Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
"Makan Untuk Hidup, Hidup Untuk Makan"
(Bachrizal Bakhtiar)
Manusia adalah mahluk sosial yang diliputi dengan berbagai aktifitas setiap hari, mulai dari belajar, kerja sampai pada beribadah, hal ini dilakukan sebagai sebuah wujud kalau kita hidup dimuka bumi yang fana ini, setiap dan semua orang berbondong-bondong melakukan tugas hidupnya masing sesuai dengan akal sehatnya. semua aktifitas dapat dilakukan jikalau tubuh memiliki suplemen tenaga yang dilakukan dengan mengkonsumsi makanan. hal ini dilakukan untuk memberikan tenaga agar manusia tetap fit dan semangat dalam menjalankan aktifitas nya. makan pula termaksud sebuah aktifitas yang wajib dilakukan agar tetap hidup, tentu dengan pola makan yang sesuai dengan keinginan masing-masing manusia.
(Foto: Fakultas Of Human Developmen UPSI Malaysia)
ideal jadwal pola makan mulai dari sarapan pagi, siang sampai pada makan malam, karena di waktu-waktu demikian tubuh manusia membutuhkan tambahan tenaga. dengan hal ini timbul sebuah pertanyaan pada diri kita, kita makan untuk hidup atau hidup untuk makan.?, Pertanyaan tersebut sesaat terbesit dalam pikiran saya ketika saya melihat sebuah tayangan dokumenter di sebuah channel terkenal berlogo bingkai kuning. Saat itu saya meilhat dua ekor singa yang berebut daging yang tengah dikerumuni lalat dan burung bangkai dengan lanskap daerah padang savanna di Afrika, namun saya lupa dimana tempat persisnya. Bagi anda yang sering menonton sebuah film dokumenter tentu sudah tidak asing lagi kalau dalam kerajaan singa yang berburu dan mencari makan adalah para betina, bukan pejantan. Para pejantan hanya menunggu kawanan betina berburu dan menyediakan daging kepada pejantan selayaknya istri yang memasak makan malam untuk suaminya. Namun yang menjadi pertanyaan saya bukanlah apakah dagingnya enak atau tidak, bukan itu. Tapi apakah perbedaan mendasar yang membedakan manusia dan hewan sebenarnya?
Pertanyaan tersebut menimbulkan tanda tanya besar bagi saya. Meskipun orangtua, guru, dan teman-teman saya memberi tahu saya bahwa perbedaan manusia dan hewan adalah akal. Menurut mereka akal tidak dimiliki oleh hewan. Ya, benar. Akal adalah salah satu hal yang dapat dijadikan tolak ukur apakah kita berbeda dengan hewan atau tidak. Setelah melalui perenungan panjang di ruang tamu sembari menunggu hujan deras reda, saya mencoba melakukan riset kecil-kecilan terhadap perilaku hewan. Hal yang kemudian saya temukan cukup mengejutkan adalah ternyata mereka memiliki akal, meskipun memang tidak semua hewan. Namun beberapa hewan dapat berfikir dan memecahkan permasalahan yang kompleks selayaknya manusia biasa.
Hewan pertama yang memiliki akal adalah burung gagak. Menurut pengamatan seorang pengamat dunia perhewanan (saya kurang tau istilahnya peneliti atau ilmuwan hehehe) Reuven Yosef dari International Birding and Research Center, seekor burung gagak dapat bekerja sama tim seperti halnya permainan sepak bola, namun kerjasama tim yang saya maksud adalah dalam hal berburu mangsa. Reuven Yosef mencoba mengamati kegiatan berburu seekor gagak yang mengepung seekor kadal. Sekumpulan burung gagak yang kelaparan menunggu kadal untuk keluar dari tempat perlindungannya.
Setelah menunggu beberapa saat kadal kemudian keluar dari tempat persembunyian untuk mencari mangsa. Sungguh malang nasib si kadal ketika ia akan kembali ke tempat persembunyiannya, dua ekor gagak sudah menghalangi jalan masuk ke tempat perlindungannya, dan disaat yang sama burung gagak yang lain langsung melakukan pengepungan dan menyerang si kadal hingga mati. Kedua burung gagak penjaga jalan masuk tadi baru bergabung untuk makan setelah kadal benar-benar mati. Kemampuan burung gagak untuk melakukan koordinasi yang terstruktur dan kemampuan gagak untuk membaca pikiran kawanannya dan mangsanya adalah salah satu manifestasi dari pikiran yang logis bagi seekor burung.
Selain itu, keajaiban kemampuan berpikir burung gagak juga tercatat dalam kitab suci Al-Qur'an tepatnya di surat Al-Maidah ayat 31. Ayat tersebut menceritakan kisah tentang pertikaian anak-anak Adam antara Qabil dan Habil yang kemudian menyebabkan meninggalnya Habil. "Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di Bumi untuk memperlihakan kepadanya(Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil, 'Aduhai celaka aku, mengapa aku tak mampu berbuat seperti burung gagak ini, laIu aku dapat menguburkan rnayat saudaraku ini?' Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal". Dari ayat tersebut tersimpan sebuah pesan tersirat bahwa burung gagak adalah hewan yang memiliki akal, terlihat dari cara gagak tersebut menguburkan gagak yang mati.
Selain burung gagak, terdapat hewan cerdas lain yaitu Simpanse. Dalam sebuah buku yang berjudul "Are We Smart Enough to Know How Smart Animals Are?" karangan Frans de Waal seorang ilmuwan dari Emory University mengatakan bahwa simpanse mampu mengingat serangkaian angka yang ditampilkan dalam waktu sepersekian detik saja.
Mereka juga hewan yang bersifat problem solver karena memiliki kemampuan untuk menganalisa permasalahan dan memecahkannya. Simpanse juga diketahui dapat menggunakan peralatan seperti batu dan kayu dalam mencari makan, cukup berbeda dengan hewan lain dan hampir mirip seperti pola pikir manusia yaitu berpikir logis, efektif dan efisien.
Setelah saya mengetahui bahwa hewan memiliki akal saya semakin penasaran apasih sebenarnya yang membedakan manusia dengan hewan?
Manusia dan hewan sejatinya adalah sama-sama makhluk hidup ciptaan Tuhan yang diciptakan di Bumi. Tetapi apakah kegiatan manusia dan hewan adalah makan untuk hidup? atau hidup untuk makan?
Apabila saya lihat secara sederhana, setiap hewan yang hidup kerjanya hanya untuk mencari makan dan kawin saja. Sehingga kesimpulan pendek yang terlintas dalam benak saya adalah hewan hidup untuk makan. Apa yang saya maksud hidup untuk makan? Hidup untuk makan apabila diartikan secara harafiah maka makhluk hidup terlahir hanya untuk makan saja tanpa ada arti lain.
Hewan lahir untuk mencari makan dan menjalani kehidupannya seperti itu-itu saja yaitu hanya makan, tidur, kawin dan siklus kehidupannya akan berputar terus seperti itu. Berbeda dengan kita, manusia. Lho apa bedanya? Kan manusia juga sama sama makan, tidur, dan kawin?
Memang benar ketiga hal yang saya sebutkan juga dilakukan oleh manusia, namun manusia melakukan kegiatan tersebut adalah secara naluriah dan alamiah (dari sananya sudah begitu). Ketiga hal tersebut bukanlah tujuan utama manusia hidup di muka bumi. Manusia memiliki agama sebagai pedoman hidup dan petunjuk untuk berkehidupan yang baik dan bermanfaat bagi sesamanya. Contohnya, ketika akan melakukan sebuah perkawinan, maka sepasang manusia akan melakukan sebuah upacara baik secara adat maupun agama agar perkawinannya halal, pantas, dan beradab. Berbeda dengan hewan, kalau mau kawin ya kawin saja tak perlu pedulikan lingkungan sekitarnya seperti apa.
Perbedaan lain yang ada pada manusia dan hewan adalah adanya Nurani. Nurani berasal dari hati yang tidak dimiliki oleh hewan. Menurut saya, manusia hidup agar bisa bermanfaat untuk manusia yang lain dan berbagi kebaikan antar sesama manusia. Hati nurani dapat bertindak sebagai pemandu dalam pengambilan keputusan dari segi moral. Arti kehidupan anda ditentukan dari bagaimana hidup yang anda jalani, apakah anda menjalani hidup hanya untuk diri anda sendiri? atau apakah anda hidup hanya untuk sekedar menghirup nafas di bumi dan mati tanpa meninggalkan manfaat bagi makhluk hidup lain? nurani yang baik lah yang dapat membedakan apakah seseorang layak disebut sebagai makhluk yang makan untuk hidup atau hidup untuk makan.
Semua itu ditentukan dari niat yang muncul dari nurani anda masing-masing. Saya rasa hal tersebutlah yang membedakan kita dengan hewan, yaitu memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Perbedaan itulah yang menjadikan manusia berbeda dengan hewan, manusia lahir di bumi yaitu makan untuk hidup.
Sekarang semua kembali lagi kepada kita manusia, apakah kita akan hidup untuk makan? atau makan untuk hidup?

Comments