Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
Suka, duka, Harapan "bersama sepanjang jalan"
Layaknya lilin di tengah gulita, menyiramkan cahaya dalam kegelapan, Seperti mentari di pagi buta, menghantarkan sinar kehangatan, mengusir kebekuan
Bagaikan bintang yang mewarnai malam, yang tak membiarkan rembulan mengangkasa tanpa teman, membawa keceriaan dan kesetiaan
Bersamamu,, Melalui hari-hari yang penuh liku,
Bergenggaman erat menepis gundah dan nestapa, Berbagi kisah…
Tentang cita-cita namun, bukanlah angan belaka,
Tentang cinta yang membuncah, namun tertahan di dalam jiwa,
Tentang harapan yang hendak digapai di masa datang, tentang kegagalan yang hampir meremukkan keyakinan
Sahabat…
Kita bersama dalam suka maupun duka,
Saling mengingatkan di tengah canda, Aku berharap dan berdoa…
Kita kan terus melangkah bersama
Menggapai ridho dan cinta-Nya,
Meski waktu membentang di antara kita, tak kubiarkan meluluhkan benang kasih yang telah tercipta
Sahabat…
Terima kasih untuk segalanya, Dan biarkanlah kisah kita terus terangkai Kini, esok, hingga masa depan. Aku bangga dapati Dirimu seadanya
Kupikir, pantaslah dirimu kutemani. Aku bahagia, Sungguh ingin terurai Kata.

Comments