Skip to main content

Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa

 Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...

Pejuang Ilmu "15 orang pemuda Bima-Dompu" Di Negeri Jiran

Pejuang Ilmu "15 orang pemuda Bima-Dompu" Di Negeri Jiran
(Cerita Kebersamaan dan Study Yang Ditekuni Oleh Mahasiswa Master Asal Bima-Dompu)


Tepat dengan adanya program NTB Gemilang dengan program mengirim mahasiswa NTB untuk study diluar negeri, menjadi sebuah awal dari cerita pertemuan 15 orang pemuda asal Bima-Dompu ini, sebuah kebanggaan tersendiri bagi setiap pemuda jikalau diberikan kesempatan melanjutkan study di luar negeri, hal ini sama seperti apa yang dirasakan oleh penerima beasiswa tersebut. 15 orang pemuda ini diberikan kesempatan untuk lanjut study master di salah satu universitas pendidikan No.1 di malaysia, yaitu di Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI), kesempatan emas ini bukan hanya 15 orang saja, melainkan hampir ratusan pemuda asal daerah lainya di NTB berkesempatan lanjut study di malaysia, dengan kampus yang berbeda-beda.

dalam tulisan ini hanya berfokus pada perjalanan yang di lewati oleh 15 orang yang menjadi  pertama dilakukanya MoU di UPSI sebelum jalur beasiswa aktivis dibuka oleh Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB. pertemuan ke 15 orang ini diawali pada saat proses pendanftaran ke kampus UPSI secara online yang dilakukan bersama di museum Asi Mbojo, pada awal pertemuan hanya senyum-senyum simpul yang menjadi tanda komunikasi awal, namun seiring cairnya suasana pendaftaran online dilakukan, lahirlah suasana saling tanya jawab mengenai latarbelakang masing-masing, lewat momentum itu, mengundang komitmen agar senantiasa selalu bersama dalam hal apapun yang akan dihadapi nanti di kampus tujuan, yaitu di UPSI.

hari demi hari, kebersamaan terus terjalin sebelum keberangkatan, sehingga tibalah waktu kami dilepas secara resmi oleh gubernur NTB untuk siap diberangkatkan di Malaysia, tepat pada tanggal 6 Oktober kami diberangkatkan di Bandara Internasional Lombok di Mataram dan mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur malaysia, sesampai di bandara, tidak terduga kami sudah di tunggu oleh salah satu Dosen yang mengajar di UPSI yang berasal dari lombok berserta para senior dari Persatuan Pelajar Indonesia di UPSI, singkat cerita kami pun turun di rumah sewa yang telah disediakan sebelumnya, dengan posisi jarak rumah cukup berdekatan dengan kampus UPSI. para wanita tinggal dengan tempat yang berbeda dengan yang laki-laki, bisa dibilang laki-laki terganteng stok terakhirlah, hehehe...oyah,,lupa diceritakan, kami diberangkatkan bukan hanya 15 orang saja, melainkan kami yang melanjutkan study di kampus UPSI dengan jumlah 55 mahasiswa dengan daerah yang berbeda-beda, ada yang dari Lombok, Sumbawa, Dompu dan Bima. dari jumlah mahasiswa yang ada, dipisahkan dengan 3 rumah sewa yang berbeda, 2 rumah untuk para laki-laki dan 1 rumah untuk wanita.

kembali dengan kisah kebersamaan ke 15 mahasiswa yang menjadi gelombang pertama yang menerima beasiswa, kebersamaan terus terjalin, setiap pekan bahkan setiap hari senantiasa berjumpa dalam mengerjakan tugasan, berdiskusi dan canda tawa bersama untuk melepas penat perkuliahan yang digeluti. dari ke 15 orang pemuda asal Bima dan Dompu. inilah wajah terganteng dan tercantik stok terakhir dari ke 15 orang tersebut,

Bachrizal Bakhtiar D.
Fakulty Human Of Developmen
Master (Education Evaluation)

Tedy Hartadi
Fakulty Art, Computing and Creative Industry
Master (Information Technology)

Juryatina
Fakulty Human Of Developmen
Master ( Of Primary School Education)


Tri Handayani
Fakulty Sains and Matematik
Master (Biologi)

Abha Gilang/Burhannudin
Fakulty Art, Computing and Creative Industry
Master (Multimedia)


M. Anis Fuadin
Fakulty of sains and Mathematics
Master (Physics Education)

Nurul Uyun
 Faculty of Human and Development
Master (Primary School Education)


Ice Puspitasari
Fakulty of sains and Mathematics
Master (Physics Education)


Mahdin
Fakulty Human Of Developmen
Master (Education Evaluation)

Usnatul Fitriah
Fakulty Art, Computing and Creative Industry
Master (Information Technology)


Sintya Kurniati
Fakulty Art, Computing and Creative Industry
Master (Information Technology)


Isbah
Fakulty Human Of Developmen
Master (Kurikulum)

Firdaus
Fakulty Sport Sains And Coaching
Master (Sport Sains)

Ruwaidah
Faculty of Human and Development
Master (Primary School Education)


Muhaimin
Faculty of Human and Development
Master (Sosiologi)

sesuai dengan pepatah menyatakan "langkah pertama menentukan langkah selanjutnya", semoga dengan langkah pertama dalam menekuni bidang studi masing-masing, dapat membawa perubahan yang baik untuk diri pemuda asal Bima-Dompu, terutama dapat bermanfaat untuk daerah masing-masing, selain dari pada itu, kehadiran mahasiswa asal NTB yang lanjut studi, teruma pemuda asal Bima-Dompu dapat mengharumkan nama baik bangsa dan negara di Malaysia, dengan segudang prestasi dan loyalitas tinggi dalam belajar. 

ini adalah secuil pengenalan kisah dari kami, yang baru sejenak menginjakan kaki dinegeri jiran, selanjutnya akan kami tuangkan segudang cerita suka dan duka dalam helai lembaran kertas.  









.

Comments

Popular posts from this blog

Pariwisata Dompu: 1,8 Miliar!!

 Pariwisata Dompu: 1,8 Miliar Dompu punya rencana. Bagian dari Misi 4: "Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal". Salah satu lokomotifnya: Pariwisata. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang memegang kemudi. Strateginya sudah dirumuskan. Ada promosi. Ada penataan destinasi. Ada pembangunan sarana-prasarana. Juga pemberdayaan masyarakat. Dan pengembangan event. Semua kata-kata standar dalam rencana pariwisata. Sekarang, mari kita lihat harganya. Berapa uang yang disiapkan Dompu di salah satu tahun (2027) untuk "menjual" tampangnya? Total Pagu Indikatif untuk Urusan Pariwisata: Rp 1.827.000.000,00. Satu koma delapan miliar rupiah. Tidak besar. Tidak juga kecil sekali. Uang ini dibagi menjadi tiga program utama. Program pertama, yang paling gemuk: "Peningkatan Daya Tarik Destinasi Pariwisata". Anggarannya: Rp 1.015.000.000. Lebih dari separuh total kue. Tujuannya: "Meningkatnya kunjungan wisata". Indikatornya jelas: "Persentase Per...

Kertas Anggaran pendidikan, kepemudaan dan olahraga Dompu 2026

 Kertas Anggaran Pendidikan dan Olahraga 2026 Mari kita lihat angka. Selalu menarik melihat angka-angka dalam dokumen rencana. Kali ini kita bedah Rancangan Anggaran Dompu untuk tahun 2026. Fokusnya: Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Di atas kertas, angkanya gemuk. Dinas ini mendapat jatah Rp 407 Miliar. Tepatnya Rp 407.067.841.174. Berapa itu dari total kue APBD? Total belanja daerah Dompu tahun 2026 diproyeksikan Rp 1.476.721.048.949. Kalau dihitung-hitung, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menyedot 27,57 persen. Lebih dari seperempat kue APBD. Angka yang besar. Sangat besar. Kesan pertama: Dompu sangat memprioritaskan pendidikan. Sesuai mandat konstitusi. Tapi, mari kita lihat isi di dalam Rp 407 Miliar itu. Anggaran dinas ini dibagi dua urusan besar: Pendidikan, lalu Kepemudaan dan Olahraga. Urusan Pendidikan dapat porsi terbesar. Tapi di dalamnya, ada satu program yang menyedot hampir semuanya. Namanya: "Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah". Besarnya: Rp ...

Berutang Demi Air, Bertaruh pada Cahaya.!!

Berutang Demi Air, Bertaruh pada Cahaya.  Utang..!! Satu kata. Lima huruf. Bagi sebagian orang, ini aib. Bagi Bupati Dompu, ini jalan keluar. Dia memilih jalan ini. Menggadaikan masa depan --dalam hitungan tenor pendek-- demi air yang menetes.  Rencananya sederhana. Meminjam uang. Bukan ke rentenir. Tapi ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Alasannya klise tapi genting: PDAM sedang "Sakit". Lampu jalan mati. Bupati tidak sedang bermain dadu. Dia sedang bertaruh reputas. Ini langkah politik yang berisiko. Bunuh diri? Mungkin. Heroik? Bisa jadi. Tergantung airnya mengalir atau tidak. Mari bicara angka Rp70 Miliar. Itu angka tentatif yang diajukan. Tidak kecil untuk ukuran APBD Dompu yang harus dibagi-bagi. Skemanya pinjaman daerah. Krediturnya PT SMI --BUMN di bawah Kemenkeu yang memang "bank-nya" infrastruktur pemerintah. Realisasinya direncanakan tahun 2026. Kondisi objektifnya memang memprihatinkan. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) punya rapor un...