Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
"Visi Misi Yang Dilampirkan Dengan Uang" "Bachrizal Bakhtiar" M enjerit sih miskin ditengah kriris ekonomi menimpa raga yang tidak kuat untuk bangkit lagi, visi dan misi terlontar ringan saat momen politik, musim politik kini telah menanti, tiada hari menyampaikan visi misi, sebagai simbol ambisi ingin menjadi pemimpin, tebar janji akan memiliki kebijakan yang baik, mensejahterahkan masyarakat kecil, sebuah janji yang tidak mengherankan di momentnya. dibalik visi misi terdapat sih miskin berharap semua terwujud dikemudian hari, terkadang bergabung menyukseskan visi misi calon pemimpin, yang pada akhirnya tidak dihiraukan lagi ketika jadi, bahkan tidak jarang dilupakan dengan segudang pengalaman pahit dalam momen kampanye,,hahahaha (tertawa sejenak), memang lucu, namun rasanya sedih, dibalik visi dan misi yang manis mengandung unsur yang sangat miris untuk sih miskin, berharap semua janji manis akan terwujud manis pula, namun semua tidak sesuai dengan ...