Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
BINTARA "Bersama Impian Tiada Tara"
"Bachrizal Bakhtiar,"
BINTARA "Nama Tempat" adalah sebuah tempat yang sangat nyaman bagi para pejuang pendidikan di salah satu perguruan tinggi di tanjung malim, Malaysia, tempat yang nyaman, ramai serta sarana pendukung yang mengundang segudang ketertarikan tersendiri bagi beberapa mahasiswa yang tercentol nyaman di Bintara. rumput hijau buatan, AC mengundang sejuk, Wifi mengundang semangat mahasiswa mencari referensi belajar, menjadi sebuah nilai tambah bagi gedung yang ramai dikunjungi.
Bintara menjadi salah satu sarana pendidikan yang disediakan oleh Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) di Malaysia, karena tidak bisa dipungkiri, sarana dalam pendidikan menjadi sebuah hal yang penting untuk disediakan, sebab akan menjadi suatu hal yang mendukung dalam meningkatkan mutu pendidikan. dengan sarana yang disediakan, diharapkan mahasiswa mengfungsikan sarana pendidikan dengan baik. dan hal ini tersebukti diterapkan oleh mahasiswa UPSI, baik yang menempung jenjang strata 1,2 bahkan 3 kerap kali dijumpai di gedung Bintara.
Bintara bukanlah sebuah tempat yang begitu mewah dengan segala bentuk fasilitas yang ada, namun mahasiswa cenderung nyaman belajar dan mengerjakan tugas di Bintara ketimbang ke perpustakaan. entah kenapa bisa demikian, namun jikalau diperhatikan sejenak, Bintara bukanlah sebuah tempat yang mengandung unsur aturan yang ketat untuk mahasiswa dalam berekspresi dalam belajar, jikalau dibandingkan dengan perpustakaan, mahasiswa lebih bermonoton terpaku pada kursi duduk dengan tidak bersuara, sedangkan di Bintara, mahasiswa bebas berekspresi dalam belajar, terbaring, duduk, bersuara atau apapun itu tidak menjadi sebuah masalah, asal masih dalam etika yang wajar.
inilah yang menjadi sebuah kelebihan tersendiri bagi gedung yang dipenuhi dengan payung yang bergantungan diatas atap "ciri khas" Bintara. lebih-lebih menjelang moment semesteran, Bintara di banjiri dengan manusia-manusia yang sadar akan pentingya sebuah pendidikan. tepat pada momentum menjelang Ujian semester, terdapat beberapa rombongan mahasiswa Asal Bima dan Dompu, NTB, nampak kompak "duduk melingkar" dalam mengejarkan tugas serta membaca hal-hal mengenai subjek yang akan diujikan. selain itu banyak pula mahasiswa-mahasiswa lain berada disekitar, bahkan Bintara penuh dengan mahasiswa-mahasiwa dengan ekspresi yang serius dalam belajar, karena dengan belajar, mereka berharap akan dapat mewujudkan semua impian dikemudian hari nantinya.
tidak bisa dipungkiri, banyak mahasiswa yang kerapkali rajin belajar di Bintara sukses dalam mewujudkan impianya, hal ini menandakan Bintara bukanlah sebuah gedung biasa, atau bahkan bukan hanya sekedar namanya saja Bintara, melainkan sebuah spirit tersendiri bagi mahasiswa dalam mewujudkan impinya, dan ada salah satu mahasiswa menyebutkan, bahwa BINTARA adalah singkatan dari "Bersama Impian Tiada Tara".


Comments