kelompok atau pihak yang dianggap
mengancam eksistensi mereka.
Perlawanan
yang dilakukan oleh masyarakat kempo dikarenakan keresahan serta kesengsaraan
yang dialami oleh masyarakat kempo, akibat dari rasa keresahan itu akhirnya masyarakat
kempo melakukan berbagai perlawanan yang diantaranya pembuatan surat dukungan
proklamasi yang ditandatangani dengan darah serta melakukan penyerangan tempat
para belanda dan juga mata-mata dari pihak belanda tersebut. Proses pembuatan
surat dukungan proklamasi dipolopori oleh 10 pemuda Kempo yang dibantu oleh
pemuda dari Jakarta.
Ada beberapa lokasi yang menjadi tempat atau lokasi
dari pembuatan surat dukungan proklamasi itu yang diantaranya (Kawinda Ompu Biko, Kawinda Kalo, Ndano Nae
Kesi, Roju Konte). Yang ditandatangani oleh 100 orang.
Namun
sebelum proses pembuatan surat dukungan proklamasi serta penyerangan tempat
dari pihak belanda, pernah terjadi usaha untuk perlawanan sebelum itu, yaitu
usaha pengibaran benderah merah putih sebagai bentuk perlawanan masyarakat
kempo terhadap kehadiran kembali belanda di Dompu.
Dalam
proses perlawanan tidak terlalu banyak masyarakat kempo ikut terlibat,
melainkan hanya beberapa, yang bisa diperkirakan dibawah seratus orang, yang
menjadi pelopor dalam perlawanan itu yang diantaranya Saleh Jakariah, Saleh
Arifin, M. Taher, M.M.Ai dan Alaidin.
Dengan
kehadiran kembali Belanda di Indonesia terjadi banyak perlawanan diberbagai
daerah seperti di Surabaya pada (25 Oktober 1945), Semarang pada (15 Oktober 1945), ambarawa terjadi pada (20
Oktober 1945), serta masih banyak
perlawanan-perlawanan yang terjadi di Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia.Rakyat
Indonesia menggunakan senjata rampasan dari Jepang dan senjata tradisional yang
ada dalam melawan Pihak Belanda.
(Asvi, 2009).
Menurut Sudharmono (dalam Asvi
warman, 2007), mengungkapkan ada beberapa faktor yang melatarbelakangi lahirnya
perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada saat Belanda kembali
lagi di Indonesia setelah kemerdekaan. Yang dimana masyarakat Indonesia tidak
terima akan tindakan Belanda pada tahun 1942, sebab tampa rasa tanggungjawab
Belanda dengan mudah menyerahkan Indonesia di pangkuan Jepang yang lebih sadis
lagi dalam penjajahanya, serta masyarakat Indonesia sudah lelah akan proses
penjajahan yang cukup sekian lama yang ingin terulang kembali setelah
kemerdekaan telah diraih.
Bentuk dari perlawanan masyarakat
kempo terhadap pihak belanda salah satunya adalah dengan membuat surat dukungan
proklamasi kemerdekaan Indonesia, setelah proses pembuatan surat dukungan
dibuat namun digagalkan maka muncul berbagai perlawanan lainya dengan strategi
penyerangan Gerilya (mengepung) tempat-tempat dari pihak belanda.
Perang gerilya adalah
teknik mengepung dengan cara tak terkesan invisible
(tidak kelihatan).Perang gerilya adalah bentuk perang yang tak berbelit dengan
cara resmi pada ketentuan perang. Perang
gerilya bangsa Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Menghindari perang terbuka
2.
Menghantam musuh dengan
cara tiba-tiba
3.
Menghilang ditengah
lebatnya hutan alias kegelapan malam, Menyamar sebagai rakyat biasa.(Alamsyah, 1986)
bukan hanya belanda yang dilawan oleh masyarakat
Kempo, melainkan masyarakat Kempo lainya yang dianggap sebagai serdadu atau
mata-mata dari pihak belanda itu sendiri diusir dari daerah Kempo. Senjata yang
digunakan masyarakat Kempo dalam melakukan perlawanan yang diantaranya bamboo
runcing, keris serta benda tajam lainya.
Salah satu perlawanan yang dilakukan diantaranya pembuatan
surat berdarah, adapun poin-poin surat dukungan proklamasi antaranya:
VAN MOCK “KAMI TIDAK
TAKUT SAMA MOMOK”
VAN DER PLAST “KAMI
TIDAK MAU LAGI DIPERAS”
KAMI SUDAH MERDEKA
BEBAS DARI NICA
Perlawanan
tidak serta merta tampa sebuah hasil, hasil yang didapatkan terkadang sebuah
kemenangan yang terbebas dari praktek penjajahan, bahkan setelah dilakukan
sebuah perlawanan yang terjadi diberbagai daerah, Belanda tidak langsung
mengundurkan diri. Dwi Nugroho, (2011) menyatakan bahwasanya Belanda mengakhiri
praktek kekuasaan di Indonesia pada 1950.
Namun
berbeda yang dialami oleh masyarakat Kempo, belanda mampu diusir oleh masyarakat Kempo pada
tahun 1946, dengan keluarnya belanda di Kempo bukan berarti belanda keluar di
Dompu pada umumnya, keluarnya belanda di Kempo lantaran tidak mampu menahan
berbagai perlawanan yang diluncurkan oleh masyarakat.
Kondisi Bekas Istana Raja Dompu
Bekas Istana Raja Dompu
merupakan salah satu salah satu peninggalan purbakala (bangunan cagar
budaya) yang terdapat di Kabupaten Dompu. Bangunan bekas Istana
Raja Dompu ini terletak di pinggir jalan raya (Jalan Ir. Soekarno) tepatnya di
Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu. Bekas Istana Raja Dompu adalah rumah
kediaman keluarga Sultan Dompu setelah pindah dari tempatnya yang terdahulu,
yaitu dari lokasi Masjid Baiturahman sekarang. Disamping sebagai rumah kediaman
keluarga Sultan, bangunan bekas Istana Raja Dompu dahulunya juga
difungsikan sebagai tempat penerimaan tamu, baik dari keluarga Sultan maupun
tamu-tamu lain yang berkunjung untuk dapat melihat koleksi peninggalan
Kesultanan Dompu.
Bangunan bekas Istana Raja Dompu
ini merupakan bangunan yang keseluruhan strukturnya terbuat dari bahan kayu dan
berbentuk rumah panggung. Bangunan ini direncanakan sesuai dengan fungsinya
yaitu sebagai tempat kediaman Sultan Dompu dan tempat peneriamaan tamu-tamu
Kesultanan Dompu dan juga untuk penerimaan tamu-tamu yang berkunjung untuk
melihat-lihat koleksi peninggalan Kesultanan Dompu. Berdasarkan atas asas
pemikiran di atas maka bekas Istana Raja Dompu dalam penataan ruangnya di bagi
menjadi enam ruangan dan satu ruangan loteng di bagian atas. Uraian tentang
pembagian ruang pada bangunan bekas Istana Raja Dompu akan diuraikan sebagai
berikut:
a.
Ruang
Tamu
Menurut ketengan dari
pihak keluarga Kesultanan Dompu, pada awalnya tangga masuk/naik menuju ke
ruangan atas bangunan bekas Istana Raja Dompu terletak di sisi timur. Namun
pada perkembangannya dan dikarenakan satu dan lain hal anak tangga tersebut
dipindahkan di sisi utara bangunan. Hal ini menyebabkan ruangan tamu yang ada
di sisi utara ini mengalami pemotongan/dihilangkan. Dari data foto dokumentasi
yang berhasil didapatkan menunjukkan bahwasannya keterangan
tentang ruang tamu ini yang telah dihilangkan berhasil
didapatkan.
b. Ruang Keluarga
Ruang keluarga ini
terletak di sisi timur ruangan bangunan bekas Istana Raja Dompu, memanjang arah
utara-selatan dengan pintu masuk terletak di sisi utara. Menurut keterangan
dari pihak keluarga Kesultanan Dompu menyebutkan bahwa ruangan ini dahulunya difungsikan
sebagai tempat untuk berkumpul seluruh kelurga Kesultanan Dompu dan juga untuk
menempatkan barang-barang peninggalan Kesultanan Dompu. Namun untuk saat ini
ruangan kelurga ini sudah tidak difungsikan lagi.
c. Ruang Tidur
Ruang tidur yang
terdapat di bangunan bekas Istana Raja Dompu berjumlah tiga buah, dengan
dipisahkan dengan sekat-sekat papan kayu. Ketiga ruang tidur ini terletak di
sisi sebelah barat, memanjang arah utara-selatan dengan pintu masuk ke ruangan
tidur ini berada di sisi timur. Menurut keterangan dari pemilik bangunan ini
ketiga ruangan tidur ini memiliki ukuran yang kurang lebih sama antara satu
dengan lainnya.
d. Dapur
Ruangan yang
difungsikan sebagai dapur ini sebenarnya sudah mengalami pemotongan dan
sekarang ini tidak ada lagi. Pemotongan terhadap dapur yang terletak paling
selatan dari bagunan bekas Istana Raja Dompu ini dilakukan karena pihak
keluarga Kesultanan Dompu membuat rumah tinggal permanen di sisi selatan
bangunan bekas Istana Raja Dompu. Walaupun keberadaannya sudah tidak ada lagi
saat ini, tetapi data-data tentang keberadaan dapur ini masih bisa kita
dapatkan dari keterangan-keterangan pihak keluarga kesultanan.
e. Loteng
Loteng ini merupakan
ruangan paling atas dari bangunan bekas Istana Raja Dompu, ruangan ini memiliki
ukuran cukup besar dan tanpa memiliki sekat yang membaginya menjadi
ruangan-ruangan dengan ukuran yang lebih kecil. Keterangan yang diperoleh di
lapangan dapat diketahui bahwa ruangan loteng ini dahulunya dipergunakan
sebagai tempat menyimpan barang-barang berharga milik Kesultanan Dompu. Dalam
perkembangannya sekarang ruangan ini tidak dimanfaatkan lagi dan dibiarkan
kosong begitu saja.
Data arkeologi adalah data
tentang nilai penting bangunan cagar budaya terhadap sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan serta kebudayaan dan memiliki tingkat keaslian yang meliputi
bahan, bentuk, tata letak dan tehnik pengerjaan, untuk menetapkan layak dan
tidaknya bangunan dipugar berdasarkan data yang ada.
Bangunan
bekas Istana Raja Dompu yang menjadi sasaran dalam kegiatan Studi Teknis
Arkeologi, merupakan bangunan yang dipindahkan dari tempatnya terdahulu,
awalnya bangunan Istana Raja Dompu ini terletak di tempat Masjid Baiturahman
sekarang ini. Pada masa pendudukan Jepang di Dompu bangunan istana ini
dijadikan tempat untuk tentara Jepang, sebelum akhirnya dihancurkan oleh Jepang
sendiri.
Kemudian
pihak keluarga Kesultanan Dompu memindahkan bangunan istananya ke tempat yang
sekarang, yaitu berlokasi di Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu.Data arkeologi
yang berhasil dikumpulkan pada saat pelaksanaan kegiatan Studi Kelayakan di
bekas Istana Raja Dompu adalah sebuah bangunan cagar budaya yang berupa sebuah
rumah panggung dengan struktur keseluruhannya terbuat dari bahan kayu. Bangunan
istana ini adalah tempat Sultan Dompu dan kerabatnya tinggal pada masa lalu.
Lebih jelasnya mengenai bangunan cagar budaya ini akan diuraikan.
Bekas
Istana Raja Dompu ini merupakan bangunan yang memiliki arsitektur rumah panggung
dengan keseluruhan strukturnya terbuat dari bahan kayu (perpaduan antara kayu
jati dan kelapa). Memiliki sembilan tiang sebagai tiang utama yang menunjang
struktur bagian atasnya. Menurut keterangan dari pihak keluarga Kesultanan
Dompu dan juga dari data foto dokumentasi yang berhasil ditemukan dapat
diketahui bahwa bangunan istana ini telah mengalami perubahan bentuk. Dimana
pada awalnya bangunan istana ini menghadap ke arah timur dengan anak tangga
berada di sisi timur. Tetapi saat ini anak tangga untuk naik ke atas istana
berada di sisi utara, dan sebagian ruangan yang ada di sisi utara dan sisi
selatan bangunan istana ini telah dipotong. Dimana pada awalnya pada sisi utara
bangunan bekas Istana Dompu ini merupakan ruangan tamu dan ruangan yang mengalami
pemotongan di sisi selatan awalnya adalah dapur.
Seperti
telah disebutkan di atas bahwa anak tangga istana ini sekarang terletak di sisi
utara bangunan istana, mencapai bagian atas ruangan istana ini kita akan
menemui ruangan yang cukup lapang dengan dinding dan lantai yang terbuat dari
kayu. Pada awalnya ruangan ini memiliki sekat-sekat pemisah yang membentuk
ruangan-ruangan kecil dan berfungsi sebagai ruang tidur keluarga Kesultanan
Dompu.
Selain
ruangan yang disebutkan di atas, masih ada satu ruangan lagi yang berfungsi
sebagai loteng tempat menyimpan barang-barang milik keluarga Kesultanan Dompu.
Loteng ini terbentuk dari atap bangunan istana yang bertingkat dua. Atap
bangunan istana ini memiliki bentuk atap pelana dengan atap yang terbuat dari
genting. Secara keseluruhan kondisi fisik bangunan bekas Istana Raja Dompu ini
telah banyak mengalami gejala kerusakan dan pelapukan. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh faktor umur yang sudah sangat tua, kondisi lingkungan yang
selalu mengalami fluktuasi dan juga karena faktor adanya bencana alam yang
pernah melanda wilayah Dompu.
Perlawanan Masyarakat Manggelewa Pada Tahun
1942 (Perang Manggelewa)
Setelah Belanda membuang Sultan Muhammad
Sirajuddin bersama kedua anaknya ke Kupang pada tahun 1934, praktis kesultanan
Dompu tak lagi memiliki seorang kepala negara. Sebuah komite yang terdiri atas
Jeneli. Dompu dan Jeneli Kempo dibentuk untuk menjalankan
pemerintahan. Posisi Dompu semakin meredup, secara administratif wilayah
Kesultanan Dompu digabungkan dengan Kesultanan Bima. Penggabungan wilayah
Kesultanan Dompu menjadi bagian dari Kesultanan Bima baru terwujud secara
sempurna pada tahun 1942, pada masa pendudukan Jepang.
Di akhir-akhir masa penjajahannya,
Pemerintah Hindia Belanda mengalami serangkaian kekalahan atas Jepang dalam
Perang Dunia ke-2. Di Bima, Jepang menjatuhkan bom yang menghancurkan pangkalan
bahan bakar Belanda di Pulau Kambing, sebuah pulau kecil di tengah teluk Bima.
Serdadu KNIL kalang kabut, rakyat Bima pun sama terkejutnya. Terdengarlah kabar
bahwa Jepang telah menguasai Makassar dan penyerahan tanpa syarat oleh Letnan
Jenderal H. Ter Poorten – Panglima Angkatan Perang Hindia – Belanda kepada
Jenderal Imamura tanggal 4 Maret 1942.
Peristiwa ini menginspirasi para pemuda
aktivis perjuangan di Bima, mereka kemudian menyusun sebuah rencana kudeta
terhadap kekuasaan Belanda di Bima. Dibentuklah KAPB (Komite Aksi Penangkapan
Belanda) pada Maret 1942 yang diketuai oleh M. Qasymir. KAPB terdiri atas para pemuda yang
tergabung dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan (HW) Muhammadiyah dan Pemuda
Anshor NU serta didukung oleh 14 serdadu KNIL yang membelot. 14 orang serdadu
KNIL yang dipimpin oleh Aritonang ini membelot karena kurang suka dengan gaya
kepemimpinan Keeper – Kepala Kepolisian Hindia Belanda di Bima – dan akibat
mereka telah beberapa bulan tak digaji. Mereka kemudian menyusun strategi
penangkapan terhadap seluruh pejabat dan tentara Belanda di Bima secara senyap
dan menentukan target-target serangan secara terukur
Pada hari Minggu tanggal 5 April
1942,bergeraklah laskar pejuang menuju titik-titik yang dijadikan target
serangan. Aritonang, mantan tentara KNIL Belanda yang memiliki pengalaman
militer itu ditugaskan memimpin serangan atas pos-pos serdadu KNIL dan rumah
para pejabat Belanda di Kota Raba. Sedangkan M. Qasymir, memimpin sebagian
pejuang lainnya untuk melumpuhkan pusat-pusat telekomunikasi Belanda untuk
mencegah dikirimkannya informasi pada markas KNIL di luar Bima. Rencana
berjalan mulus, semua orang Belanda dan serdadu KNIL ditangkap dan dikumpulkan
di asrama Polisi Hindia Belanda di Bima. M. Qasymir lalu menghadap Sultan M.
Salahuddin untuk mengabarkan berita gembira ini.
Walaupun rencana sudah disusun rapi dan
pos-pos penjagaan telah dibuat untuk mencegah lolosnya orang-orang Belanda,
namun ternyata ada 3 pejabat Belanda yang berhasil meloloskan diri. Mereka
adalah H.E. Haak (Asisten Residen Sumbawa-Sumba), Pons (direktur algeemene volks credit bank)
dan J.W. Ros (Bosh Architect Bima) yang di kalangan orang Bima
dijuluki Tuan Komba. Mereka melarikan diri ke Sumbawa Besar. Sultan M.
Salahuddin meminta para pejuang untuk menyiapkan diri terhadap rencana balasan
dari H.E. Haak. Komite lalu mengirim Hasan Hantabi dan Suwondo ke Sumbawa untuk
mengumpulkan informasi tentang rencana Belanda.
Rupanya H.E. Haak berusaha menghasut
Sultan Kaharuddin III, penguasa Kesultanan Sumbawa yang juga merupakan menantu
dari Sultan M. Salahuddin. Ia menyebarkan berita palsu bahwa para pemberontak
telah menangkap dan memenjarakan Sultan M. Salahuddin -mertuanya- dan para
pejabat Belanda. Namun sayangnya Sultan Kaharuddin tak terpengaruh.Akhirnya
H.E. Haak meminta bantuan pasukan Belanda di Lombok Timur. Pada 12 April
1942,bergeraklah pasukan Belanda menuju Bima. Pasukan ini terdiri atas Polisi Hindia
Belanda Sumbawa dan serdadu KNIL serta Polisi Hindia Belanda Lombok Timur.
Jeneli Kempo, Amin Dae Emo, mengabarkan tentang pergerakan Belanda ini
kepada rakyatnya. Mereka diperintahkan untuk membantu laskar pejuang dari Bima.
Rakyat Dompu kemudian bergabung dengan para pejuang yang datang dari Bima
dengan mengendarai 3 buah truk. Rombongan ini tiba di Jembatan Kampaja, Sungai
Sori Utu, menjelang larut malam. Para pejuang berencana menyergap pasukan
Belanda di tempat itu.
Menjelang subuh, konvoi pasukan musuh
terlihat di kejauhan memasuki Desa Banggo. Mereka berhenti di cabang banggo.
Begitu mobil pertama musuh memasuki ujung jembatan kampaja Sori Utu, para
pejuang langsung menghujani mereka dengan tembakan. Tamin H. Adamdan A. Rasul
H. Adam, dari Kempo ditugaskan memimpin pasukannya menyergap Belanda dari arah
belakang. Pasukan Belanda terkejut, namun mereka membalas serangan itu dan
mampu bertahan hingga siang.
Para pejuang tidak menyerah, mereka
terus menyerang dengan menjadikan pohon-pohon asam raksasa yang tumbuh di
lembah itu sebagai tempat berlindung. Akhirnya pasukan Belanda menyerah dan
mundur, mereka melarikan diri ke arah Sumbawa. Belanda pun dapat diusir untuk
selamanya dari tanah Bima dan Dompu. Perang Sori Utudimenangkan oleh para
pejuang Bima-Dompu.
H.E. Haak akhirnya bertahan di Lombok
Timur dan terus berusaha agar Belanda dapat kembali menduduki Bima dan Dompu
walaupun usahanya itu sia-sia. Tahun 1947 Dompu kembali memperoleh statusnya
sebagai kesultanan dengan pemerintahan otonomi lewat diplomasi gigih M.T.
Arifin Sirajuddin, cucu dari Sultan Muhammad Sirajuddin Manuru Kupa.
SEJARAH
MASJID `SYEKH ABDUL GANI
Selain barang-barang peninggalan masa prasejarah ternyata
di Dompu banyak terdapat pula beberapa peninggalan atau bangunan kuno lainya meskipun
saat ini hanya tinggal sisa-sisa kenangan dan hanya sebatas cerita nostalgia.
Namun demikian hal itu membuktikan bahwa Dompu pernah berjaya bahkan sempat
mencapai puncak jaman keemasan di masa lampau.
Hampir 99 porsen masyarakat Dompu saat ini memeluk Agama Islam dan sisanya beragama Non Muslim.
Hampir 99 porsen masyarakat Dompu saat ini memeluk Agama Islam dan sisanya beragama Non Muslim.
Sejarah juga mencatat bahwa Dompu ternyata sangat besar
andilnya khususnya dalam upaya masuknya agama Islam di Nusantara khususnya
diwilayah pulau Sumbawa lebih-lebih di daerah Dompu itu sendiri. Bahkan bukti-bukti
penyebaran Islam di dompu banyak terdapat di daerah ini seperti adanya makam
para ulama yang dulu pernah membawa dan menyebarkan ajaran Islam di wilayah
Dompu seperti misalnya,adanya makam “Waru Kali” yang terdapat di kelurahan
kandai I Kecamatan Dompu. Oleh masyarakat setempat kuburan kuno tersebut di
yakini sebagai makam atau kuburan seorang ulama besar yang berasal dari pulau
Sumatera yakni Syekh Hasanuddin.
Kemudian ada juga Makam mubalig atau ulama besar lainya
yakni makam Syekh Abdul Salam yang berada di Raba Laju Kelurahan Potu Dompu.
Selain dua ulama itu di Dompu konon juga dating beberapa ulama dan mubalig
besar yang berjasa menyebarkan Islam di Dompu seperti Syekh Umar, Syekh Bantam
dari Madiun Jawa Timur, dan juga Syekh Abdullah dari Makasar.
Sejarah juga mencatat bahwa, pengaruh Islam masuk di Dompu sekitar tahun 1628 bahkan pengaruh Islam secara kecil-kecilan sudah mulai masuk di Dompu sekitar tahun 1528, artinya Islam mulai masuk di Dompu sekitar abad ke-16.
Sejarah juga mencatat bahwa, pengaruh Islam masuk di Dompu sekitar tahun 1628 bahkan pengaruh Islam secara kecil-kecilan sudah mulai masuk di Dompu sekitar tahun 1528, artinya Islam mulai masuk di Dompu sekitar abad ke-16.
Selain bangunan makam atau kuburan ulama,di Dompu ternyata
juga ada peninggalan bangunan kuno berupa Masjid. Masjid yang paling terkenal
dulu bernama Masjid “Syekh Abdul Gani”. Menurut salah seorang tokoh masyarakat
yang juga sebagai pemerhati budaya di Dompu H.Muhammad Yahya kepada penulis di
kediamannya di Kelurahan Potu Dompu menuturkan, Masjid Syekh Abdul gani
tersebut sebenarnya sudah ada sejak jamannya Sultan Abdullah (1871-1882) ayah
kandung dari Sultan Dompu yang ke-20 yakni Sultan Muhammad Siradjuddin (Manuru
Kupa). Konon masjid tersebut berada atau terletak di dekat bangunan komplek
Istana kesultanan Dompu yang saat itu berada di lokasi Masjid Agung Baiturahman
(Masjid Raya Dompu). Sayang masjid Syekh Abdul Gani yang juga dikenal dengan
nama Masjid Istana tersebut kini lokasinya sudah berdiri bangunan Kantor
pemerintah kelurahan Karijawa Kecamatan dompu.
Menurut H.Muhammad Yahya, masjid peninggalan kesultanan
tersebut konon ada kaitanya dengan nama besar seorang ulama dan mubalig kondang
yakni Syekh Abdul Gani. Bagi masyarakat Dompu nama Syekh Abdul Gani merupakan
seorang ulama besar yang sangat berjasa menyebarkan Islam di daerah ini bahkan
di pulau Lombok dan Sumbawa serta Bima,Syekh Abdul Gani dikenal sebagai ulama
besar yang berjasa membawa Islam di wilayah NTB bahkan di Nusantara. Syekh
Abdul Gani konon pernah bersama dengan tokoh pendiri NU (Nahdlatul Ulama)
sama-sama menimba ilmu agama Islama di tanah suci Makkah Al-Mukarrohmah,bahkan
syekh Abdul Gani merupakan salah seorang Imam masjid di Masjidil Harram di
Makkah.
H.Muhammad Yahya juga menuturkan, bangunan Masjid Syekh
Abdul Gani di bongkar sekitar tahun 1950-an. Sedangkan bangunan Istana
Kesultanan Dompu di bongkar pada saat Jepang masuk di Dompu sekitar tahun 1941.
Lokasi atau tempat bangunan Istana Kesultanan Dompu kini sudah berdiri sebuah
masjid yakni Masjid Agung Baiturahman Dompu (Masjid Raya Dompu).
Meskipun Masjid Syekh Abdul Gani kini hanya tinggal nama,tetapi di Dompu juga masih ada peninggalan sisa jaman keemasan Islam di daerah ini, bangunan tersebut yakni Masjid Al-Mansyur (Syekh Mansyur).
Meskipun Masjid Syekh Abdul Gani kini hanya tinggal nama,tetapi di Dompu juga masih ada peninggalan sisa jaman keemasan Islam di daerah ini, bangunan tersebut yakni Masjid Al-Mansyur (Syekh Mansyur).
Masjid tersebut terletak di kampung Magenda Kelurahan Potu
Kecamatan Dompu. Menurut H.Muhammad Yahya, masjid tersebut dulu hanya sebuah
bangunan Mushola dan di bangun oleh Syekh Mansyur. Siapakah sosok ulama besar
bernama Syekh Mansyur tersebut.
Almarhum Syekh Mansyur dikenal sebagai seorang ulama dan
mubalig yang cukup kharismatik sama persis almarhum ayahandanya yakni Syekh
Abdul Gani. Di kampung Magenda inilah konon Syekh Mansyur melakukan pusat
berdakwah sekaligus menjadikan kampung Magenda sebagai pusat kegiatan Islam di
dompu. Setelah syekh mansyur wafat,sebenarnya almarhum hendak dimakamkan di
wilayah “SO JA`DO” sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Bali I Dompu.
Namun karena banyak pertimbangan oleh para tokoh-tokoh
masyarakat saat itu,akhirnya almarhum di kuburkan berdekatan dengan masjid yang
didirikannya itu (Masjid Al-Mansyur/Masjid Syekh Mansyur).Masjid yang sudah
mengalami perombakan selama empat kali itu,kini kondisinya cukup bagus dan
merupakan bangunan permanen.
Karomah Ruma Sehe Dompu
Sebagai seorang ulama yang sangat dekat dengan
Allah, seorang Ruma Sehe pasti memiliki banyak kisah karomah. Sebagaimana
Ulama-ulama Islam lainnya, Ruma Sehe pastilah diberikan kelebihan berupa
karomah oleh Allah yang tidak diberikan kepada orang biasa.
Sebut saja Syekh Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi,
begitu banyak kisah tentang karomah yang dimiliki oleh kakek dari Syekh Mahdali
atau Sehe ‘Boe – ulama kharismatik di Dompu hingga Bima – ini. Di Dompu, pengaruh
Ruma Sehe sangat besar bahkan melebihi pengaruh Sangaji (Raja Dompu). Pengaruh
itu bahkan bukan hanya sebatas di Dompu, bahkan masyarakat Bima sebagai suku
yang serumpun dengan Dompu pun menghormati dan memuliakan seorang Ruma Sehe dan
keturunannya. Sebab dahulu, salah seorang Ruma Sehe, yakni Syekh Subuh pernah
menjadi hakim agung dalam struktur Kerajaan Islam Bima.
Penghormatan dan pengagungan masyarakat Dompu dan
juga Bima terhadap Ruma Sehe sebagai Ulama dapat terlihat hingga kini. Ketika
disebut namanya, masyarakat pasti akan berbondong-bondong mengirimkan bacaan
Surah Al-Fatihah. Semua itu tidak lain karena penghormatan mereka pada ulama,
orang yang dianggap sebagai yang paling taqwa kepada Allah. Hingga kokok ayam
pertama menjelang subuh oleh orang Bima dan Dompu dikatakan: koko janga Ruma Sehe (Kokok ayam Tuan Syaikh). Hal ini
berasal dari anggapan bahwa Ruma
Sehe begitu awal bangun
bahkan mungkin mereka tidak tidur sepanjang malam karena sibuk beribadah
mendekatkan diri pada Allah. Kokok ayamnya saja sebagai pertanda telah masuk
waktu subuh, lebih dini dari ayam lain.
Misalnya saja, menurut kisah, karomah Syekh Abdul
Ghani kakek dari Syekh Mahdali (Sehe ‘Boe), secara ajaib pernah menyebabkan
Ka’bah miring hanya karena kopiah beliau terpasang miring. Ceritanya, dalam
satu majelis di Masjidil Haram beliau sedang berada dengan sejumlah ulama.
Seorang di antara mereka merasakan keanehan, melihat Ka’bah miring. Ia pun
menyampaikan hal itu kepada pimpinan majelis. Semula para ulama, teman-teman Syekh
Abdul Ghani bingung. Tapi pimpinan majelis melihat ke Syekh Abdul Ghani seraya
berkata,”Ada orang amat saleh di antara kita.” Dia lalu meminta Syekh Abdul
Ghani meluruskan kopiahnya. Setelah kopiah Syekh Abdul Ghani ke posisinya,
Ka’bah pun tegak seperti semula.
Dalam kisah lain disebutkan, suatu waktu Syekh Abdul
Ghani sedang duduk dalam satu majelis di Masjidil Haram. Pemimpin majelis
tiba-tiba mengajukan pertanyaannyeleneh kepada Syekh Abdul Ghani tentang
Allah. “Syekh Abdul Ghani, menurut tuan Allah sedang melakukan apa
sekarang?” bertanya pimpinan majelis. Syekh Abdul Ghani tidak langsung
menjawab pertanyaan tersebut. Sejurus beliau diam, lalu berkata, “Tuan,
boleh kita bertukar tempat?” kata Syekh Abdul Ghani seraya meminta ketua
majelis turun dari mimbar, untuk kemudian Syekh Abdul Ghani duduk di tempat
tersebut. Setelah di mimbar, Syekh Abdul Ghani berkata, “adapun yang dilakukan
Allah adalah baru saja menggeser posisi duduk saya dengan tuan.” Pimpinan
majelis menyatakan puas dan kagum pada Syekh Abdul Ghani.
Kemampuan Syekh Abdul Ghani mengetahui sesuatu
sebelum ditunjukkan atau mengerti tanpa belajar dikatakan memiliki ilmu laduni.
hanya ulama-ulama yang sudah benar-benar hubullah atau cinta Allah yang bisa memiliki
ilmu tersebut. Dalam satu perjalanan ibadah haji dari Mekah ke Madinah, Syekh
Abdul Ghani pernah mendapat keajaiban. Beliau berjalan dengan beberapa orang
dalam rombongan.
Di tengah perjalanan, rombongan itu menemukan
sesosok mayat yang membusuk. Teman-teman Syekh Abdul Ghani menjauhi mayat itu
karena bau. Sebaliknya Syekh Abdul Ghani mengurus mayat tersebut dan
menguburkannya. Ketika Syekh Abdul Ghani hendak menutup lubang kubur, mayat itu
tiba-tiba berbicara dan memberitahukan sejumlah rahasia kepada Syekh Abdul
Ghani. Mayat itu ternyata jelmaan malaikat. Salah satu rahasia tersebut adalah
jawaban dari sayembara unik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Khilafah Utsmaniyyahyang akan digelar di
Mekah.
Saat itu, Negara Islam Khilafah Utsmaniyyah
memerintah wilayah dari Maroko sampai Kesultanan-kesultanan di Nusantara. Hijaz
(Jazirah Arab) adalah salah satu Provinsi Khilafah Utsmaniyyah. Sekembalinya ke
Mekah, Syekh Abdul Ghani mengikuti sayembara itu dan di luar dugaan ternyata
mampu menebak isi bungkusan yang disodorkan kepadanya. Yakni berupa tulisan
Surat Al-Ikhlas. Atas kemampuannya, Syekh Abdul Ghani memperoleh tanah wakaf
dari Syarif Mekah, gubernur (Arab: wali) Khilafah Utsmaniyyah untuk wilayah
Hijaz.
Rahasia
Karomah Para Ruma Sehe
Rahasia karomah seorang ulama sejatinya adalah
karena kedekatan mereka pada Allah. Dan kedekatan ini hanya dapat dibangun
dengan bertaqwa pada-Nya. Yakni mematuhi Syariah Islam yang telah diturunkan
oleh Allah SWT. Mematuhi Syariah artinya menjauhi seluruh larangan Allah dan
melaksanakan seluruh perintah Allah. Zaman dahulu, tidaklah mengherankan kita
banyak menemukan ulama dengan karomah dari Allah. Mengapa? Sebab dahulu Syariah
Islam masih tegak secara sempurna seluruhnya oleh institusi pelaksananya.
Sebagaimana Imam Al-Ghazali menulis di dalam
kitabnya Iqthishad fi al
i’tiqadbahwa institusi penjaga (yakni pelaksana) Syariah Islam adalah Ash sulthan (baca: Kekuasaan, Negara). Negara itu
menurut hadis Rasul, berbentuk Sistem Khilafah yang berbeda dengan sistem
demokrasi kapitalis maupun demokrasi sosialis. Negara Khilafah ini pernah
berdiri selama 13 abad lamanya dan tidak pernah hilang dari muka Bumi keculai
setelah Inggris menghancurkannya dan secara resmi menghapuskannya pada 3 Maret
1924. Keberhasilan Inggris ini adalah hasil dari usaha keas kaum Yahudi dan
Kristen selama hampir sepuluh Abad lamanya. Dan baru berhasil dilaksanakan
lewat agen mereka, Mustafa Kemal Attaturk.
Adapun di Dompu, Syariah Islam telah diterapkan oleh
Kerajaan Islam Dompo atau Kesultanan Dompo. Wajar jika manusia bisa bertaqwa,
bisa dekat dengan Allah. Karena manusia dapat dengan mudah melaksanakan
perintah Allah dan dipaksa oleh negara untuk meninggalkan seluruh larangan-Nya.
Para Ruma Sehe bahkan merupakan individu yang menjadi tumpuan pengawalan dalam
penerapan Syariah Islam di Dompu dan juga Bima. Jasa mereka sangat besar bagi Dou Sapaju Dana Dompudalam
penerapan Syariah Islam oleh negara.
Ketika penguasa keliru dalam kebijakannya, para Ruma
Sehe-lah orang pertama yang akan mengoreksi mereka agar penguasa itu kembali
mematuhi Syariah Islam. Wajar jika Allah sangat mencintai Ruma Sehe dan
memberikan keistimewaan untuk mereka berupa karomah. Kecintaan Allah pada
mereka mengakibatkan manusia juga mencintai mereka. Barangsiapa dicintai oleh
penduduk langit pasti akan dicintai pula oleh penduduk Bumi.
Kedekatan para Ruma Sehe dengan Allah inilah rahasia
karomahnya. Ketika seorang manusia dekat dengan Allah, maka Allah akan selalu
hadir menjaganya, Allah akan mengabulkan doanya dan menolongnya ketika manusia
itu memohon pertolongan. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman:
“Barangsiapa
menghinakan kekasih-Ku (wali-Ku), ia telah terang-terangan memusushi-Ku. Wahai
anak adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali
dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang
terus menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunnah,
maka Aku pasti akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan
menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya, Aku akan menjadi lisannya yang ia
berbicara dengannya, Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika
ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta
kepada-Ku, maka pasti aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan
kepada-Ku maka pasti Aku akan menolongnya.” (Hadis riwayat Imam Ath Thabrani dalam Kitab
Al-Kabiyr).
Karomah Sehe ‘Boe
Banyak
cerita masyarakat mengenai karomah para ruma sehe. Ada cerita yang mengatakan
bahwa mereka dapat hadir shalat di Masjidil Haram, dapat berpindah tempat dari
Dompu ke Makkah secara ghaib, dll. Namun semua cerita itu menurut MADA semuanya
tidak dapat dipertanggungjawabkan. Semuanya hanya klenik yang berbahaya bagi
aqidah seorang muslim. Namun saya menemukan satu karomah luar biasa yang
dimiliki oleh Para Ruma Sehe, termasuk Ruma Sehe Mahdali. Yakni ketundukan
manusia kepadanya.
Tahukah
anda bahwa ketundukan dan kepatuhan orang lain kepada seorang Ulama adalah
termasuk karomah? Karena tidak semua orang yang berbicara agama akan diikuti
perintah atau ucapannya. Orang biasa yang berbicara, sangat berbeda hasilnya
dengan ucapan dari ulama. Meskipun topik yang dibahas sama dan dalil yang
diucapkannya tak beda.
Ketaqwaan,
kedekatan dengan Allah azza wa jalla, dan juga kecintaannya pada Allah itulah
yang membuat seorang manusia karomah dalam ucapannya. Meskipun retorikanya
tidak lincah, meskipun teknik penyampaiaannya biasa saja. Dalam hal ini, Ruma
Sehe Mahdali rahimahullah memiliki semuanya. Sehingga beliau begitu dihormati,
ucapannya diikuti, perintahnya ditaati, teladannya dicontohi. Begitu kita
menyebut namanya maka ribuan orang akan langsung membacakan Al-Fatihah
untuknya. Itulah karomah beliau. Jadi, tak perlu mencari-cri cerita klenik atas
karomah beliau.
Kita
Bisa ‘Menciptakan’ Orang Dengan karomah Seperti Syekh Mahdali
Patut
kita bertanya, sistem apakah yang kemudian menghasilkan kualitas orang seperti
Ruma Sehe dengan keluasan ilmunya, juga dengan ketaqwaan dan kecintaannya pada
Allah?Ingat, bahwa mereka hidup di zaman di mana Negara Khilafah Islam masih
tegak, Syariah Islam masih diterapkan dan dikawal oleh Negara. Sistem
pendidikan Islam yang menjadi kunci terbentuknya pribadi-pribadi shalih. Sistem
pendidikan Islam menjadikan aqidah Islam sebagai azas dalam pendidikan.
Sehingga aqidah Islam akan menjadi pelajaran pertama dalam kurikulum dan adab
menjadi bidang studi selanjutnya. Baru kemudian diberikan pelajaran lain
seperti fiqh, bahasa Arab dan sains. Pendidikan Islam akan disterilkan dari
teori-teori sesat seperti teori evolusi charles Darwin.
Selain
itu, Negara Islam juga akan mengkondisikan masyarakat untuk bertaqwa. Segala
perilaku menyimpang dan maksiat yang akan merusak aqidah dan moral masyarakat
akan diberantas. Pelaku kejahatan dihukum berat. Suasana ketaqwaan begitu
kental terasa, sangat cocok untuk belajar dan menghasilkan generasi emas. Tidak
ada ceritanya hafalan ayat terlupa akibat aurat yang dipertontonkan secara
massal. Sebab rimpu sebagai kerudung (khimar) lokal sudah mentradisi.
Dan
semua itu hanya terjadi ketika ummat Islam hidup dalam sistem Islamiy. Yakni di
dalam Daulah Islam, Khilafah Islamiyyah dan Kerajaan Islam-kerajaan Islam yang
menjadi bawahannya. Khilafah Utsmaniyyah dan Kerajaan Islam-kerajaan Islam yang
menjadi bawahannya di Nusantara menjadi penjaga Syariah Islam. Mereka
menerapkan Syariah Islam.
Jadi,
kualitas orang seperti Ruma Sehe hanya dapat kita temukan dalam sistem Islam.
Di dalam Khilafah Islam yang menerapkan Syariah Islam.Maka jika anda
menginginkan diri anda atau anak anda memiliki karomah seperti ruma Sehe, anda
butuh Syariah dan Khilafah. Insya Allah, Khilaafah inilah yang akan segera
tegak.
Mitos
di Balik Situs Doro Bata
Doro Bata adalah sebuah Situs Sejarah yang
dilindungi. Bukit yang
letaknya di bagian Selatan Kota Dompu atau tepatnya di Kelurahan Kandai I
itu, sepintas tampak tidak berbeda dengan bukit-bukit lainnya.
Namun Mitos di
balik tampilanya yang biasa-biasa itulah yang membuatnya menarik untuk dilirik,
bahkan seorang Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia Prof. GJ. Held
bersama asistennya Koentjaraningrat tertarik untuk melakukan penelitian
di Doro Bata pada tahun 1954.
Kemudian di tahun 1968, Dari hasil pengamatan Penulis, bisa terlihat adanya susunan bata-bata yang teratur rapi mirip bangunan berbentuk segiempat. Jadi Penulis menyimpulkan, Doro Bata yang berukuran kurang lebih 20 x 30 m adalah tanah yang menimbun sebuah bangunan.
Kemudian di tahun 1968, Dari hasil pengamatan Penulis, bisa terlihat adanya susunan bata-bata yang teratur rapi mirip bangunan berbentuk segiempat. Jadi Penulis menyimpulkan, Doro Bata yang berukuran kurang lebih 20 x 30 m adalah tanah yang menimbun sebuah bangunan.
Kemudian
pada tahun 1973, dilakukan survey resmi oleh team Kepurbakalaan Depdikbud
Jakarta. Dari hasil survey tersebut dapat diungkap beberapa hal di
bawah ini :
a.
Doro dalam bahasa daerah Dompu
berarti Bukit/Gunung.Lokasinya berada di bagian Selatan Kota dompu. Tepatnya di
Kelurahan Kandai I. Situs ini telah lama dikenal masyarakat dari cerita yang
diwariskan secara turun temurun, bahkan bata-bata yang diperoleh dengan cara
menggali di Doro Bata telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan oleh
warga. terdapat susunan bata-bata merah. Pada bagian atas dari Doro Bata
dierdapat sebuah sumur dari Batu sedalam 65 cm.
b.
Setelah ditemukannya benda-benda
bernilai Sejarah di sekitar Doro Bata, maka oleh Pemerintah sejak tahun 1968
melarang warga untuk melakukan penggalian liar lagi.
c.
Doro Bata juga menjadi sebuah
tempat peristirahatan bagi keluaga Sultan. Terdapat sungai yang mengalir di
bawah bukit bernama Sori(Sungai) Lio.
Lio artinya Naga, lambang
dari Kerajaan Dompu. Sungai itu dulunya menjadi tempat mandinya
putri-putri Raja.
d.
Seorang tukang kebun yang sebelumnya
pernah mengalami mimpi aneh menemukan beberapa keramik berupa, guci, Cupu
(Tempat Perhiasan), cangkir, piring, saat sedang menggarap kebunnya di Dorongao, tidak jauh dari Doro
Bata. Barang-barang temuan tersebut selanjutnya diamankan di Polres Dompu.
Tidak puas
dengan informasi-informasi tersebut, Penulis mencoba mengorek cerita dari
Sumber Lisan yang bisa dipercaya, antara lain Bapak H. M. Ali M.
Kamaluddin (Kandai II), seseorang yang juga ditemui oleh Professor GJ. Held
untuk diwawancara. Ringkasan cerita beliau tentang Doro Bata adalah sebagai
berikut :
1.
Doro Bata merupakan Istana yang
ditimbun. Dibangun oleh Sultan Syamsuddin dan dulunya merupakan Ibu Kota
Kerajaan sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi Masjid Agung Baiturrahman oleh
Sultan Abdurrasul II.
2.
Tempat bersemayamnya atau
dikuburnya Sultan Abdurrasul II (Manuru Bata). MANURU dapat diartikan
sebagai tempat
bersemayamnya atau bisa juga diartikan sebagai tempat dikuburkannya seorang
Sultan.
3.
Sumur sedalam 65 cm yang letaknya di
atas Doro Bata memiliki cerita mistis tersendiri. Konon sumur ini bisa memancarkan
air bertuah yang dipergunakan oleh masyarakat untuk mengobati beberapa
penyakit. Setelah melakukan ritual Toho Ra Dore untuk menggugah Parafu yang menjaga sumur
tersebut, maka jika beruntung atau mendapat simpati dari Parafu penunggu Sumur,
dari dalam sumur akan memancar keluar air yang dipinta oleh pemohon. Jika salah
melengkapi Sesajian yang menjadi persyaratan ritual, maka keinginan pemohon
bisa-bisa tidak dikabulkan. Air yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai
penyakit itu dipergunakan untuk memandikan si sakit.
Setelah
beberapa informasi yang disajikan, masih ada pertanyaan ? Seperti halnya
Penulis, tanda tanya besar yang masih menggantung adalah : Siapa dan Mengapa
Istana Bata ditimbun ? Apakah Sultan Abdurrasul II sebelum akhirnya memindahkan
pusat Pemerintahan ke lokasi Masjid Agung Baiturrahman ? Cerita yang
beredar, bahwa Istana Bata ditimbun karena Sultan Dompu saat itu Abdurrasul II
tidak sudi menyerahkan Istana Bata untuk dikuasai Belanda.
Misteri ini
hanya bisa diungkap dengan melakukan penggalian terhadap Situs Doro Bata. Namun
hal ini pastinya membutuhkan biaya, tenaga, dan pikiran yang tidak
sedikit.
Apalagi, konon penggalian ini akan berhadapan dengan KUTUKAN WASIAT dari Sang Penimbun, bahwa AKAN ADA MALAPETAKA BESAR BAGI WARGA SEKITAR, JIKA BUKIT DORO BATA DIBONGKAR. Benar atau tidaknya KUTUKAN itu hanya bisa dibuktikan dengan melakukan penggalian.
Apalagi, konon penggalian ini akan berhadapan dengan KUTUKAN WASIAT dari Sang Penimbun, bahwa AKAN ADA MALAPETAKA BESAR BAGI WARGA SEKITAR, JIKA BUKIT DORO BATA DIBONGKAR. Benar atau tidaknya KUTUKAN itu hanya bisa dibuktikan dengan melakukan penggalian.
HARTA
KARUN DOMPU YANG TERPENDAM
SEKTOR
PARIWISATA DI KAB. DOMPU
Potensi wisata di Kabupaten Dompu :
1.
Pantai
Lakey
Pantai Lakey Kecamatan Hu’u adalah salah satu
lokasi berselancar terbaik dunia. Karena kehebatan dan konsistensi ombaknya,
setiap tahunnya pantai Lakey secara reguler dijadikan sebagai tuan rumah dari
kompetisi selancar tingkat dunia. Pantai Lakey – Hu’u terletak kira-kira 5 jam
dari kota Sumbawa Besar dan dari kota Dompu kira-kira memakan waktu 1 jam 45
menit ke arah selatan. Pantai Lakey-Hu’u mempunyai kehebatan 4 jenis ombak
yaitu : Lakey Peak, Cobble Stones, Lakey Pipe dan Periscop. Dan beberapa
kilometer di dekat pantai Lakey anda akan menemukan Spot lain yang tak kalah
hebatnya yang dikenal dengan Periscop, bagian yang paling konsisten dan hebat
dalam berselancar di Lakey yaitu Lakey Peak.
2.
Pulau
Satonda
Pulau Satonda terletak di daerah utara pulau
Sumbawa dikenal juga dengan nama Gunung Satonda, memiliki ketinggian 289 Km
diatas permukaan laut dengan luas wilayah seluas 4,8 Km. Gunung ini memiliki
kawah danau air asin dengan diameter 0,8 Km yang letaknya di tengah-tengah
pulau. Ikan yang hidup di Danau Satonda hanya mencapai ukuran 5 cm dan sampai
saat ini masih misterius kenapa ikan yang ada di dalam Danau Satonda tidak
dapat berkembang dengan bagus.
Pulau Satonda dikelilingi oleh batu karang dan
memiliki ragam ikan hias yang sama jenisnya dengan yang ada di Indonesia.
Inilah keunikan dan keajaiban Pulau Satonda, Pulau Satonda merupakan tempat
yang tersembunyi dengan lautnya yang biru dan gunung berapi yang menjulang
tinggi. Pulau Satonda merupakan tempat yang paling sempurna untuk berenang dan
menyelam sembari menikmati air danau yang tenang. Untuk dapat mencapai Pulau
Satonda anda dapat melalui jalan darat dengan lama perjalanan dari Sumbawa
Besar kira-kira 8 jam dan dari Dompu kira-kira 5 jam dan juga dapat melalui
laut.
3.
Lepadi (Arena
Pacuan Kuda Tradisional).
Lepadi terletak 5 Km di bagian selatan kota
Dompu dan terkenal dengan pacuan kuda tradisionalnya, pacuan kuda dilaksanakan
setiap tahunnya. Uniknya, joki yang menunggang kuda-kuda pacuan ini masih
sangat muda, usia mereka tidak melebihi 8 tahun, tetapi keahlian mereka dalam
mengendalikan dan memacu kudanya tidak perlu diragukan lagi.
4.
Calabai
Merupakan kota kecil penghasil kayu yang
terletak diujung utara semenanjung Gunung Tambora. Gunung Tambora seperti yang
telah diketahui merupakan pusat dari letusan terdahsat yang pernah ada dalam
sejarah, gunung Tambora mendominasi semenanjung utara Pulau Sumbawa, dengan
ketinggian 2.851 meter diatas permukaan laut, berwarna coklat dan diselimuti
oleh hutan lindung yang lebat, suatu perbedaan yang kontras dengan alam
sekitarnya. Untuk mendaki Gunung Tambora yang besar dapat dimulai dari Desa
Pancasila yang terletak di kaki Gunung Tambora.
Pendakian ke Gunung Tambora diperlukan 3 hari 2 malam melalui hutan lindung. Untuk mengurangi resiko selama pendakian, disarankan untuk menyiapkan diri selama pendakian oleh karena banyaknya lintah di dalam hutan lindung.
Pendakian ke Gunung Tambora diperlukan 3 hari 2 malam melalui hutan lindung. Untuk mengurangi resiko selama pendakian, disarankan untuk menyiapkan diri selama pendakian oleh karena banyaknya lintah di dalam hutan lindung.
Kawah Gunung Tambora merupakan salah satu
kawah dengan panorama yang spetakuler yang ada di Indonesia. Perjalanan menuju
Calabai dapat ditempuh dalam waktu 8 jam dari Sumbawa Besar, 5 Jam dari Dompu
dan 6 jam dari Bima.
5.
Situs
Nangasia
Terletak di Kawasan Wisata Lakey. Diperkirakan
4.500 SM Nenek Moyang masyarakat Dompu sudah mempunyai peradaban dan menguasai
teknologi yang cukup tinggi, yang ditandai dengan ditemukannya berbagai
peninggalan dimasa lampau berupa, manik-manik dan keramik. Di Kawasan Situs ini
juga ditemukan Batu Kursi (Wadu Kadera) yaitu batu berupa kursi tempat
penobatan para Ncuhi (Pemimpin), bekas Telapak Kaki Ncuhi dan Kubur Duduk.
Situs ini ditemukan oleh tim Arkeologi Pusat Jakarta dan Denpasar-Bali.
6.
Nanga
Tumpu
Nanga Tumpu terletak di jalur Jalan Raya
Sumbawa – Dompu dengan jarak dari ibukota Kabupaten Dompu 30 Km dengan waktu
tempuh 25 menit. Kawasan ini memiliki berbagai gugusan Pulau-pulau kecil
seperti: Nisa Pu’du, Nisa Rate, Nisa Maja, Nisa Ko’do dengan hamparan pasir
putih yang sangat indah. Kawasan Nanga Tumpu dan sekitarnya sangat cocok untuk
kegiatan berenang, memancing dan menyelam.
Pada saat musim angin selatan dan barat
(sekitar bulan Januari, Pebruari, Maret, Juli dan Agustus) sangat cocok untuk
kegiatan olah raga Wind Surfing, Kite Surfing dan Lomba perahu layar
tradisional. Di tempat ini tersedia fasilitas rumah makan.
7.
Nanga
Doro
Nanga Doro adalah daerah resort pegunungan
tradisional di dekat Hu’u yang terkenal dengan sumber mata air panasnya dimana
suhunya mencapai 80 derajat Celsius. Tempat ini benar-benar merupakan tempat
yang paling sesuai untuk beristirahat dan melemaskan otot-otot yang sakit
setelah sehari penuh berselancar.
8.
Mada
Prama
Terletak hanya sekitar 4 Km dari kota Dompu,
wilayah hutan lindung ini merupakan rumah para marga satwa dan flora lainnya.
Mada prama juga memiliki kolam renang dengan pemandangan yang indah.
9.
Pantai
Ria
Terletak di wilayah pantai sebelah Barat Teluk
Cempi yang indah. Pantai Ria yang alami dengan pasir putihnya yang lembut
merupakan salah satu wilayah terpencil di Sumbawa Tengah dengan keindahannya
yang agung, tempat dimana anda bisa melarikan diri dari rutinitas yang
melelahkan dan bersantai bersama keluarga.
DAFTAR RUJUKAN
Soeryanto, Agoes H.R.M. 2013, Sejarah Kabupaten Dompu.
Kabupaten Dompu.Smart Writing.
Van Niel, Robert. 2003. Sistem Tanam Paksa Di Jawa. LP3ES
Djoened Marwati dan Nugroho Notosusanto.1993. Sejarah
NasionalIndonesia
IV. Jakarta
: Balai Pustaka
AdamWarman Asvi. 2009. Pelurusan Sejarah Indonesia (edisi
2009). Jogyakarta:Ombak
Kusuma dan Agustina. 2003.Perlawanan merupakan bentuk dari
pernyataan sikap yangdilakukan oleh masyarakat.Jakarta:
GramediaPustaka.
Nugroho Dwi Midi.
2011. Konflik Indonesia Belanda Dan
perjuangan bersenjata Mempertahankan
kemerdekaan.
Jakarta:
KencanaPrenada MediaGroup.
M. El. Hayyat Ong.
2007. Dompu Yang Kecil Mungil. Dompu;
Perc.
Studi Budaya.
Badan Pusat
Statistik. 2014. Letak Geografis
Kabupaten Dompu.
Dompu; BPS Dompu
Muslimin
Hamzah, 2008. Laksana Awan, Kisah Perjuangan M.
Salahuddin. Bima: Pemkab Bima.
Fahrurizki, Drama penculikan para pejabat belanda di Raba,
mbojoklopedia. Com
Anonim, Perang Manggelewa,
ompuworo.blogspot. com
Riwayat
Penulis
Bachrizal Bakhtiar D., S. Pd.dilahirkan di Ling. Renda, Kelurahan Simpasai,
Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Provinsi NTB pada tahun 1990, anak pertama
dari 6 bersaudara dari pasangan AbdulRajak bin. M. Nor dan Ibu Faridah bin. H.
Husen. SetamatSDN No. 2 Woja (2001) masuk SMP hingga tamat tahun 2006, kemudian
melanjutkan ke SMA dan tamat tahun 2010. Semuanya diikuti di
kabupaten
Dompu NTB.
Sejak tahun 2010 mulai mendaftarkan diri di salah satu
Perguruan Tinggi di Kabupaten Dompu, yaitu STKIP Yapis Dompu dengan prodi
pendidikan sejarah dan mendapatkan gelar sarjana
pada tahun 2016. pada masa kuliah penulis aktif diberbagai organisasi
Kemahasiswaan diantaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Forum
Komunikasi Unit Sejarah (FOKUS), Lembaga Pers Mahasiswa Al-amin (LEPMA Al-amin),
Kumpulan mahasiswa Pecinta Alam (KUMPA) serta KNPI PK.Woja
Dalam
organisasi pernah menjabat sebagai Sekertaris Umum PC.PMII masa khidmat
2014-2015, Ketua Umum FOKUS 2011-2013, Wartawan Lembaga Pers Al-Amin, Pelopor
Kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam serta mengikuti berbagai pelatihan, diantaranya
Pelatihan Kader Dasar (Dompu), Pelatihan Kader Lanjut (Lombok Tengah), Training
Publik Speaking (Al-Amin), dan lain sebagainya.
Buku Hitam
Putih Dompu Tercinta merupakan buka cetakan kedua dari Arah Gerakan Mahasiswa Yang Ideal yang dibuat pada tahun 2015.
Comments