Negara Kenyang, Otak Disuruh Puasa Pemerintah akhirnya mengambil keputusan berani dan visioner: mengutamakan petugas SPPG menjadi PPPK, sementara guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi dipersilakan melanjutkan pengabdian—dengan status tidak jelas, gaji seadanya, dan doa sebagai tunjangan utama. Logikanya sederhana dan sangat membumi: perut tidak bisa menunggu, otak bisa ditunda. Guru honorer telah bertahun-tahun mendidik generasi, mengajar di ruang kelas bocor, membeli spidol dari uang sendiri, dan tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan ongkos hidup. Tapi semua itu kalah penting dibanding memastikan nasi tidak terlambat datang. Karena nasi bisa basi, sementara ilmu—menurut negara—bisa disimpan entah sampai kapan. Dalam paradigma baru ini, mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya sudah direvisi. Kini cukup mengenyangkan kehidupan bangsa. Soal cerdas, kritis, dan berakal sehat dianggap bonus opsional. Bahkan mungkin berbahaya, karena orang berakal cenderung bertanya dan...
TULISAN RINDU UNTUK KAKEK
" Nur Muhamad Aminullah"
Kakek, air mataku ini sebagai salam pembuka rinduku padamu yang tak terbendung lagi. Kini aku hanya bisa membayangkan senyum mu yang selalu menawan kala itu walau tanpa gigi. Ingin sekali rasanya merasakan kembali hangatnya pelukan tubuh kekarmu itu. Sungguh aku masih ingat betul pelukan mu yang terakhir kalinya kepadaku. Saat itu aku baru saja cukur rambut seperti halnya anak laki-laki lainnya. Dan kau yang selalu mengendong ku dikala aku menangis.
Kini hampir empat tahun sudah kau meninggalkan ku, juga kami sekeluarga. Kau pergi jauh memenuhi takdir Tuhan yang mau tidak mau mesti kau penuhi. Saat itu rasanya aku ingin sekali marah kepada Tuhan yang telah memisahkan kita kepada dimensi yang berbeda. Hingga aku tak lagi bisa mendengar suara emas mu saat menimang-nimang aku dikala bayi. Tapi aku pun tersadar, keputusan Tuhan adalah yang terbaik bagimu. Egoku untuk terus bisa bersamamu adalah mustahil. Karena sesungguhnya semua makhluk hidup pasti dibatasi oleh waktu dan takdir-Nya.
Kakek, apa kabar? Seiring bunga-bunga di batu nisanmu yang bersemi indah, kini aku telah tumbuh dewasa Kek. Tidak lagi penakut. Tidak lagi lemah. Tidak pula cengeng. Karena aku selalu ingat pesan kakek kalau jadi anak laki-laki itu mesti kuat, jangan cepat loyo. Mesti gagah berani seperti Gathutkaca. Mesti tegar agar bisa mengayomi sesama. Dan lihatlah sekarang Kek, cucumu ini telah berusaha sekuat tenaga menjadi lelaki yang kau impikan kala itu. Walau aku tak bisa seperti dirimu.
Bagiku kau sosok kakek yang tangguh dan pekerja keras. Kau juga seorang bapak pengayom keluargamu yang tulus mengabdi tanpa pamrih hingga akhir ajalmu. Dan yang membuatku begitu mengagumimu adalah kesederhanaanmu yang amat sangat hingga membuat kau tidak pernah mau memakai pakaian yang amat rapi jikalau keluar rumah.
Aku sungguh berharap kini kakek telah bahagia di surga-Nya. Tinggal di istana bersama para bidadari hingga kiamat tiba. Aku akan selalu berdoa agar Tuhan dan para malaikat-Nya menempatkan kakek di tempat yang mulia. Seperti kemuliaan sikap dan perilaku kakek selama hidup di dunia ini. Bagiku, kakek pantas mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya. Juga di hatiku dan hati kami semua.
Kek, melalui tulisan rinduku ini aku ingin sekali mengucap terima kasih yang amat mendalam kepadamu. Yang dulu belum sempat terucap lewat bibir polosku ini. Walau kini engkau dan aku telah dipisahkan oleh alam yang berbeda, namun aku sungguh berharap malaikat akan menyampaikan tulisan rinduku ini kepadamu. Kek, maafkan aku yang belum sempat membalas segala budi dan jasa-jasamu. Kau pergi terlalu cepat sebelum aku mampu berbakti kepadamu. Sekali lagi terimakasih kakek…rinduku kepadamu.
Comments